Tokoh

Orang NU Gila Itu Dokter Fahmi D. Saifuddin

Selasa, 7 April 2026 | 19:02 WIB

Orang NU Gila Itu Dokter Fahmi D. Saifuddin

Dr. Fahmi D. Saifuddin (Foto: NU Online)

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memiliki anekdot masyhur tentang klasifikasi kecintaan seseorang terhadap NU. Menurut Gus Dur, orang yang memikirkan NU dari pagi hingga sore (pukul 06.00–18.00) dikategorikan sebagai cinta NU.


Lalu, jika ada orang yang memikirkannya hingga pukul 24.00, ia bisa disebut "gila NU". Namun, jika lebih dari itu, Gus Dur punya istilah sendiri. Dalam esai berjudul Fahmi D. Saifuddin dan Keterikatannya pada NU, ia menulis:


"Kalau memikirkan NU sebelum jam 12 malam, itu tandanya orang gila organisasi. Tapi kalau memikirkan NU lewat jam 12 malam, itu tandanya orang NU gila."


Sosok "orang NU gila" yang dimaksud Gus Dur adalah H. Fahmi Dja’far Saifuddin. Alasannya? Suatu hari, Fahmi mengajak Gus Dur menghadiri acara NU di Tanjung Priok tepat pukul 01.00 dini hari. Dan itu bukanlah satu-satunya momen saat Fahmi menunjukkan "kegilaannya" dalam berkhidmah untuk NU.


Karakter NU gila dan juga begitu besar keterikatan Fahmi pada NU tersebut, lanjut Gus Dur, kemungkinan disebabkan oleh latar belakang keluarga dan pendidikannya di pesantren. Ayahnya, KH Saifuddin Zuhri adalah tokoh NU yang pernah menjadi menteri agama, dan hampir seluruh hidupnya didarmabaktikan kepada NU. Tokoh seperti itulah yang senantiasa menganggap kepentingan negara sebagai kepentingan NU, dan begitu sebaliknya.


Hilang dalam Pengungsian
Fahmi merupakan putra pertama dari 10 bersaudara. Ayahnya KH Saifuddin Zuhri dan ibunya bernama Nyai Hj Siti Solichah, keduanya merupakan tokoh NU dan Muslimat NU dari wilayah Jawa Tengah. Tokoh kelahiran Baledono, Krajan, Purworejo pada tanggal 18 Oktober 1942 tersebut sejak kecil ikut mengalami masa sulit pada masa pendudukan bala tentara Jepang hingga kedatangan kembali tentara Belanda pasca-kemerdekaan Republik Indonesia.


Bahkan, pernah suatu ketika, ketika keluarga Kiai Saifuddin Zuhri melakukan upaya pengungsian dari Desa Baledono menuju ke Karangjati, karena serbuan tentara Belanda dan sekutu pada saat peristiwa Agresi Militer II (Desember 1948), Fahmi sempat dikabarkan ketriwal atau terlepas dari kelompok para pengungsi.


"Tiba-tiba datanglah seorang Hizbullah bernama Amir dari Desa Ngemplak dengan menuntun Fahmi, anakku yang ketriwal hampir hilang itu. Ia diketemukan Amir di tengah arus para pengungsi yang hendak menuju Yogya," (KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, [Yogyakarta, LKiS: 2013], hal. 470).


Pada tahun 1951, keluarga Kiai Saifuddin pindah ke Semarang. Fahmi yang kala itu berusia hampir sembilan tahun masuk ke Pesantren Kaliwungu Kendal dan sekolah di MI Nahdlatul Ulama Pengukuran Semarang.


Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan di SMP Institut Indonesia di Semarang dan SMP Perguruan Taman Siswa Gading Yogyakarta. Pada saat di Yogyakarta, Fahmi juga nyantri di Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Pada tahun 1959, ia hijrah ke Jakarta, dan melanjutkan pendidikan di SMA Sumbangsih Setiabudi Jakarta Pusat.


