Cerpen

Cerpen: Azan Kepagian untuk Zuhur dan Kesiangan untuk Subuh

NU Online  ·  Ahad, 5 Juli 2026 | 15:00 WIB

Cerpen: Azan Kepagian untuk Zuhur dan Kesiangan untuk Subuh

Ilustrasi (NU Online/AI Integrated)

Ketenangan waktu pagi menjelang siang di Karangendep terusik. Dengan langkah tergesa, belasan orang berjalan cepat menuju Pesantren Mafatihul Ghayb. Bunyi hentakan kaki mereka layaknya seperti bunyi hentakan kaki para prajurit yang tengah melakukan pawai militer. Kedatangan mereka diiringi suara yang makin nyaring dari pengeras suara masjid Pondok Pesantren Mafatihul Ghayb yang tak biasanya berbunyi di waktu itu.
 

Mereka bukan akan menghadiri pengajian Rebo-Wagean. Saat itu adalah hari Senin Pahing. Lagi pula, wajah-wajah mereka tak sekalipun pernah terlihat di pengajian bulanan itu. Sorot mata mereka menyiratkan kebingungan dan amarah sekaligus.

 

“Santri Kiai Amin gila atau lupa waktu. Jam segini kok azan,” sergah seorang bapak-bapak paruh baya yang berada di tengah barisan.

 

“Mungkin dia gemblung karena terlalu banyak menjalankan amalan-amalan aneh,” timpal seorang pemuda yang berpostur tinggi kurus. 

 

Ia tengah main kartu di pos ronda saat rombongan yang bertolak ke Mafatihul Ghayb melewati tempat ia nongkrong. Tanpa berpikir panjang, ia bergabung dengan barisan warga yang terusik oleh azan di waktu yang tak lazim itu.

 

Rombongan bertambah banyak. Orang-orang yang sudah berada di rombongan mengajak siapa pun yang mereka jumpai. Bahkan, seorang penjual cilok dan kue rangin pun mengikuti rombongan itu dari belakang. 

 

“Siapa tahu rombongan ini akan bertambah banyak. Semakin banyak orang yang berkumpul, semakin besar juga kemungkinan dagangan laku,” pikir dua penjual itu. Logika pasar menyatukan angan mereka.     

 

**

“Mengapa Inyong tidak lihat kamu shalat berjama’ah tiga hari ini, Rif?” selidik Gus Haidar.

 

“Anu, Gus, anu, anu,” jawab Torif.

 

“Anu apa?” sergah Gus Haidar.

 

“Kula shalat berjamaah di masjid, musala, dan langgar di sekitar pondok. Kula shalat di Masjid Baitut Tawwab, Darul Mustaghfirin, Langgar Lebak, Langgar Gunung, dan Musala Baitul Ngubbad,” jelas Torif.

 

“Untuk apa?” tanya Gus Haidar lagi.

 

Keadaan mendadak hening. Hanya bunyi jarum jam yang terdengar.

 

“Untuk silaturahim. Kula kan santri baru yang belum kenal dan dikenal warga sekitar,” jawab Torif. 


Torif lega bisa menjawab pertanyaan putera kiainya itu. Ia cukup yakin dengan jawabannya.

 

“Sayang sekali. Jemaah yang datang sangat sedikit. Baris pertama masjid, langgar, dan musala yang kula kunjungi tak ada yang penuh. Bahkan sering kali seorang imam merangkap sebagai muazin juga,” sambung Torif.

 

Gus Haidar mengangguk-angguk tanda menerima alasan Torif. Ia bahkan mengacungkan jempol ke santri baru itu.

 

“Shalat berjama’ah di zaman sekarang memang jadi sebuah kemewahan, Rif. Jangankan shalat berjama’ah, shalat itu sendiri saja banyak yang gampang meninggalkan,” sambung Gus Haidar.

