Tiga Ayat Al-Qur'an tentang Perdamaian di Tengah Konflik Dunia
NU Online · Senin, 10 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Syifaul Qulub Amin
Kolumnis
Kita hidup di Indonesia, sebuah negara yang sangat majemuk dari sisi suku, agama, budaya, maupun latar belakang sosial. Meski sesekali muncul gesekan di beberapa daerah, secara umum kehidupan masyarakat Indonesia relatif dapat berlangsung dengan damai dan berdampingan. Kondisi ini tentu patut disyukuri sekaligus terus dijaga bersama.
Namun, jika melihat situasi dunia saat ini, kita akan menemukan gambaran yang berbeda. Krisis global masih membayangi banyak negara, salah satunya ditandai oleh konflik geopolitik yang belum kunjung selesai. Peperangan antarnegara maupun konflik di dalam negeri masih menjadi berita yang hampir setiap hari kita saksikan.
Mari sejenak melihat besarnya dampak berbagai konflik yang terjadi di dunia. Dalam perang AS-Israel dengan Iran yang pecah pada 2026, lebih dari 1.300 orang dilaporkan tewas di Iran. Salah satu tragedi yang paling menyita perhatian adalah serangan terhadap sekolah dasar perempuan Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran, yang menewaskan lebih dari seratus orang, sebagian besar anak-anak.
Di Gaza, jumlah korban meninggal sejak perang pecah pada Oktober 2023 telah melampaui 73.000 orang. Sementara di Ukraina, Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga pertengahan Juli 2026 telah memverifikasi sedikitnya 16.431 warga sipil tewas sejak invasi penuh Rusia pada Februari 2022.
Konflik di Sudan juga telah memicu salah satu krisis pengungsian terbesar di dunia. Jumlah pengungsi internal sempat mencapai lebih dari 11 juta orang dan hingga pertengahan 2026 masih terdapat sekitar 8,7 juta warga yang mengungsi di dalam negeri.
Di Myanmar, konflik yang berlangsung sejak kudeta militer pada Februari 2021 telah menelan lebih dari 100.000 korban jiwa terkait konflik. Hampir empat juta orang juga masih mengungsi di dalam negeri, sementara ratusan ribu lainnya meninggalkan Myanmar menuju negara-negara tetangga.
Realitas tersebut menjadi salah satu tanda bahwa kita hidup di tengah ancaman krisis global. Dampaknya tidak mungkin tidak turut dirasakan oleh masyarakat Indonesia, baik secara ekonomi, politik, maupun sosial. Bahkan, sebagian dampaknya mungkin sudah mulai kita rasakan. Dalam situasi seperti ini, penting kiranya kita membaca kembali ayat-ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang perdamaian.
Islam menempatkan perdamaian sebagai sebuah kemuliaan yang sangat besar karena manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh satu kelompok, tetapi oleh manusia secara luas. Sebaliknya, konflik, perpecahan, dan peperangan dapat melahirkan ketidakstabilan yang dampaknya dirasakan bersama. Setidaknya ada tiga ayat Al-Qur'an yang patut kita renungkan dalam konteks ini.
Jangan Jadikan Apa Pun sebagai Penghalang Perdamaian
Baca Juga
Perbedaan Tafsir dan Takwil
Ayat pertama adalah Surat Al-Baqarah ayat 224. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَجْعَلُوا اللّٰهَ عُرْضَةً لِّاَيْمَانِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْا وَتَتَّقُوْا وَتُصْلِحُوْا بَيْنَ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Artinya: “Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang dari berbuat baik, bertakwa, dan menciptakan kedamaian di antara manusia. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 224).
Syekh Nawawi Banten dalam tafsirnya menjelaskan sebab turunnya ayat ini. Menurutnya, ayat tersebut berkaitan dengan Abdullah Ibnu Rawahah.
Dikisahkan bahwa Abdullah Ibnu Rawahah pernah bersumpah atas nama Allah SWT untuk tidak berbuat baik, tidak berbicara, dan tidak mendamaikan saudara perempuannya dengan suaminya, Basyir bin An-Nu'man.
Ketika diminta untuk membantu mendamaikan keduanya, Abdullah Ibnu Rawahah mengatakan, “Saya telah bersumpah atas nama Allah untuk tidak melakukan hal tersebut. Karena itu, tidak halal bagiku untuk melanggar sumpahku.”