Tahun 1962, ia masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sembari kuliah, ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan didapuk menjadi Ketua PC DKI Jakarta yang pertama. Pada masa kepengurusan Zamroni (1967-1970), Fahmi ikut mendampingi Zamroni sebagai Sekretaris Umum PP PMII. Ia juga banyak terlibat dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). (Nukhbah dkk, Fragmen Seperempat Abad PMII, [Surakarta, DSC PMII Surakarta: 1985], hal. 50)


Ketika Fahmi kemudian menjadi salah satu tokoh di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), ia dianggap memiliki kapasitas sebagai penghubung antara generasi tua dan muda. Pun dalam kapasitasnya sebagai seorang dokter, ia manfaatkan untuk membantu perjuangan generasi muda NU.


Selama beberapa tahun, ketika Fahmi membuka praktik dokternya di Jalan Pramuka Jakarta, kerap didatangi anak-anak PMII. Kalau si pasien itu anak-anak PMII, maka Fahmi pasti tidak mau dibayar. Bahkan, seperti yang diceritakan Ketua PP IPNU 1963-1970, H Asnawi Latief, Fahmi terkadang menyumbang mereka untuk membeli obat, uang jalan, maupun bantuan untuk kegiatan PMII. (Lukman Hakim Saifuddin (ed.), Op. Cit., 147-148)


Lakpesdam dan Bulkonah
Sebagai tokoh NU, ia pernah menjadi Ketua PBNU selama tiga periode (1984-1989, 1989-1994, dan 1994-1999). Ketiga periode tersebut di bawah kepemimpinan Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU. Periode ini sekaligus menandai transformasi kultural NU, yang sebelumnya sempat menjadi partai politik kemudian kembali ke Khittah 1926 sebagai organisasi sosial keagamaan. 


Fahmi, bersama dengan Gus Dur, dan tokoh-tokoh muda NU lainnya saat itu, masuk dalam Majelis 24 yang kemudian dilanjutkan dengan pembentukan Tim Tujuh yang memiliki tugas untuk merumuskan aneka usulan “Pemulihan Khittah” dalam bentuk tulisan. Selama kurang lebih tujuh bulan bekerja, Tim 7 berhasil memformulasikan lebih konkrit gagasan pemulihan Khittah NU 1926.


Gerakan anak muda NU ini terus bergulir, dan memperoleh penerimaan secara luas, baik dari kalangan NU sendiri maupun pemerintah. Gagasan mengenai perlunya NU kembali ke Khittah 1926 diterima dalam Muktamar ke-27 NU, yang diselenggarakan di Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Asembagus Situbondo, pada 8-12 Desember 1984.


Pada tahun 1986, sebagai Ketua PBNU Bidang Pengembangan SDM, Fahmi bersama Abdullah Syarwani, Said Budairy, Tosari Widjaja, dan lain-lainnya merintis berdirinya sebuah lajnah baru di NU, yang bertanggung jawab di bidang pengembangan SDM, yang kemudian kini dikenal dengan nama Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM (Lakpesdam) NU.


Sekjen PBNU 1989-1994, H M Ichwan Sam menuturkan, konsentrasi tugas Lakpesdam yang utama kala itu adalah melakukan penelitian, menyelenggarakan pelatihan pengurus dan pengelola program-program NU, serta merintis berdirinya perpustakaan NU. Sebelumnya telah berdiri Lajnah Ta'lif wan Nasyr (LTN) yang bertugas mengembangkan penerbitan dan penyiaran di lingkungan NU, yang antara lain menerbitkan Warta NU. (ibid, 130)


Setelah dibentuk Lakpesdam, dirancanglah tiga program dasar: 1) mengembangkan kualitas organisasi, 2) mengembangkan keterlibatan NU di dalam program pembangunan nasional, dan 3) meningkatkan kemandirian sosial-ekonomi masyarakat. Fahmi menjabarkan melalui tiga program dasar tersebut, NU dapat menggulirkan berbagai agenda turunannya, baik yang bersifat kajian maupun pelatihan keterampilan. (ibid, 130)


Yang paling dikenang dari sosok Fahmi Saifuddin dalam beberapa forum kajian NU tersebut, yakni kemampuannya dalam membuat bagan untuk memudahkan dalam merumuskan sesuatu atau memahami sebuah masalah. Oleh teman-temannya, bagan ala Fahmi ini disebut bulkonah, singkatan dari bulatan, kotak, dan tanda panah.