 

“Benar, Gus. Kula melihat warga cuek bebek ketika mendengar azan. Mereka tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Bahkan, ada sekumpulan pemuda yang tetap main kartu kendati ikamah tetap berkumandang. Padahal tempat mereka main kartu hanya selemparan batu dari masjid.

 

“Begitulah keadaannya sekarang. Lain kali jika shalat berjama’ah di luar, bilang dulu ya ke inyong. Inyong khawatir kamu dibawa kelong,” ucap Gus Haidar menutup investigasi singkatnya.

 

Shalat jama’ah adalah harga mati bagi santri Mafatihul Ghayb. Siapa pun yang meninggalkannya tanpa alasan yang kuat, harus siap membersihkan seluruh komplek pondok sebagai hukuman.

 

Karena santri Mafatihul Ghayb bisa dihitung jari, metode pengecekannya sederhana. Kiai Amin selaku imam shalat akan menghadap ke barisan ma’mum ketika sedang memimpin zikir pascashalat. Jika ada santri yang tak terlihat, ia akan menanyakan keadaannya pada Gus Haidar. Gus Haidar akan melakukan penyelidikan mengapa santri tersebut absen dari shalat berjamaah. Jika perlu santri tersebut disidang secara empat mata olehnya.

 

Malam itu, Torif selamat dari hukuman. Ia punya alasan yang kuat mengapa tidak shalat berjama’ah di masjid Pondok. Tampaknya, Gus Haidar justru memujinya karena tindakannya tersebut. Sidang bolos shalat berjama’ah yang biasanya menegangkan, berlangsung cair malam itu. 
 
**

Asyhadu anna Muhammadar rasulullah….” pekik Torif dari dalam Masjid.

Suara Torif, dengan bantuan pengeras suara, membuyarkan ketenangan di jam orang-orang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Orang-orang berkumpul di halaman masjid. Mereka tak bisa masuk karena semua pintu dan jendela masjid dikunci. Mereka hanya bisa menggedor-gedor pintu dan jendela. Mereka hanya bisa minta Torif berhenti mengumandangkan azan yang memang bukan pada waktunya. Kumandang azan Torif terlalu siang untuk Shalat Subuh dan terlalu pagi untuk Shalat Zuhur. Entah apa yang dipikirkan adik Tolhah itu. 

 

Hanya sedikit warga pondok yang tengah berada di komplek. Hampir semua santri putera tengah berada di sawah. Semua santri puteri tengah pergi ke pasar untuk belanja bulanan. Kiai Amin dan istrinya pun sedang tindakan. Hanya Gus Haidar yang berada di pondok. Ia tengah menanam tunas pisang di kebun belakang komplek santri puteri. Harusnya Torif membantunya mengambil tunas pisang di Ndalem, namun ia justru pergi ke Masjid Pondok untuk melancarkan aksi nekatnya.


Belum reda rasa kaget karena mendengar kumandang azan yang tidak pada waktunya dari Masjid Pondok, Gus Haidar kembali dikagetkan karena mendapati Masjid Pondok ramai dikelilingi orang. Ia geleng-geleng kepala mendapati ulah aneh Torif. Apalagi ulah Torif itu mengundang warga di sekitar pondok datang. Beberapa dari mereka tampak marah. 


Di sisi lain, di lubuk hati terdalamnya, ia berharap suatu saat pondoknya akan ramai seperti sekarang ini, setidaknya saat waktu shalat lima waktu tiba. Ia teringat cerita abahnya mengenai Pondok Pesantren Mafatihul Ghayb yang pernah ramai di masa kakeknya masih hidup. Bahkan, ketika masuk Bulan Ramadan, banyak santri kalong yang sampai duduk di undak-undakan masjid demi mengikuti pengajian kakek Gus Haidar.

 

“Gus, tolong hentikan ulah merasahkan santrimu itu,” ujar seseorang yang tiba-tiba ada di depan Gus Haidar. Putera Kiai Amin itu tak menyadari kedatangannya.