Allah kemudian menegaskan bahwa sumpah tidak seharusnya menjadi penghalang bagi seseorang untuk melakukan kebaikan, bertakwa, dan mendamaikan manusia. Allah Maha Mendengar sumpah yang diucapkan manusia dan Maha Mengetahui niat serta segala sesuatu yang berkaitan dengannya. (Marahul Labid li Kasyfi Ma'nal Qur'anil Majid, [Beirut: Darul Kutub al-’Ilmiyah], jilid I, hlm. 78).
Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya juga menguraikan beberapa pendapat mengenai sebab turunnya ayat tersebut. Salah satunya adalah riwayat mengenai Abdullah bin Rawahah, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Nawawi Banten.
Lebih jauh, Imam Al-Qurthubi menjelaskan keterkaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Pada ayat sebelumnya, Allah SWT menjelaskan tentang tanggung jawab terhadap keluarga dan orang-orang yang berada dalam tanggungan.
Kemudian pada ayat ini, Allah melarang manusia menjadikan sumpah sebagai alasan untuk meninggalkan berbagai kemuliaan, termasuk upaya mendamaikan orang lain.
Mari simak redaksi berikut:
قَالَ الْعُلَمَاءُ: لَمَّا أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِالْإِنْفَاقِ وَصُحْبَةِ الْأَيْتَامِ وَالنِّسَاءِ بجميل المعاشرة قال: لا تمتنعوا عن شي مِنَ الْمَكَارِمِ تَعَلُّلًا بِأَنَّا حَلَفْنَا أَلَّا نَفْعَلَ كَذَا
Artinya, "Para ulama berkata, ketika Allah SWT telah memerintahkan untuk berinfak (menafkahi) dan membersamai anak-anak yatim dan istri dengan mu'asyarah yang baik (pada ayat sebelumnya), maka (pada ayat ini) Allah SWT berfirman, janganlah kalian semua mencegah pelaksanaan kemuliaan-kemuliaan dengan alasan, 'kami telah bersumpah untuk tidak melakukan ini dan itu'." (Lihat: Tafsirul Qurthubi, [Mesir: Darul Kutub Al-Mishriyyah, 1964], jilid III, hlm. 97).
Pesan ayat ini cukup jelas. Jangan sampai alasan pribadi, gengsi, sumpah, kepentingan kelompok, atau pertimbangan lainnya justru menjadi penghalang untuk melakukan perdamaian. Jika jalan damai masih terbuka, Islam mendorong umatnya untuk mengambil jalan tersebut.
Mendamaikan Manusia adalah Kebaikan Besar
Ayat kedua terdapat dalam Surah An-Nisa' ayat 114. Allah SWT berfirman:
لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
Artinya, “Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali (pada pembicaraan rahasia) orang yang menyuruh bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari ridha Allah, kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar.” (QS. An-Nisa' [4]: 114).
Imam Abu Hayyan dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata "amara" menunjukkan adanya anjuran, sementara "shadaqah" mencakup sedekah wajib maupun sunnah. Adapun kata "ma'ruf" memiliki makna yang luas dan mencakup segala bentuk kebaikan. Menariknya, Al-Qur'an menyebut sedekah dan perdamaian secara khusus, meskipun keduanya sebenarnya sudah tercakup dalam pengertian ma'ruf.
Menurut Imam Abu Hayyan, hal itu menunjukkan betapa pentingnya dua kebaikan tersebut. Keduanya mempunyai dampak besar terhadap kemaslahatan kehidupan manusia. (Lihat: Al-Bahrul Muhith, [Beirut: Darul Fiqr, 1420 H], jilid IV, hlm. 65).
Lebih jauh, Imam Abu Hayyan menjelaskan bahwa secara dahir, perintah mengadakan perdamaian dalam ayat tersebut mencakup setiap perselisihan. Dalam kaitan ini, ia juga mengutip hadits tentang keutamaan mendamaikan perselisihan.
Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ قِيلَ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: صَلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ
Artinya: "Apakah saya tidak mengabarkan (amalan) yang lebih utama daripada derajat shalat, puasa, dan sedekah? Dikatakan kepada Rasulullah: 'iya benar, Ya Rasulullah'. Rasulullah bersabda, yaitu mendamaikan perselisihan." (HR. Imam Bukhari).
