Cerpen

Laki-Laki Bernama Karta

NU Online  ·  Ahad, 5 April 2026 | 20:00 WIB

Laki-Laki Bernama Karta

Ilustrasi (Meta AI)

Kedatangan orang kate dari Negeri Matahari Terbit, tak begitu berpengaruh pada sendi kehidupan warga kampungku. Sesekali orang bermata sipit itu lewat, tak banyak, paling hanya lima orang. Katanya di ibu kota kawedanan, mereka tak lebih dari lima regu. Tentu wajar, mengingat daerah di kaki Gunung Slamet penduduknya sepercik. Tanahnya masih banyak yang perawan dan berselimut pohon tua.


Lalu ketika meletus revolusi lokal, kampungku dan kampung sekitarnya tak bergejolak. Kondisi ini tak sama dengan kampung-kampung di dataran rendah, di mana api yang terpercik memakan korban. Kelak, ketika aku ceritakan cerita itu kepada cucuku, seorang sarjana sejarah, ia mengatakan bahwa peristiwa tersebut dikenal dengan nama Peristiwa Tiga Daerah.

 

“Revolusi lokal itu tujuannya mengganti pangrah praja atau birokrat. Api itu muncul pertama di Kampung Cerih. Lurahnya yang bernama Haryowiyono dilucuti, dipakaikan pakaian dari karung goni. Begitu juga dengan istrinya. Kemudian mereka diarak keliling kampung. Aksi demikian disebut dengan nama dombreng. Layaknya api, aksi itu merambat ke kampung-kampung Tegal yang lain, bahkan sampai ke Brebes dan Pemalang,” ucap cucuku Ade dengan ritme pelan tetapi menggebu-gebu dengan tangan yang masih memegang cangkir berisi teh tubruk.

 

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Peristiwa Tiga Daerah tak lepas dari bersatunya tiga kekuatan yakni nasionalis, agamis, dan komunis. “Asumsiku mengapa kemudian aksi tersebut tak terjadi di Kawedanan Bumijawa, pertama dikarenakan penduduknya sedikit. Kedua, tak terkena dampak langsung pendudukan Jepang. Ketiga, hanya ada satu golongan saja yaitu Islam, tepatnya Islam tradisional. Tak ada yang namanya komunis maupun nasionalis.”


Aku hanya angguk-angguk kepala mendengarkan penjelasan cucuku. Bukan main bangganya diriku padanya. Memang cucuku yang satu ini gila membaca. Berbeda halnya dengan diriku, satu-satunya yang aku baca hingga usia senja adalah kalimat dari langit.


Kemudian ketika kembalinya orang berambut seperti rambut jagung, hanya sekali saja mereka melakukan pembersihan. Tepatnya pada pertengahan tahun 1947. Meskipun terkesan kasar, orang-orang besar dan tinggi itu tak melontarkan pelurunya sekalipun. Sementara para pejuang hanya sekali melakukan penghadangan, yaitu di akhir tahun 1948. Menurut desas-desus di pasar, penghadangan dilakukan oleh pejuang Jawa Barat. Kebetulan mereka lewat Kawedanan Bumijawa dalam perjalanan kembali dari Jogja ke tanah asalnya.


Pasca pengakuan kedaulatan oleh Belanda, banyak orang berambut gondrong dengan pakaian beragam, ada yang kuning bekas tentara Nippon, ada yang hijau bekas PETA, datang sambil menenteng senjata. Mereka menjadikan hutan-hutan perawan sebagai tempat persembunyian. Kata bapak mereka adalah anak kandung yang dibuang oleh ibu pertiwi, “Mereka tidak diterima masuk angkatan bersenjata. Dari yang bapak dengar hal ini dikarenakan laskar santri ini tak punya ijazah.”

 

Para penduduk di kaki Gunung Slamet bersimpati terhadap gerakan mereka. Alhasil, logistik pun mudah diperoleh. Setiap beberapa minggu sekali, pada malam hari, mereka turun gunung untuk menyerang markas pasukan pemerintah. Gerakan serupa ternyata juga terjadi di juga di daera-daerah lain. Awalnya, pemerintah menganggap hal itu biasa saja, sekadar buntut kekecewaan pejuang terhadap negara. Namun, setelah gerakan ini meluas ke segala penjuru tanah air dan semakin terorganisir, pemerintah menetapkan situasi darurat. Operasi militer digelar, kampung-kampung di kaki Gunung Slamet pun tak luput dari injakan sepatu loreng. Pemerintah kemudian memunculkan istilah baru untuk mereka, yakni gerombolan.

