Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
NU Online · Kamis, 11 Juni 2026 | 15:15 WIB
Muhammad Faizin
Penulis
Dalam beberapa waktu terakhir ini, kondisi ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi ujian yang dirasakan oleh masyarakat. Dalam menghadapi kondisi seperti ini Rasulullah saw. telah mengajarkan kesederhanaan, kesabaran, serta kebersamaan dengan tetap melakukan ikhtiar dan tawakkal. Sebagai orang yang beriman, kita meyakini bahwa setiap kesulitan pasti mengandung hikmah dan setiap ujian telah Allah sertai dengan jalan keluar.
Naskah khutbah Jumat berikut berjudul: "Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Mengawali khutbah Jumat ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan seluruh jamaah untuk senantiasa menguatkan ketakwaan kepada Allah swt sebagai bekal terbaik dalam mengarungi dinamika kehidupan yang penuh permasalahan. Dengan ketakwaan yang tertanam kuat dalam diri kita, Allah akan memberi jalan keluar dari segala permasalahan dan senantiasa memberi rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Thalaq ayat 2 dan 3:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ ٢ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ٣
Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.”
Pesan ini selaras dengan kondisi ekonomi yang kita hadapi saat ini. Belakangan ini kita bersama-sama merasakan semakin beratnya kehidupan ekonomi. Harga berbagai kebutuhan pokok dan barang-barang lainnya mengalami kenaikan. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap daya beli kita dan menimbulkan kegelisahan dalam kehidupan ekonomi rumah tangga.
Namun sesungguhnya, ujian ekonomi seperti ini bukanlah hal yang baru. Pada masa Rasulullah saw., masyarakat Madinah juga pernah mengalami kenaikan harga dan kesulitan ekonomi. Dalam Kitab Kanzul Ummal dikisahkan bahwa harga-harga di Kota Madinah melambung dan kesulitan semakin berat. Dalam situasi seperti itu, Rasulullah saw. tidak mengajarkan kepanikan, tetapi mengajarkan kesabaran, kebersamaan, serta keyakinan kepada keberkahan Allah Swt.
Baca Juga
Khutbah Jumat: 4 Resep Hidup Bahagia
Rasulullah mengingatkan bahwa Allah telah memberi karunia keberkahan dalam kebersamaan. Rasulullah menyebutkan bahwa makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang cukup untuk lima atau enam orang.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Dari situasi sulit di zaman Rasulullah ini, beliau telah mengajarkan tiga hal penting, yaitu kesabaran, optimisme, dan kebersamaan. Kesulitan ekonomi tidak boleh menjadikan kita saling menjatuhkan, memutus silaturahim, atau hanya memikirkan diri sendiri. Justru pada saat seperti inilah semangat gotong royong, saling membantu, dan berbagi kepada sesama harus semakin diperkuat.
Rasulullah pun menyampaikan pesan dan kabar gembira kepada para pedagang, yang merupakan mata rantai dalam pemenuhan kebutuhan hidup orang banyak. Kabar gembira ini tertuang dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah:
التَّاجِرُ الأَمِينُ الصَّدُوقُ الْمُسْلِمُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: "Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada pada hari kiamat." (HR Ibnu Majah).
Oleh karena itu, di tengah keadaan ekonomi yang sulit, jangan sampai ada praktik penimbunan barang, kecurangan dalam timbangan, ataupun pengambilan keuntungan secara berlebihan yang merugikan masyarakat. Hal ini tentu akan merugikan orang banyak dan menjadi sumber kesulitan baru dalam ekonomi.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Saat menghadapi kesulitan ekonomi, Rasulullah saw juga mengajarkan kita tentang kesederhanaan. Beliau mempraktikkan hidup sederhana meskipun memiliki kedudukan yang sangat mulia. Teladan ini perlu kita terapkan dalam kehidupan modern dengan menghindari sikap pamer hidup mewah dan berlebihan. Di zaman sekarang, ketika media sosial sering menampilkan kemewahan dan gaya hidup konsumtif, Rasulullah saw. mengajarkan agar kita lebih mendahulukan kebutuhan daripada keinginan.
Beliau bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Artinya: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian." (HR Muttafaq 'Alaih).
Pesan Rasulullah ini mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur. Banyak orang yang sesungguhnya hidup berkecukupan, tetapi merasa kurang karena terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain yang berada di atasnya. Rasulullah mengingatkan kita untuk hidup seperti seorang musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan.
Seorang musafir tidak membawa terlalu banyak beban. Ia hanya membawa apa yang diperlukan dalam perjalanan. Demikian pula kita diajarkan hidup secukupnya, tidak berlebihan, dan tidak diperbudak oleh harta. Sebab pada hakikatnya, harta yang benar-benar menjadi milik kita hanyalah yang kita makan, yang kita gunakan dengan baik, dan yang kita sedekahkan di jalan Allah.
Rasulullah saw bersabda:
وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ، إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟
Artinya: “Wahai anak Adam tidaklah ada dari hartamu kecuali yang engkau makan kemudian lenyap, atau pakaian yang engkau pakai kemudian usang, atau yang engkau sedekahkan dan jadi simpananmu (di akhirat).” (HR Muslim)
Allah swt pun telah mengingatkan kita untuk hidup secukupnya sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 31:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ ٣١
Artinya: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Oleh karena itu, Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari kita teladani hidup sederhana dan penuh kebersamaan sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saat menghadapi kondisi ekonomi yang sulit. Semoga Allah Swt. memberikan keberkahan pada rezeki kita, melapangkan kesulitan ekonomi yang sedang dihadapi, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur, bersabar, dan meneladani akhlak Rasulullah saw. Amin
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ .اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung.
Terpopuler
1
Logo Munas dan Konbes NU 2026, Unduh di Sini
2
Munas-Konbes NU 2026 di Ploso Bakal Dihadiri Lebih dari 500 Peserta dan Peninjau
3
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
4
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
5
Gelar Konfercab X, PCINU Australia-New Zealand Tegaskan Wajah Diaspora NU yang Inklusif dan Bermanfaat
6
Gus Ipul: Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan Masih Sebatas Usulan
Terkini
Lihat Semua