Jeritan Warga Aceh Tengah Pascabanjir Bandang: Ekonomi Lumpuh, Anak-anak Belajar di Tenda
NU Online · Rabu, 15 April 2026 | 15:30 WIB
Jakarta, NU Online
Warga Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, masih bertahan di tenda darurat pasca banjir bandang Hingga saat ini. Perekonomian lumpuh, sekolah tertimbun lumpur, dan anak-anak terpaksa belajar di tenda darurat karena belum ada perbaikan dari pemerintah.
Kepala Desa Reje Payung, Sejahtera menjelaskan bahwa banjir bandang yang melanda desa masih menimbulkan dampak besar hingga kini.
Memasuki awal April, curah hujan kembali tinggi dan air terus meluap, sehingga satu-satunya akses jalan melalui jembatan apung kembali terputus.
Ia menuturkan bahwa masyarakat belum merasa aman tinggal di desa karena tanggul normalisasi belum dibangun. Akibatnya, setiap kali hujan deras turun, warga harus berjaga malam dan tidak bisa tidur nyenyak karena khawatir air kembali meluap.
“Masyarakat masih merasa tidak nyaman tinggal di desa. Hal itu karena pemasangan Tanggul, normalisasi belum dilakukan hingga sekarang. Setiap kali hujan deras turun, warga tidak bisa tidur nyenyak dan harus berjaga sepanjang malam,” ujar Sejahtera kepada NU Online melalui sambungan telepon, pada Selasa (14/4/2026).
Sejahtera menjelaskan bahwa kondisi perekonomian warga Reje Payung lumpuh total setelah banjir dan longsor. Sawah dan perkebunan rusak, akses jalan terputus. Hingga kini masyarakat belum beraktivitas ke kebun.
Ia menerangkan, jarak kebun yang jauh serta trauma yang masih dirasakan membuat warga tidak nyaman untuk bepergian.
“Perekonomian masyarakat benar-benar lumpuh. Sawah dan perkebunan hancur, jalan terputus akibat banjir dan longsor. Hingga kini warga belum bisa kembali ke kebun karena jaraknya jauh dan banyak yang masih trauma, sehingga tidak nyaman untuk bepergian,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa SD Negeri 10 Linge belum diperbaiki oleh pemerintah setelah tertimbun material banjir.
Sejahtera menuturkan, sebanyak 40 siswa di Reje Payung terpaksa melanjutkan kegiatan belajar di tenda darurat karena bangunan sekolah belum bisa digunakan.
“SD Negeri 10 Linge hingga kini belum mendapat perbaikan dari pemerintah. Akibatnya, sekitar 40 siswa di Reje Payung masih harus belajar di tenda darurat karena sekolah mereka tertimbun material pasca banjir,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa selama empat bulan pascabencana, warga Reje Payung harus bertahan di pengungsian. Sebagian menempati tenda darurat, kantor desa, dan ruang sekolah TK.
Ia menambahkan, sebagian pengungsi sudah diarahkan ke hunian sementara (huntara), meski jumlahnya belum mencukupi seluruh warga.
“Masyarakat sudah empat bulan bertahan di pengungsian. Sebagian tinggal di tenda darurat, ada yang menempati kantor desa, dan ada pula di ruang sekolah TK. Saat ini, sebagian pengungsi sudah dipindahkan ke hunian sementara (huntara),” ujarnya.
Sejahtera juga mengungkapkan bahwa sejak bencana melanda, infrastruktur jalan di Desa Reje Payung tidak bisa digunakan. Ia menjelaskan bahwa warga hanya bergantung pada jembatan apung darurat yang dibangun bersama relawan, TNI, dan Polri. Meski begitu, jembatan tersebut tidak kokoh dan sering rusak ketika hujan deras, sehingga mobilitas masyarakat tetap terbatas.
“Sejak awal bencana, semua jalan di Desa Reje Payung terputus. Satu-satunya akses hanya lewat jembatan apung darurat hasil kerja sama relawan, TNI, dan Polri. Namun jembatan itu mudah rusak saat hujan deras,” katanya.
Sejahtera mengatakan, jembatan gantung sedang dibangun dan diperkirakan selesai dalam dua hingga tiga bulan. Namun warga berharap adanya jembatan yang lebih layak dan permanen yang dapat dilalui kendaraan roda empat, mengingat sejak 1996 akses mobil ke desa terputus karena desa ini adalah desa yang terpencil dan jauh dari kota.
“Sekarang memang sedang dibangun jembatan gantung di Desa Reje Payung, tapi masyarakat berharap ada jembatan permanen yang bisa dilalui mobil. Sejak 1996 akses kendaraan roda empat ke desa terputus,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya jembatan tersebut untuk menunjang akses pendidikan yang terpusat di desa.
Selain itu, Sejahtera mengungkapkan bahwa pemulihan pascabencana belum optimal, masih banyak bongkahan kayu di sekitar rumah warga. Ia berharap pemerintah segera menurunkan alat berat sekaligus memasang tanggul.
“Jembatan permanen sangat penting di Desa Reje Payung. Akses pendidikan juga terpusat di desa ini, dari SD hingga SMA. Kami berharap pemerintah segera menurunkan alat berat sekaligus memasang tanggul,” ujarnya.
Sejahtera menyampaikan harapan masyarakat Reje Payung agar pemerintah segera membangun tanggul dan melakukan normalisasi sungai.
Menurutnya, jika tanggul sudah terpasang maka warga akan merasa lebih aman, sehingga bisa kembali berusaha dan mandiri tanpa harus bergantung pada bantuan pemerintah.
“Harapan kami, pemerintah segera membangun tanggul dan memperbaiki aliran sungai agar warga merasa aman dan bisa mandiri,” ujarnya.
Senada, Warga Reje Payung, Mulia Rizki menekankan pentingnya percepatan pembangunan jembatan agar aktivitas ekonomi dan kehidupan warga bisa kembali normal.
“Mempercepat pembangunan Desa Reje Payung karena itu salah satunya harapan kami untuk penanganan usaha kami agar kehidupan masyarakat kembali normal,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah segera menurunkan alat berat untuk membersihkan kampung, termasuk sekolah yang masih tertimbun material banjir.
“Harapan kami selaku masyarakat untuk cepat pembuatan tanggul atau normalisasi sungai, penurunan alat berat yang kami harapkan untuk pembersihan Desa Reje Payung belum masih dibersihkan, seperti sekolah SDN 10 Linge yang harus dengan alat berat karena bekas banjir masih tinggi dan rumah sekolah tertimbun,” pungkasnya.
Kontributor: Ahmad Syafiq S
Terpopuler
1
Kader NasDem Demo, Redaksi Tempo Tegaskan Pemberitaan Sesuai Kode Etik
2
Savic Ali Kritik Arah Kebijakan Pemerintah yang Sentralistik, Jauh dari Kepentingan Rakyat Kecil
3
UI Investigasi Dugaan Pelecehan Seksual yang Libatkan 16 Mahasiswa Fakultas Hukum
4
Tanya Jawab Imam Asy’ari dan Kalangan Muktazilah soal Siksa Kubur
5
Bahaya Tidur Berlebihan: 8 Dampak Buruk bagi Kesehatan Menurut Imam Munawi
6
Perundingan AS-Iran Gagal, Ketum PBNU dan Paus Leo XIV Ajak Seluruh Umat Wujudkan Perdamaian
Terkini
Lihat Semua