 

Mulanya, orang-orang berbaju loreng percaya diri dapat meringkus gerombolan dalam waktu singkat. Tetapi keyakinan mereka memudar, seiring dengan hasil yang nihil. Mereka mendapatkan kesimpulan bahwa hal ini disebabkan mereka bergerak di tengah penduduk. Operasi bersenjata saja tak cukup, harus ada operasi intelijen. Penduduk di kaki Gunung Slamet tak luput dari ancaman. Todongan pistol berhasil menghentikan suplai logistik untuk gerombolan. Mustahil para gerombolan bertahan tanpa bantuan logistik penduduk.


Gerombolan pun berubah menjadi buas terhadap penduduk. Beberapa kampung di kaki Gunung Slamet tak luput dari kobaran api kemarahan. Mereka yang diduga menjadi mata-mata pasukan loreng berakhir tanpa kepala. Gerombolan semakin terpojok setelah pasukan loreng membentuk pasukan gerak cepat. Bersamaan dengan itu, aku berkenalan dengan salah satu dari mereka.

*

 

Ia memperkenalkan diri sebagai Karta dengan pangkat letnan dua. Kedatangannya siang itu ke rumahku dengan maksud menanyakan kejadian semalam. Katanya, ia mendapatkan laporan bahwa gerombolan lewat depan rumahku. Saat itu, di rumah hanya ada aku; bapak, ibu, dan adikku masih di sawah. Karta datang seorang diri dan meminta masuk, tetapi aku menolaknya. Ia pun berbalik pergi. Hari-hari berikutnya ia sering datang ke rumah dengan dalih membantu bapak di sawah.

 

Bapak mulanya tak nyaman dengan kedatangan Karta. Dirinya sering mendengar informasi tak sedap tentang kelakuan tak pantas beberapa orang dari pasukan loreng. Mulai dari mabuk hingga main perempuan. Tetapi dalam waktu cepat, Karta berhasil mengambil hati bapak. Maka tatkala Karta menyampaikan maksudnya menikahi diriku, tanpa basa-basi bapak langsung mengiyakan. Ketika aku menanyakan keputusan bapak tersebut, sebab selama ini ia gembar-gembor ingin memiliki menantu seorang santri. Ia hanya menjawab, “Nggak harus santri, yang penting rajin sholat. Aku lihat Karta orang baik, bapak yakin dia nggak akan menyakitimu.”

 

Pernikahanku dengan Karta dilaksanakan secara sederhana karena situasi saat itu tidak memungkinkan untuk mengadakan pesta. Tak seorang pun dari keluarga Karta di Cilacap yang datang. Ia berdalih hidup sebatang kara, keluarganya menjadi korban pembantaian pada tahun 1947.

 

Satu tahun kemudian, pada 1955, lahirlah anak kami. Bapak memberinya nama Patimah. Bersamaan dengan itu, Karta dipindahtugaskan ke Cilacap. Tiga bulan sekali ia akan pulang ke Tegal menengok aku dan Patimah. Ia juga rutin berkirim surat. Satu tahun kemudian aku meminta untuk ikut ke Cilacap. Namun, ia menolaknya dengan alasan yang tak jelas. Setelah tiga tahun di Cilacap, ia dipindah tugaskan ke Bandung. Tiga bulan pertama di Bandung, Karta masih berkirim surat. Tetapi setelah itu, ia tak lagi memberi kabar. Tak lama berselang, bapak mendapat informasi dari salah satu kawan Karta, bahwa ketika bertugas di Cilacap, Karta menikah lagi.

 

Aku yang sebelumnya tak pernah bepergian ke luar kota akhirnya memberanikan diri pergi ke Cilacap seorang diri, berbekal alamat yang diberikan oleh kawannya. Tujuannnya satu, memastikan kebenaran akan cerita kawannya.

 

Istri kedua Karta sama kagetnya dengan diriku, ia tak menyangka bahwa Karta sebelumnya telah menikah. Berbeda denganku yang berusaha tegar, kesedihan terlihat dari mata Ijah istri kedua Karta, bahkan ia sampai pingsan. Setelah sadar dari tidur singkatnya, Ijah memberi tahu bahwa Karta sejak di Bandung tak memberi kabar, apalagi mengirimkan uang untuk kedua anaknya yang masih kecil.

 

“Namanya mata keranjang, di Bandung pasti ia menikah lagi,” ucapnya.

