Syariah

Bahaya Tidur Berlebihan: 8 Dampak Buruk bagi Kesehatan Menurut Imam Munawi

NU Online  ·  Ahad, 12 April 2026 | 10:00 WIB

Bahaya Tidur Berlebihan: 8 Dampak Buruk bagi Kesehatan Menurut Imam Munawi

Bahaya Tidur Berlebihan (Freepik)

Tidur sering kita anggap hanya sebagai kegiatan rutin untuk melepas lelah. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, tidur adalah salah satu bentuk rahmat dan istirahat alami yang Allah ciptakan khusus untuk manusia.

 

Saat tubuh terlelap, Allah memberi kesempatan bagi kita untuk benar-benar berhenti dari aktivitas dunia, memulihkan tenaga, dan menata kembali keseimbangan fisik maupun mental. Tanpa kita sadari, di saat tidur itulah tubuh diperbaiki, pikiran ditenangkan, dan energi dipulihkan agar kita siap menjalani hari berikutnya.

 

Hal ini ditegaskan dengan indah dalam Al-Qur’an, Surat An-Naba’ ayat 9:

 


وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ

 

Artinya: “Kami menjadikan tidurmu untuk beristirahat.” (QS. An-Naba’: 9)


Syekh Ibnu ‘Asyur dalam kitab Tafsir At-Tahrir wat Tanwir mengatakan ayat tersebut mengandung bentuk karunia dan nikmat besar (imtinan) dari Allah kepada manusia. Allah menghadiahkan sistem tidur kepada manusia agar mereka bisa beristirahat dari lelahnya aktivitas dan kerja keras yang dilakukan sepanjang siang hari. Tanpa kita sadari, tidur bukanlah sesuatu yang sepenuhnya berada di bawah kendali kita.

 

Allah menjadikan rasa kantuk dan tidur terjadi secara alami, bahkan “memaksa” manusia untuk berhenti dari segala aktivitasnya. Ini adalah cara Allah memberikan waktu istirahat bagi sistem saraf yang berpusat di otak, yang setiap hari bekerja tanpa henti.

 

Saat manusia tidur, saraf-saraf yang sebelumnya lelah karena penggunaan indra, gerakan tubuh, dan berbagai aktivitas lainnya akan kembali memulihkan kekuatannya. Proses ini terjadi secara otomatis, hingga sekuat apa pun seseorang berusaha untuk tetap terjaga, rasa kantuk tetap akan mengalahkannya.

 

Inilah bentuk kelembutan dan kasih sayang Allah kepada manusia. Lewat cara ini, Allah menjaga kesehatan akal dan tubuh manusia, tanpa mereka harus selalu sadar untuk merawatnya sendiri. Simak keterangan lebih jauh Ibnu Asyur;


وَفِي هَذَا امْتِنَانٌ عَلَى النَّاسِ بِخَلْقِ نِظَامِ النَّوْمِ فِيهِمْ لِتَحْصُلَ لَهُمْ رَاحَةٌ مِنْ أَتْعَابِ الْعَمَلِ الَّذِي يَكْدَحُونَ لَهُ فِي نَهَارِهِمْ فَاللَّهُ تَعَالَى جَعَلَ النَّوْمَ حَاصِلًا لِلْإِنْسَانِ بِدُونِ اخْتِيَاره، فالنوم يلجىء الْإِنْسَانَ إِلَى قَطْعِ الْعَمَلِ لِتَحْصُلَ رَاحَةٌ لِمَجْمُوعِهِ الْعَصَبِيِّ الَّذِي رُكْنُهُ فِي الدِّمَاغِ، فَبِتِلْكَ الرَّاحَةِ يَسْتَجِدُّ الْعَصَبُ قُوَاهُ الَّتِي أَوْهَنَهَا عَمَلُ الْحَوَاسِّ وَحَرَكَاتُ الْأَعْضَاءِ وَأَعْمَالُهَا، بِحَيْثُ لَوْ تَعَلَّقَتْ رَغْبَةُ أَحَدٍ بِالسَّهَرِ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ أَنْ يَغْلِبَهُ النَّوْمُ وَذَلِكَ لُطْفٌ بِالْإِنْسَانِ بِحَيْثُ يَحْصُلُ لَهُ مَا بِهِ مَنْفَعَةُ مَدَارِكِهِ قَسْرًا عَلَيْهِ لِئَلَّا يَتَهَاوَنَ بِهِ، وَلِذَلِكَ قِيلَ: إِنَّ أَقَلَّ النَّاسِ نَوْمًا أَقْصَرُهُمْ عُمْرًا وَكَذَلِكَ الْحَيَوَان.