 

“Oh, ya,” jawab Gus Haidar. Jawabannya adalah refleks. Ia kaget karena disadarkan dari lamunan secara tiba-tiba.

 

“Torif, buka pintu! Sudahi azanmu. Hari sudah terlalu terang untuk untuk Subuh dan masih terlalu pagi untuk Zuhur,” teriak Gus Haidar dari balik pintu utama masjid.
Lubang ventilasi yang luas dan banyak membantu suara Gus Haidar masuk ke dalam masjid dan berhasil didengar Torif.


Orang-orang sejenak diam mengetahui Gus Haidar sedang berteriak untuk memperingatkan Torif. Namun, Torif tetap melanjutkan azannya hingga selesai. Bahkan, ia menyempatkan untuk berdoa setelah azan.

 

Kegilaan yang dilakukan Torif tak berhenti di situ. Setelah merapalkan doa setelah azan, ia mengucapkan salam dengan tetap mendekatkan mikrofon ke mulutnya. Ia tampak akan melakukan pidato.

 

Para warga yang berkumpul terperangah. Melalui jendela-jendela masjid yang banyak dan luas, mereka mengawasi setiap gerak-gerik bocah itu. Mereka penasaran apa yang Torif akan lakukan selanjutnya.

 

“Bocah edan! Azan kok jam sepuluh. Ko mabok, yah?!” teriak seorang pria paruh baya dari balik salah satu jendela.

 

Umpatan itu diikuti gemuruh warga yang datang. Mereka mengumpati Torif dengan pelbagai umpatan.

 

“Alhamdulillah. Bapak, ibu, mas, mbak, kakang, mbokayu, sudah diberi kekuatan Gusti Allah untuk datang ke masjid,” ucap Torif dan mikrofon masih ia arahkan ke mulutnya.

 

“Itu gara-gara ulahmu bocah edan!” umpat seseorang dari balik kerumunan.


“Yang saya lakukan ada alasannya,” ucap Torif mantap. Air mukanya menyiratkan keyakinan yang bulat.

 

“Apa alasannya bocah kentir?” tanya seseorang yang berdiri di dekat pintu utama masjid. 

 

“Saya tanya dulu. Apakah bapak-bapak, ibu-ibu, kakang, dan mbokayu semua mendengar azan lima kali sehari dari Masjid Baitut Tawwab, Darul Mustaghfirin, Langgar

​​​Lebak, Langgar Gunung, dan Musala Baitul Ngubbad?”
 

“Dengarrrr” jawab orang-orang di kerumunan.

 

“Alhamdulillah semua masih dikaruniai telinga yang sehat. Kukira kalian tuli.” ujar Torif santai.


Omongan Torif disambut ‘boo’ dari warga yang datang. Tak sedikit juga dari mereka yang mengumpat.

 

“Apakah kalian datang ke masjid, musala, atau langgar tersebut untuk shalat jama’ah?” sambung Torif.

 

Jawaban warga yang datang tak kompak. Ada yang jawab tidak, jarang, iya, bahkan banyak yang hanya diam.

 

“Sudah saya duga. Jawaban kalian tak kompak. Telinga kalian normal, bisa mendengar panggilan untuk shalat. Namun, kalian tak mendatangi panggilan itu,” tutur Torif dengan intonasi yang sarat akan sinisme.

 

Warga yang awalnya ramai mengumpat kini diam.

 

“Ketika saya mengumandangkan azan di waktu yang salah, kalian datang berduyun-duyun. Namun ketika muazin-muazin masjid, langgar, dan musala mengumandangkan azan di waktu yang tepat, kalian tidak datang,” sambung Torif lagi.

 

Suasana sunyi senyap. Kerumunan yang awalnya ramai mendadak senyap. Orang-orang tadi memaki Torif tertunduk. Bahkan penjual rangin dan cilok yang sejak tadi membunyikan lonceng untuk menawarkan dagangannya sungkan untuk membunyikannya lagi.