Warisan Intelektual
Selain itu, sebagaimana ayahnya, Fahmi juga memiliki bakat sebagai seorang dokumenter NU. Bila ayahnya mendokumentasikan NU dalam tulisan, maka Fahmi merekamnya dalam banyak rekaman kaset pita. Selain itu ia juga gemar mengkliping, memfoto, dan tentu membuat notulen berbagai kegiatan NU. Semua dokumen tersebut disimpan dan diberi catatan dengan rapi.


Hampir pada setiap pertemuan atau forum NU yang ia ikuti, direkamnya di sebuah kaset pita. Sebagaimana yang dikatakan ayah Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat ini, KH Cholil Bisri, dokumentasi milik Fahmi ini ibarat harta karun.


"Gagasan-gagasannya yang bermanfaat bagi NU (dan bangsa ini), barangkali telah terekam dengan rapi di kaset-kasetnya yang tentu tak terbilang banyaknya. Saya punya keyakinan, penerusnya nanti akan berminat mentranskripnya, lalu menjabarkan dalam konsep-konsep konkret yang dapat dilaksanakan. NU ke depan sangat menghajatkan apa yang telah dikumpukannya dengan tekun dan ikhlas itu," (ibid, 59)


Sebagai seorang akademisi, dokter dan birokrat, Fahmi juga dikenang sebagai seorang tokoh yang berdedikasi. Suami dari Hj Mariam Chairiah binti KH Ahmad Sjaichu tersebut meraih gelar Master of Public Health dari The Johns Hopkins University Amerika Serikat. Ia juga pernah kuliah singkat di University of Michigan dan University of Texas, Amerika Serikat, serta terpilih sebagai President The Asia Pacific Academic Consortium for Public Health.


Fahmi pernah terpilih sebagai Dosen Teladan Tingkat Universitas Indonesia (UI) dan Tingkat Nasional tahun 1982. Dia ikut merintis Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, dan menjadi Dekan FKM UI selama 3 periode. Semasa buka praktik, dokter berjiwa sosial itu suka menolong pasien yang tidak mampu.


Ia juga pernah mengemban amanah sebagai Asisten Menko Kesra bidang Kesehatan, Agama, Kependudukan, KB, dan Lingkungan Hidup. Menko Kesra saat itu, Soepardjo Roestam meminta kepada Presiden Soeharto untuk mengangkat Fahmi. Selain sebagai Asmenko, ia juga ditunjuk sebagai anggota Dewan Riset Nasional (DRN) dan Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional (BPKN).


Banyak orang bertanya-tanya, kenapa Fahmi yang memiliki kapasitas dan kepangkatan akademisnya sangat memadai itu belum juga menyandang gelar profesor. Rupanya, karena beberapa hal dan tentu faktor fisik serta kesehatan yang menjadi kendala besar baginya.


Januari 2002, Fahmi mendapat surat dari Dekan FKUI, yang menyatakan bahwa ia akan dianugerahi sebagai Doktor Honoris Causa oleh FKM, dan proses ke arah itu sudah dipersiapkan. Namun, sayangnya sebelum penganunegarahan itu terlaksana, Fahmi wafat pada Ahad, 3 Maret 2002.


H. Fahmi Dja'far Saifuddin dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Banyak orang yang merasa kehilangan atas kepergiannya. Termasuk, Rais Aam PBNU 1991-1992 KH Ali Yafie yang telah banyak melihat kiprah dan dedikasi Fahmi:


"Saya benar-benar mengharapkan bahwa sosok Pak Fahmi, yang sejak dalam usia mudanya telah berperan maksimal untuk suatu tugas dan pengabdian di organisasi dengan penuh tanggung jawab serta keteguhannya dalam memegang prinsip, sebisa mungkin dapat menjadi percontohan bagi generasi muda, terutama di lingkungan NU... Dalam hal ini, saya sungguh merasa kehilangan atas kepergian beliau sebagai sahabat yang juga dapat menjadi teladan dalam banyak sisi kehidupan," (ibid, 41)


Ajie Najmuddin, Penulis buku Menyambut Satu Abad NU