Artinya: "Di dalam (ayat) ini terdapat ungkapan nikmat (imtinan) kepada manusia atas penciptaan sistem tidur pada diri mereka, agar mereka mendapatkan istirahat dari keletihan amal usaha yang mereka kerjakan dengan susah payah di siang hari.

 

Allah Ta'ala menjadikan tidur itu terjadi pada manusia di luar ikhtiar (kehendak) mereka sendiri. Tidur memaksa manusia untuk menghentikan pekerjaannya demi memberikan istirahat bagi sistem sarafnya yang berpusat di otak.

 

Melalui istirahat tersebut, saraf-saraf akan memperbarui kekuatan-kekuatannya yang telah melemah akibat kerja indra, gerakan anggota tubuh, serta aktivitas lainnya. Sedemikian rupa sehingga, sekiranya seseorang berkeinginan untuk terus terjaga (begadang), niscaya rasa kantuk tetap akan mengalahkannya.

 

Hal itu merupakan bentuk kelembutan Allah kepada manusia, agar ia mendapatkan manfaat bagi kemampuan kognitifnya (madarikihi) secara terpaksa, supaya ia tidak meremehkan kesehatan dirinya sendiri. Oleh karena itu, dikatakan: 'Sesungguhnya orang yang paling sedikit tidurnya adalah orang yang paling pendek umurnya', dan demikian pula berlaku pada hewan." (Tafsir At-Tahrir wat Tanwir, [Tunisia, Darut Tunisia: 1984 M], jilid. XXX, hal. 19)


Di sini kita belajar bahwa menjaga kesehatan melalui tidur yang teratur adalah bentuk syukur yang paling nyata. Tidur bukan sekadar mengistirahatkan mata, tapi proses mengembalikan keseimbangan jiwa agar kita siap beraktivitas kembali dengan penuh integritas.


Namun, meskipun tidur adalah obat segala lelah, tapi sesuatu yang berlebihan, termasuk tidur, bisa berubah menjadi racun bagi tubuh dan jiwa!


8 Efek Samping Tidur Berlebihan bagi Tubuh


Tidur memang penting buat tubuh, tapi Imam Al-Munawi mengingatkan kalau kebanyakan tidur juga bisa berdampak buruk, bukan cuma untuk fisik tapi juga kondisi spiritual seseorang. Kalau sudah kebiasaan, hal ini bisa bikin orang jadi lalai, kurang fokus menjalani aktivitas sehari-hari, bahkan bisa melemahkan kesadaran hati dan memunculkan keraguan dalam berpikir. Selain itu, keseimbangan emosi dan kondisi psikologis juga bisa ikut terganggu, dan tubuh jadi terasa lebih lemah karena aktivitas metabolisme tidak berjalan maksimal.

Dari sisi kesehatan, tidur berlebihan juga tidak bisa dianggap sepele. Kondisi ini bisa memicu penumpukan lendir (dahak) dan empedu hitam (sawda’) dalam tubuh, melemahkan fungsi pencernaan seperti lambung, sampai menyebabkan bau mulut yang kurang sedap. 


Dalam beberapa kasus, bisa juga muncul bisul kecil, penglihatan jadi menurun, hingga gairah seksual ikut melemah. Bahkan, kualitas sperma bisa ikut terpengaruh dan berdampak pada kesehatan keturunan. Kalau dibiarkan, tubuh pun jadi gampang lemas, tidak bertenaga, dan rentan mengalami gangguan kesehatan lainnya.

 

Simak penjelasan Imam Munawi berikut; 


قَالَ الْمُنَاوِيُّ: اعْلَمْ أَنَّ كَثْرَةَ النَّوْمِ غَيْرُ مَحْمُودَةٍ لِكَثْرِ مَفَاسِدِهِ الْأُخْرَوِيَّةِ، بَلْ وَالدُّنْيَوِيَّةِ، فَإِنَّهُ يُورِثُ الْغَفْلَةَ وَالشُّبُهَاتِ وَفَسَادَ الْمِزَاجِ الطَّبِيعِيِّ وَالنَّفْسَانِيِّ وَيُكْثِرُ الْبَلْغَمَ وَالسَّوْدَاءَ وَيُضْعِفُ الْمَعِدَةَ وَيُنْتِنَ الْفَمَ وَيُوَلِّدُ دُونَ الْقُرُحِ وَيُضْعِفُ الْبَصَرَ وَالْبَاهَ حَتَّى لَا يَكُونَ لَهُ دَاعِيَةٌ لِلْجِمَاعِ، وَيُفْسِدُ الْمَاءَ وَيُورِثُ الْأَمْرَاضَ الْمُزْمِنَةَ فِي الْوَلَدِ الْمُتَخَلَّقِ مِنْ تِلْكَ النُّطْفَةِ حَالَ تَكْوِينِهِ، وَيُضْعِفُ الْجَسَدَ.

