Daerah

Pascabanjir Bandang Solok: 1 Meninggal Dunia, 1 Orang Hilang, 100 Warga Mengungsi

NU Online  ยท  Kamis, 24 September 2026 | 13:30 WIB

Pascabanjir Bandang Solok: 1 Meninggal Dunia, 1 Orang Hilang, 100 Warga Mengungsi

Kondisi jalanan pascabanjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada Rabu (24/9/2026). (Foto: dok BNPB)

Jakarta, NU Online

Banjir bandang menerjang wilayah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada Senin (21/9/2026) malam. Peristiwa yang terjadi setelah hujan berintensitas tinggi melanda Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, itu menyebabkan debit Sungai Batang Laso meluap hingga ke permukiman dan perkantoran.

 

Luapan sungai juga membawa material longsor dari bukit di sekitar wilayah tersebut. Lebih dari 100 warga dilaporkan mengungsi dan puluhan rumah mengalami kerusakan. Hingga Kamis (24/9/2026) pagi, satu orang meninggal dunia dan satu orang lainnya masih dinyatakan hilang.

 

Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Udrekh mengatakan, tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap warga yang hilang. Upaya pencarian dilakukan hingga satu minggu.

 

โ€œJadi memang masih belum ditemukan. Kami berupaya terus tentunya sampai waktu yang selama satu minggu. Hari ini akan kita upayakan apa yang dilakukan dalam proses evakuasi,โ€ ujarnya dalam acara Teropong Bencana yang digelar secara daring pada Kamis (24/9/2026).

 

โ€œSatu orang yang saat ini hilang itu memang berada di lokasi yang cukup tertutup oleh lumpur. Satuan tim tengah berupaya menembus lokasinya,โ€ lanjutnya.

 

Udrekh menyampaikan, tim gabungan masih melakukan penanganan di lokasi terdampak, termasuk membersihkan sisa material dan mengembangkan zona termal. Kondisi medan menjadi salah satu kendala dalam proses pencarian.

 

โ€œTapi memang ini cukup sulit untuk dilakukan pembersihan. Lumpur-lumpur menutupi jalanan, pohon yang tumbang cukup banyak juga,โ€ katanya.

 

Ia mengatakan, aliran sungai yang berpindah ke badan jalan juga menyulitkan proses penanganan. Tim mengupayakan penggunaan pompa dan membuat jalur baru untuk mengantisipasi hujan yang berpotensi memicu bencana susulan.

 

Udrekh mengungkapkan, hujan masih terjadi meski kemudian berhenti. Penanganan melibatkan masyarakat, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah. Kementerian Kesehatan juga turut mendampingi BNPB.

 

โ€œKemarin (Rabu, 23 September 2026) dan hari ini pun terjadi hujan dan alhamdulillah sudah cukup berhenti,โ€ katanya.

 

Selain rumah warga, kerusakan juga terjadi pada perkantoran. Sebanyak 11 kantor mengalami kerusakan sehingga pelayanan masyarakat terganggu.

 

โ€œPemerintah daerah sedang berupaya untuk mencari jalan keluar, misalnya dengan mempersiapkan tenda-tenda yang dipergunakan untuk menunjang pelayanan sementara,โ€ ujar Udrekh.