Daerah MUKTAMAR KE-35 NU

Imam Mawardi Alumnus Mambaul Ma’arif Denanyar, Berkhidmah di Tanah Papua

NU Online  ·  Senin, 31 Agustus 2026 | 18:00 WIB

Imam Mawardi Alumnus Mambaul Ma’arif Denanyar, Berkhidmah di Tanah Papua

Ketua PWNU Imam Mawardi (kiri) di arena Muktamar KE-35 NU di Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026) (Foto: NU Online/Siti Ratna Sari)

Jombang, NU Online

Kondisi geografis dan berbagai dinamika di Tanah Papua tidak menyurutkan semangat Imam Mawardi Ma’sum dalam menjalankan khidmah sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Papua Tengah.

 

Saat ditemui di lokasi Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026), Imam menyebut umat Islam di Papua Tengah merupakan kelompok minoritas. Di tengah keberagaman masyarakat, ia memiliki strategi tersendiri dalam menjalankan dakwah.

 

“Meskipun minoritas, tidak menjadi penghalang bagi kita untuk berdakwah. Pengenalan NU kami lakukan dengan menonjolkan akhlak dan adab yang baik dalam kehidupan bermasyarakat, bukan sekedar adu kepintaran,” jelasnya.

 

Imam mengatakan, sebelum menjadi bagian dari NU secara struktural, dirinya telah menggerakkan berbagai kegiatan ke-NU-an, salah satunya melalui safari Ramadhan.

 

“Jadi safari ramadhan ini kami sediakan menu makan sahur gratis, bagi-bagi takjil, atau buka puasa bersama,” katanya.

 

Menurut Imam, tantangan geografis dan dinamika kehidupan masyarakat di Papua Tengah tidak menyurutkan semangat warga Nahdliyin untuk berkhidmah. Hal itu terlihat dari pelaksanaan berbagai agenda yang selama ini dilakukan dengan mengandalkan swadaya warga, termasuk menggunakan dana pribadi tanpa mengandalkan proposal maupun bantuan.

 

Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan kuatnya semangat kemandirian ekonomi NU di Papua Tengah.

 

Alumnus Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar itu juga menyoroti peran Fatayat NU sebagai salah satu kekuatan penggerak kader-kader NU di Papua, khususnya di Kabupaten Timika. Menurutnya, keberadaan Fatayat NU memberikan kontribusi besar dalam menggerakkan kegiatan organisasi.

 

“Kalau saya sendiri tanpa ada mbak-mbak Fatayat, mungkin kami juga merasa lemah. Tapi karena ada kekuatan daripada mbak-mbak Fatayat, akhirnya kami juga punya semangat yang tinggi,” imbuh Imam.

 

Perjalanan panjang dari Papua Tengah menuju Jombang, Jawa Timur, bagi Imam bukan sekadar untuk menyemarakkan pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU. Kehadiran 25 Nahdliyin dari Papua Tengah juga membawa aspirasi dan harapan agar perhatian terhadap perkembangan NU di kawasan Timur Indonesia semakin diperkuat.

 

“Selama ini, daerah Timur tidak terlalu dilirik padahal kami sangat membutuhkan perhatian khusus untuk kemajuan NU. Berbeda dengan NU di Jawa, kalau di sini kan sudah menjadi mayoritas dan akses pun mudah,” ungkap pria berkacamata itu.

 

Imam berharap kepemimpinan NU untuk lima tahun ke depan mampu membangun sinergi yang kuat antara struktur NU di tingkat paling bawah hingga tingkat pusat. Menurutnya, wilayah Papua, termasuk Papua Pegunungan yang berada di zona merah, membutuhkan perhatian dan pendampingan yang lebih nyata.

 

“Konsolidasi langsung ke daerah sangat kami butuhkan agar seluruh struktur NU merasa menjadi bagian yang setara dalam organisasi. Kami harap, siapapun ketua yang terpilih nanti sekali-kali berkunjung ke Papua Tengah karena selama ini belum pernah ada dari pusat datang ke Papua. Bahkan saat peresmian gedung PCNU Timika tidak hadir yang justru wakil Presiden RI,” harapnya.