 

Artinya: Al-Munawi berkata: Ketahuilah bahwa banyak tidur tidaklah terpuji karena banyaknya kerusakan yang ditimbulkannya, baik kerusakan ukhrawi maupun duniawi. Karena sesungguhnya ia menimbulkan kelalaian dan keraguan, merusak kondisi temperamen alami dan psikologis, memperbanyak lendir (balgham) dan empedu hitam (sawda), melemahkan lambung, menimbulkan bau mulut, memunculkan luka-luka/borok, melemahkan penglihatan dan melemahkan syahwat (al-bāh) hingga tidak lagi ada dorongan untuk berhubungan intim (jima’), merusak air mani, serta menyebabkan penyakit-penyakit kronis pada anak yang terbentuk dari sperma tersebut pada saat proses penciptaannya, dan juga melemahkan tubuh. (Hasyiah Bujairami ‘alal Khathib, [Damaskus, Darul Fikr: 1415 H], jilid. II, hal. 383)

 


Lebih jauh, dikutip dari website kesehatan Hallodoc, kebiasaan tidur terlalu lama atau oversleeping sebaiknya dihindari karena justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Kondisi ini dalam dunia medis dikenal sebagai hipersomnia, yaitu keadaan ketika seseorang merasa selalu mengantuk dan ingin tidur terus-menerus. Jika dibiarkan, pola tidur yang tidak seimbang ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.

 

Ada beberapa dampak yang bisa muncul akibat kebiasaan tidur berlebihan. Mulai dari meningkatnya risiko diabetes karena kurangnya aktivitas fisik, hingga obesitas akibat tubuh yang lebih sering diam dan tidak banyak bergerak. 

 

Pun, tidur terlalu lama juga dapat memicu sakit kepala, nyeri punggung, serta memperburuk kondisi depresi bagi sebagian orang. Dalam kasus yang lebih serius, kebiasaan ini bahkan dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan jantung yang bisa berujung pada kematian.

 

Menurut Wulan Khoirul Rohmah dkk dalam jurnal HIGEIA Journal of Public Health Research and Development (Universitas Negeri Semarang), baik kelebihan maupun kekurangan tidur sama-sama bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Kualitas tidur yang tidak baik dapat menurunkan aktivitas sehari-hari, membuat tubuh mudah lelah dan lemah, hingga mengganggu tanda-tanda vital serta kondisi neuromuskular. Selain itu, proses penyembuhan luka bisa menjadi lebih lambat dan daya tahan tubuh pun ikut menurun.

 

Tidak hanya berdampak pada fisik, kualitas tidur yang buruk juga berpengaruh pada kondisi psikologis seseorang. Dampaknya bisa berupa stres, depresi, cemas, sulit berkonsentrasi, hingga kemampuan coping yang tidak efektif. Bahkan, kurang tidur atau tidur yang tidak berkualitas juga telah dikaitkan dengan berbagai penyakit serius seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, obesitas, dan depresi. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kualitas tidur yang seimbang sangat penting untuk kesehatan tubuh dan mental secara keseluruhan.

 

Walhasil, Sebagai penutup, tidur yang cukup memang merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan tubuh dan keseimbangan hidup. Namun, segala sesuatu yang berlebihan tetap tidak baik, termasuk dalam hal tidur. Ketika kebiasaan tidur tidak terkontrol, dampaknya bukan hanya terasa pada tubuh, tetapi juga pada produktivitas, pola pikir, hingga kualitas kehidupan sehari-hari.

 

Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga keseimbangan antara istirahat dan aktivitas. Dengan mengatur waktu tidur secara bijak, tubuh tetap segar, pikiran lebih jernih, dan semangat dalam menjalani aktivitas pun terjaga. Pada akhirnya, hidup yang seimbang akan membantu kita menjadi pribadi yang lebih sehat, produktif, dan terarah.


---------------

Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.