Cerpen

Di Balik Kacamata Hitam Darmono

NU Online  ·  Ahad, 9 Agustus 2026 | 17:00 WIB

Di Balik Kacamata Hitam Darmono

Ilustrasi (NU Online/AI Generated)

Di kampung kami, Darmono adalah warna tersendiri. Dia gerak dan napas kehidupan desa. Semua orang mengerti. Hidupnya sederhana. Bila pagi, dia menjaga sepeda di pasar perempatan. Tidak jarang pula, dia menyeberangkan orang. Jika ada orang perlu bantuan, dia dengan senang hati membawakan belanjaan. Dari situ, dia mencukupi kebutuhan sehari-hari.

 

Apabila ditanya umur, dia menjawab tidak tahu. Yang jelas, rambut sudah separuh yang beruban. Menurut ibuku Darmono sekelas waktu di SD namun tidak tamat. Pada saat kelas 2, tiba-tiba badannya panas kemudian tidak ada kabar. Ibu kini sudah mempunyai dua cucu. Sekilas, Darmono seperti orang terbelakang, Namun, bagiku, dia sepenuhnya normal. Badan memang kecil. Untuk urusan uang, dia tidak kalah oleh ibu-ibu yang berjualan di pasar.


Pulang dari pasar, dia biasanya pergi ke warungku untuk minum kopi dan atau makan nasi pecel. Menurut Darmono, kalau tidak minum kopi di tempatku, dia merasa rugi. Selain bisa bersenda gurau dengan penduduk kampung, tangan Darmono lincah untuk memijat punggung para pelanggan akibat kelelahan bekerja di sawah. Atas jasa itu, dia mendapatkan tambahan uang selain sepiring nasi pecel dan segelas kopi.


Di warung kopi milikku, cerita bermula. Waktu itu musim kampanye pencalonan anggota legislatif. Trisno, salah satu pelanggan, ikut berkompetisi dalam perebutan kursi anggota dewan. Melihat kedatangannya, semua pelanggan menyalami, termasuk Darmono. Setelah duduk lama dan menikmati segelas kopi, salah seorang pelanggan meminta Trisno untuk pijat kepada Darmono. 


"Oh, iya, Darmono bisa memijat Kang Trisno, calon wakil rakyat kita,” serunya. 


“Iya, kebetulan, ada Kang Darmono,” kata Trisno.


Darmono tahu ini adalah peluang. Apalagi, Trisno salah seorang ketua partai tingkat kecamatan. Tentu, memijatnya merupakan salah satu kehormatan. 


“Silakan, Pak. Mana yang pegal?” katanya. Lalu, dia melangkah ke tempat duduk Trisno. 


Udara panas mengiringi pijatan Darmono. Tapi, para pelanggan tidak perlu khawatir dengan cuaca. Warungku tidak memerlukan kipas angin karena terletak di antara rerimbunan pohon jati. Trisno sesekali tertawa karena kenyamanan dan suasana perdesaan. 

 

Puas menikmati pijatan, Trisno melangkah mendekati mobilnya. Dia sibuk membuka pintu lalu mengeluarkan dua ikat kaos bergambar dirinya. 

 

"Ini yang ditunggu-tunggu,” kata beberapa orang. 

 

“Wah… kaos…” kata orang lainnya.

 

Dua ikat kaos tersebut dibagikan kepada para pelanggan. Khusus Darmono, dia memperoleh uang lelah, kaos dan terakhir sebuah kacamata hitam. Kacamata itu istimewa karena ia selalu dipakai oleh Trisno. Melihat Darmono mendapatkan kacamata, warung kopi menjadi hidup.  Ingar-bingar itu menjadi gelak tawa. Darmono langsung memakainya. 

 

"Tampak gagah,” kata salah satu pelanggan. 

 

“Mirip pejabat,” kata pelanggan lain sambil mengacungkan dua jempol kepada Darmono.
 

"Kamu semakin muda memakai itu,” kata yang lain. 

 

"Ini artis desa kita…,” kata pelanggan di samping Darmono.
  

 

Karena melihat Darmono berkacamata, pelanggan tidak menyadari Trisno akan pergi. Setelah menyelesaikan pembayaran, Trisno menyapa para pelanggan yang sedang menikmati sajian warungku. 

 

"Semua pesanan sudah saya bayar. Saya mohon diri. Terima kasih, ya….” kata Trisno, lalu menuju mobilnya.


Sementara itu, Darmono setiap datang ke warung selalu memakai kacamata hitam. Pemandangan aneh bagi para pelanggan. Mereka suka menggoda perilaku ganjil ini. Lebih-lebih, jika Darmono memakai kaos partai dari Trisno dan bersepatu. Seisi warung, tanpa komando, menggodanya. Sehingga, sepi menjadi ramai.


Bukan Sulkan namanya, jika tidak menggoda Darmono. Biasanya, Sulkan menggoda menggunakan kata-kata. Oleh karena perilaku tersebut, seisi warung menjadi riuh. Suasana menjadi semarak dan hidup. 


Namun, kini, dia mendekati Darmono lalu berkata, “Bolehkah aku meminjam kacamatamu?”


"Buat apa?” timpal Darmono.

 

"Aku ingin terlihat gagah seperti para pejabat,” bujuk Sulkan.

 

“Boleh, sebentar saja, ya,” jawab Darmono, sembari memberikan kacamata kebanggaan itu kepada Sulkan. 


“Wah… aku tampak gagah, kan?” serunya kepada para pelanggan.


