Daerah

Kenduri Blang, Warisan Peradaban Agraris Aceh yang Menjaga Harmoni Alam dan Kehidupan Sosial

NU Online  ·  Kamis, 11 Juni 2026 | 18:00 WIB

Kenduri Blang, Warisan Peradaban Agraris Aceh yang Menjaga Harmoni Alam dan Kehidupan Sosial

Warga Blang Dalam Bandar Dua menggelar kenduri Blang dan doa bersama jelang turun ke dawah di salah satu maqbarah waliyullah wilayah perbukitan. (Foto: Helmi Abu bakar/NU Online)

Banda Aceh, NU Online

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan pola hidup masyarakat, tradisi Kenduri Blang masih bertahan sebagai salah satu warisan budaya yang hidup di berbagai wilayah Aceh. Bagi masyarakat agraris, Kenduri Blang bukan sekadar seremoni menjelang turun ke sawah, melainkan ruang spiritual, sosial, dan budaya yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur.


Peneliti Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PWNU Aceh, Tgk Muhajir Al-Fairusy, menilai Kenduri Blang memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar tradisi makan bersama atau doa sebelum musim tanam.


Selain aktif sebagai peneliti, Muhajir juga merupakan Ketua Senat STAIN Teungku Chik Dirundeng Meulaboh dan dikenal menaruh perhatian pada kajian budaya, agama, serta masyarakat Aceh.


Menurutnya, dalam perspektif antropologi, Kenduri Blang dapat dipahami sebagai institusi budaya yang berfungsi menjaga hubungan antara manusia, alam, komunitas, dan nilai-nilai religius yang menyatu dalam kehidupan masyarakat agraris Aceh.


“Kenduri Blang bukan hanya ritual adat. Di dalamnya terdapat mekanisme sosial yang menghubungkan manusia dengan lingkungan, memperkuat solidaritas masyarakat, sekaligus meneguhkan nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi kehidupan petani Aceh,” ujar Muhajir kepada NU Online, Rabu (10/6/2026), saat diskusi di RK Kupi Lamgugop, Banda Aceh.


Ia menjelaskan, keberadaan Kenduri Blang telah tercatat sejak lama dalam berbagai literatur sejarah. Salah satu catatan penting berasal dari orientalis Belanda, Snouck Hurgronje, yang menyebut tradisi tersebut sebagai Luaih Blang atau kenduri lapangan.


Dalam catatan itu dijelaskan bahwa masyarakat mengadakan kenduri sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus doa untuk kemakmuran tanah pertanian pada musim berikutnya. Berbagai makanan seperti nasi, daging, dan hidangan lainnya disumbangkan secara sukarela oleh warga gampong.


Biasanya masyarakat berkumpul di areal persawahan setelah waktu zuhur. Seorang malem atau tokoh agama memimpin pembacaan doa, kemudian seluruh peserta menikmati hidangan bersama dalam suasana penuh kebersamaan.


Bagi Muhajir, tradisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sejak dahulu telah membangun sistem pertanian yang tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga memperhatikan hubungan sosial dan keseimbangan alam.


Ritual Ekologis Masyarakat Agraris

Secara antropologis, Kenduri Blang merupakan bagian dari ritual ekologis (ecological ritual) yang menandai dimulainya siklus pertanian. Ritual ini menjadi sarana bagi masyarakat untuk memperbarui komitmen kolektif dalam menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan hidup.


“Sawah tidak hanya dipandang sebagai lahan ekonomi yang menghasilkan padi. Dalam pandangan masyarakat Aceh, sawah juga merupakan ruang budaya yang mengandung nilai sosial, spiritual, dan ekologis,” jelasnya.


Karena itu, Kenduri Blang berfungsi sebagai mekanisme budaya yang menghubungkan aktivitas pertanian dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam.


Muhajir menambahkan, jika ditelaah melalui pendekatan antropologi simbolik yang diperkenalkan Clifford Geertz, Kenduri Blang merupakan sistem simbol yang sarat makna.


Doa bersama menjadi simbol ketergantungan manusia kepada Allah SWT. Hidangan yang dibawa secara sukarela mencerminkan nilai gotong royong dan solidaritas sosial.


Musyawarah petani serta kehadiran Keujruen Blang melambangkan tata kelola pertanian yang terorganisir dan berbasis kesepakatan bersama.


“Seluruh unsur dalam Kenduri Blang mengandung simbol-simbol budaya yang memperkuat identitas kolektif masyarakat agraris Aceh. Karena itu, tradisi ini bukan hanya tentang panen, tetapi juga tentang membangun kebersamaan,” katanya.


Fungsi Sosial dan Relevansi Masa Kini

Lebih jauh, Kenduri Blang juga memiliki fungsi praktis dalam kehidupan masyarakat. Melalui momentum tersebut, para petani menyepakati jadwal tanam serentak, membahas distribusi air irigasi, menyelesaikan persoalan di kawasan persawahan, hingga memperkuat koordinasi antarpelaku pertanian.


Fungsi-fungsi itu menunjukkan bahwa Kenduri Blang sesungguhnya merupakan institusi sosial yang memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan sistem pertanian masyarakat.


Dalam konteks Aceh masa kini, Muhajir menilai nilai-nilai yang terkandung dalam Kenduri Blang justru semakin relevan. Di tengah tantangan perubahan iklim, berkurangnya lahan pertanian, dan melemahnya solidaritas sosial akibat perubahan gaya hidup, tradisi ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi pembangunan pertanian berkelanjutan.


“Kearifan lokal seperti Kenduri Blang mengajarkan bahwa pembangunan tidak boleh memisahkan manusia dari alam dan nilai-nilai sosialnya. Tradisi ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kebersamaan dan kesadaran menjaga lingkungan,” ujarnya.


Ia berharap generasi muda Aceh tidak memandang Kenduri Blang sebagai tradisi kuno yang ditinggalkan zaman. Sebaliknya, tradisi tersebut perlu dipahami sebagai warisan peradaban yang mengandung pengetahuan lokal, etika lingkungan, dan nilai kebersamaan yang tetap relevan hingga hari ini.


“Karena itu, Kenduri Blang harus terus dirawat sebagai bagian dari identitas budaya Aceh. Ia bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan institusi sosial-budaya yang menjaga keberlanjutan pertanian, memperkuat kohesi sosial, dan merawat hubungan harmonis antara manusia, alam, serta nilai-nilai agama,” pungkasnya.