 

*

 

“Mengizinkan Karta menikah dengan kamu adalah kesalahan bapak yang tak termaafkan,” ucapnya. “Tetapi bapak mohon, agar kamu harus tetap melanjutkan hidup. Lupakan Karta. Kalau memang ia benar-benar mencintaimu, ia tak mungkin menduakan kamu.”


Mulanya aku tak ingin menikah lagi, entah karena trauma atau masih cinta dengan Karta. Kenangan dengannya sulit untuk dihilangkan jejaknya dari hati. Tetapi hidup harus tetap berjalan. Di umur Patimah yang menginjak sepuluh tahun, aku dilamar oleh Akram. Ia adalah guru ngaji dengan status duda dua anak. Istrinya meninggal tiga tahun lalu sewaktu hamil anak ketiga. Dengan Akram aku tak memiliki anak. Tetapi itu bukan menjadi soal.

 

*

 

Surat bertulis tangan dari orang yang telah 20 tahun menghilang sungguh mengguncang perasaan. Surat itu berisi bahwa ia akan menemui anaknya Patimah. Di satu sisi ada perasaan senang, di sisi lain ada perasaan kesal. Surat itu kemudian ia beritahu kepada Akram suaminya. Ia ternyata tak mempersoalkan kedatangan Karta.

 

“Bagaimanapun juga Karta adalah ayah Patimah. Aku sih nggak masalah dengan kedatangannya. Ditambah lagi sebentar lagi Patimah akan menikah, tentu ia senang jika wali nikahnya adalah ayahnya,” ucapnya


Mendapatkan jawaban semacam itu, jadi muncul perasaan bersalah terhadap Akram, karena dirinya tadi merasa senang bukan main dengan surat dari Karta. Aku sadar betul meskipun bertahun-tahun berlalu, tetapi hatinya belum sepenuhnya cinta terhadap Akram.

 

Ternyata ia datang tak seorang diri melainkan membawa empat buntut yang semuanya laki-laki. Yang pertama bernama Jajang, berusia lima tahun; kedua dan ketiga adalah si kembar, Usman dan Isman, berusia dua tahun; dan yang terakhir, Badi, masih bayi merah. Setelah dipersilahkan masuk. Di ruang tamu, di hadapan aku dan Akram, ia menceritakan bahwa keempat anaknya adalah anak dari pernikahannya yang keempat. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa dirinya sudah dipecat dari kesatuannya. Tak berhenti sampai di situ kemalangannya, istrinya meninggal ketika melahirkan Badi.


Karta menyampaikan bahwa maksud kedatangannya adalah agar diizinkan tinggal untuk sementara waktu di rumahku. Sebab, ia tak punya siapa-siapa lagi. Tanpa meminta persetujuan dari Akram, aku mengizinkannya. Sesekali, Akram mengajak Jajang, Usman, Isman, dan Badi bergantian ke rumah kerabatnya, kadang pula keempatnya diajak sekaligus.


*

 

Ternyata kembalinya Karta tak disukai oleh ipar-iparku. Mereka menganggap hal tersebut adalah suatu yang tidak etis. Aku tak sengaja mendengarkan percakapan antara suamiku dengan saudara-saudaranya di dapur sewaktu nikahan Patimah.


“Goblok, tolol. Kamu nggak cemburu?” tanya Kang Dur.

 

“Masa kamu nggak cemburu istrimu tinggal di atap yang sama dengan mantan suaminya,” sahut Kang Dul.


“Tetapi mereka kan nggak tinggal sekamar. Aku yakin sekali bahwa istriku nggak akan berbuat neko-neko.”


“Nggak ada jaminan,” timpal Kang Ghofur. “Lagian kamu mau aja mongmong anak yang bukan darah daging kamu, siapa yang sering kamu aja ke rumahku?”


“Jajang, Usman, Isman, dan Badi. Kasihan kang mereka.”


“Kan masih ada bapaknya,” kata Kang Ghofur.

 

“Aku tak punya kuasa apa-apa kang. Rumah ini kan milik Nuri, bukan milikku. Selama ini aku juga numpang hidup, sama seperti yang dilakukan oleh Karta. Bedanya aku suami, Karta mantan suami.”

 

“Dari dulu aku selalu mewanti-wanti kamu agar jangan hanya mengandalkan hidup hanya dari menjadi guru ngaji. Tujuannya, agar kamu punya kuasa, nggak diinjak-injak,” kata Kang Asrah yang sedari tadi hanya diam.


“Iya, nanti aku coba ngomong ke Nuri.”

 

*

Malik Ibnu Zaman lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yang tersebar di beberapa media online. Buku pertamanya sebuah kumpulan cerpen berjudul Pengemis yang Kelima (2024).