Daerah

11 Kecamatan Banyumas Rawan Kekeringan, Ansor Minta Penanganan Tak Hanya Distribusi Air Bersih

NU Online  ยท  Sabtu, 18 Juli 2026 | 15:30 WIB

11 Kecamatan Banyumas Rawan Kekeringan, Ansor Minta Penanganan Tak Hanya Distribusi Air Bersih

Distribusi air bersih oleh BPBD Banyumas di Kecamatan Jatilawang, menjadi salah satu daerah terdampak kekeringan. (Foto: dok BPBD Banyumas)

Jakarta, NU Online

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 11 kecamatan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, masuk dalam zona berisiko tinggi mengalami kekeringan. Wilayah tersebut meliputi Ajibarang, Cilongok, Gumelar, Jatilawang, Kedungbanteng, Lumbir, Pekuncen, Purwojati, Sumpiuh, Tambak, dan Wangon.


Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Jatilawang, Feri El Kodri, mengatakan bencana kekeringan yang terus berulang setiap tahun memerlukan penanganan yang lebih menyeluruh, tidak hanya berfokus pada distribusi air bersih.


Ia menjelaskan, dua desa di Kecamatan Jatilawang, yakni Desa Gunungwetan dan Desa Pekuncen, hampir selalu terdampak ketika musim kemarau tiba.


"Kalau musim kemarau, desa yang terdampak berada di dataran tinggi, di daerah pegunungan," ujarnya saat dihubungi NU Online, Jumat (17/7/2026).


Menurut Feri, kedua desa tersebut setiap tahun mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Karena itu, GP Ansor terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar kebutuhan dasar masyarakat segera terpenuhi.


"Kami terus berupaya bekerja sama dengan BPBD untuk penyediaan layanan dasar berupa air bersih. Kondisi ini terjadi setiap musim kemarau," katanya.


Meski demikian, Feri menilai bantuan air bersih yang telah disalurkan masih belum mampu memenuhi kebutuhan warga.


"BPBD sudah menyalurkan dua tangki air, tetapi masih belum mencukupi. Masih banyak warga yang kekurangan," ungkapnya.


Selain kesulitan mendapatkan air bersih, masyarakat juga menghadapi dampak kesehatan akibat kekeringan. Menurut Feri, keterbatasan air bersih berpotensi memicu dehidrasi dan gangguan kesehatan lainnya.


"Kesehatan masyarakat juga terdampak karena kurangnya ketersediaan air bersih saat musim kemarau," ujarnya.


Feri berharap pemerintah, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, hingga desa, dapat bersinergi menangani persoalan kekeringan secara berkelanjutan.


Menurutnya, distribusi air bersih merupakan langkah jangka pendek yang penting. Namun, upaya tersebut perlu dibarengi dengan langkah jangka panjang, termasuk pendampingan psikososial bagi masyarakat agar lebih tangguh menghadapi bencana yang berulang setiap tahun.


"Harapan kami, seluruh instansi di setiap tingkatan bergerak bersama membantu masyarakat, baik melalui penyediaan air bersih maupun pendampingan psikologis bagi warga terdampak," tandasnya.