​​​​​​​Dia berdiri lalu duduk. Duduk dan berdiri lagi. Di sela-sela itu, tangan kirinya memegang telepon genggam. Dia berswafoto.


“Sudah, ya,” kata Darmono. Dia ingin meminta kacamata miliknya.

 

“Aku belum selesai semua gaya,” jawab Sulkan.


​​​​​​​Darmono duduk. Dia menelan ludah atas penolakan itu. Rasa kecewa tergambar dari wajahnya. Sebaliknya, Sulkan masih berfoto dengan berbagai gaya.


“Aku mau pulang,” kata Darmono mencoba meminta dengan alasan itu.


“Sebentar lagi…,” kata Sulkan, tapi masih belum ada niat mengembalikan.

 

Merasa dipermainkan oleh Sulkan, Darmono merebut kacamata itu. Namun, tangan Sulkan lebih cepat memegang kendali. Sehingga, perebutan terjadi. Dua orang itu saling menarik. Tiba-tiba terdengar suara patahan. Mereka terkejut. Darmono lebih terkejut sehingga dia segera beranjak pergi. Sulkan berusaha mengejar tapi,


​​​​​​​Darmono berjalan lebih cepat tanpa menoleh.

 

“Nanti, aku ganti…!” seru Sulkan.

 

Merasa bersalah atas tindakan tersebut, Sulkan mengatakan bahwa dia akan membelikan kacamata serupa dengan pemberian Trisno. 


​​​​​​​Saat kacamata sudah ada di tangan, Darmono tidak muncul di warung. Sebagai pemilik warung, aku menasihati agar aku dahulu yang menemui. Karena, penolakan kepada Sulkan masih ada. Setelah itu, Sulkan bisa menemuinya.


​​​​​​​Ketika kutemui di rumahnya, Darmono sedang mengurung diri. Hidupnya tidak ada gairah. Dia keluar kamar hanya untuk makan, minum dan ke kamar mandi. Ibunya serba salah dibuatnya. 


“Nak, dia ada di kamar. Baru saja dari kamar mandi,” kata ibu Darmono.


“Iya, Ibu,” jawabku lalu segera ke bilik pelanggan setiaku.


Di atas pembaringan, pemuda lapuk itu memandang langit-langit. Tatapannya kosong. Tidak ada makna. Biasanya, ketika bertemu aku, keceriaan selalu menghiasi bibirnya. 

 

“Kang, sehat?” tanyaku lalu mendekati pembaringan.


Darmono membalikan badan. Dia membelakangi. Aku sentuh kakinya; tidak panas. Mungkin, dia masih sakit hati. Kekecewaan belum sepenuhnya hilang. Dari balik tas, aku mengeluarkan sebuah kacamata hitam. Kacamata baru dari Sulkan. 

 

“Ini Kang, kacamata sudah diganti,” kataku mencoba membangkitkan semangat. 

 

Masih tetap pada posisi semula, Darmono menghela napas. Dia tidak memperhatikan sama sekali.


“Apakah kacamata baru ini mempunyai kekuatan yang sama dengan dulu?” tanya Darmono tiba-tiba.

 

“Sama, Kang, tidak ada bedanya,” jawabku.

 

Aku heran. Merk dan warna sama. Apakah ada perubahan setelah memakai kacamata pemberian Trisno, sang ketua ketua partai? Hanya pria lapuk ini yang bisa menjawabnya. Penasaran, aku menyarankan untuk memakainya.

 

“Coba dulu, Kang.”


“Tidak, aku sudah memakai berbagai kacamata sebelumnya. Pemberian Kang Trisno lain.”

 

“Maksud Kang Darmono?”


Dia luluh lalu duduk di atas pembaringan. Melihat perubahan itu, aku meminta untuk memakainya. Sebaliknya, wajah Darmono biasa saja. Tidak ada senyum terlukis di wajahnya.

 

“Sama seperti kacamata lain?” tanyanya.

 

“Bedanya apa, Kang?” aku balik bertanya.

 

“Ketika menggunakan kacamata Kang Trisno, aku melihat masa depan. Anak-anak semangat bersekolah karena dibiayai oleh negara. Orang-orang hidup makmur; tidak kekurangan makan dan minum. Para pemuda hidup enak karena mudah mencari kerja.”

 

“Begitu, Kang?” balasku..


“Setelah kacamata hitam itu patah, aku kecewa. Aku tidak mungkin melihat masa depan lagi. Semua harapan itu telah sirna. Nasibnya sama seperti kacamata pemberian Kang Trisno.”


Aku tersenyum kecut. Pemberian Sulkan tidak sebanding dengan yang dulu walaupun akhirnya ia diterima. Tidak masalah. Yang paling penting, Kang Darmono tidak apa-apa.


Di akhir pembicaraan, aku menyarankan agar Kang Darmono berkunjung ke warung. Tanpa kehadiran Kang Darmono, warungku menjadi sepi. Aneh.


​​​​​​​Jember, 17 Juli 2026


M. Ali Albalya lahir di Jember, 17 April 1981. Sarjana Sastra (S.S.) pada jurusan Sastra Inggris Universitas Jember dan pernah bergiat sebagai wartawan Tabloid Mahasiswa Ideas Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Tulisannya dimuat di Majalah Bobo, NU Online, titian.id, Radar Jember, Majalah Tabila MAN 1 Jember, Majalah Matan milik Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan Koran Suara Rakyat Lumajang. Selain menulis, kegiatannya adalah berdagang makanan ringan. ​​​​​​​