Sementara itu, Imam Al-Khazin menjelaskan maksud mendamaikan perselisihan dengan redaksi berikut:
أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ يعني الإصلاح يبن المتباينين والمتخاصمين ليتراجعا إلى ما كانا فيه من الألفة والاجتماع على ما أذن الله فيه وأمر به
Artinya, "Atau mengadakan perdamaian di antara manusia, yakni mendamaikan antara dua kelompok yang berselisih dan bermusuhan supaya kembali kepada kasih sayang dan persatuan sesuai dengan yang diizinkan Allah SWT dan perintah-Nya." (Imam Khazin, Tafsirul Khazin, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1995], Jilid I, hlm. 426—427).
Ayat ini memberikan pesan bahwa perdamaian bukan sekadar keadaan ketika tidak ada perang. Perdamaian juga membutuhkan usaha aktif untuk memperbaiki hubungan, mempertemukan pihak yang berselisih, dan mengembalikan hubungan manusia ke suasana yang lebih baik.
Perdamaian Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Ayat ketiga terdapat dalam Surat Al-Hujurat ayat 10. Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Artinya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati." (QS. Al-Hujurat [49]: 10).
Menurut Syekh Nawawi Banten, perintah dalam ayat ini tidak hanya berbicara tentang konflik dalam skala besar, seperti peperangan atau kekacauan luas. Perintah mendamaikan bersifat umum. Bahkan, ketika terjadi konflik dalam rumah tangga, perselisihan antara dua orang, atau pertengkaran di lingkungan sekitar, seorang Muslim dianjurkan untuk berusaha menghadirkan jalan damai. (Lihat: Murahul Labid li Kasyfi Ma'nal Qur'anil Majid, jilid II, hlm. 438).
Dengan demikian, budaya perdamaian sebenarnya dapat dimulai dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan kita. Sebelum berbicara mengenai perdamaian dunia, kita dapat memulainya dengan tidak memperbesar perselisihan dalam keluarga, tidak mengadu domba tetangga, tidak mempertajam perbedaan di masyarakat, dan tidak ikut menyebarkan kebencian yang dapat memecah hubungan antarsesama.
Sementara itu, mengenai makna persaudaraan dalam ayat tersebut, terdapat penjelasan:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فِي الدِّينِ وَالْوِلَايَةِ، فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ إِذَا اخْتَلَفَا وَاقْتَتَلَا
Artinya, "Sungguh para Mukmin adalah saudara dalam agama dan wilayah. Maka, damaikanlah saudara kalian yang berselisih dan bertikai." (Abu Muhammad Baghawi, Tafsirul Baghawi. [Riyadh: Dar Thaibah, 1997], jilid VII, hlm. 341).
Pesan persaudaraan ini menjadi semakin penting ketika masyarakat hidup dalam keberagaman. Perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling meniadakan, apalagi untuk menciptakan permusuhan. Justru di tengah perbedaan itulah dibutuhkan sikap saling menjaga, menahan diri, dan mencari jalan yang dapat mempertemukan kepentingan bersama.
Walhasil, di tengah berbagai konflik yang terjadi di banyak belahan dunia, tiga ayat tersebut mengingatkan kita bahwa perdamaian bukanlah sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Ia harus diusahakan, dijaga, dan dirawat.
Di tengah dunia yang terus dibayangi konflik, menyuarakan dan mengusahakan perdamaian merupakan salah satu bentuk kemuliaan. Sebab, setiap upaya yang benar-benar menghadirkan perdamaian akan membawa kemaslahatan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh banyak orang. Wallahu a'lam bisshawab.
Ustadz Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, perumus LBM Nurul Cholil, dan pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan.
Terpopuler
1
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar Resmi Buka Bahtsul Masail Pra-Muktamar Ke-35 NU
2
Sambut Muktamar ke-35 NU, MA IPNU Gelar Diskusi Panel Undang Bakal Calon Ketum PBNU
3
Antisipasi Sengketa, PBNU Tuntaskan SK Muktamar
4
Inovasi Penguatan Budaya Keselamatan Pasien, RSI NU Demak Juara II Nasional Pertemuan Ilmiah 2026
5
Karhutla Terus Berulang, 6 Provinsi Terdampak dan Puluhan Hektare Lahan Hangus
6
Kepemimpinan NU Dituntut Mampu Satukan dan Kuatkan Peran Masyarakat Sipil
Terkini
Lihat Semua