Daerah

Pembimbing Haji Dituntut Mampu Hadapi Jamaah Beragam Karakter

NU Online  ยท  Sabtu, 26 September 2026 | 17:00 WIB

Pembimbing Haji Dituntut Mampu Hadapi Jamaah Beragam Karakter

Pembukaan Sertifikasi PIHU Angkatan III di Semarang, Jumat (25/9/2026) (NUO Jateng)

Semarang, NU Online

Pembimbing ibadah haji dituntut tidak hanya menguasai manasik, tetapi juga mampu menghadapi jamaah dengan karakter dan kebutuhan yang beragam.

 

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Nasihun Amin mengatakan, perbedaan usia, pendidikan, profesi, hingga latar belakang budaya jamaah menjadi tantangan yang harus diantisipasi pembimbing haji.

 

โ€œKetika membimbing ibadah haji, kita akan ketemu dengan sekian banyak orang dari kultur yang berbeda. Kita akan membimbing masyarakat yang sangat variatif,โ€ ujar Nasihun saat membuka Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah (PIHU) Angkatan III Tahun 2026 di BBPMP Jawa Tengah, Srondol, Semarang, Jawaย Tengah, Jumat (25/9/2026) diberitakan NU Online Jateng.

 

Menurut Nasihun, kondisi tersebut membuat kebutuhan pendampingan setiap jamaah tidak selalu sama. Pembimbing perlu memiliki kemampuan beradaptasi dan kesiapan mental untuk menghadapi beragam karakter jamaah.

 

โ€œKarena kita nanti akan tinggal di negara orang, sehingga kulturnya pun menjadi berbeda. Oleh karena itu, kesiapan mental untuk bertemu dengan sekian banyak kultur itu menjadi penting,โ€ katanya.

 

Pahami Regulasi

Selain kemampuan menghadapi jamaah, Nasihun menekankan pentingnya pemahaman terhadap regulasi penyelenggaraan ibadah haji yang berlaku di Indonesia dan Arab Saudi.

 

โ€œPembimbing ibadah haji dan umrah juga harus mengetahui berbagai regulasi, baik yang berkaitan dengan perhajian di Indonesia maupun ketentuan yang ditetapkan pemerintah Arab Saudi,โ€ jelas Nasihun.

 

Namun, pemahaman regulasi tersebut harus tetap diimbangi penguasaan ilmu manasik. Pembimbing haji harus memahami rukun, wajib, sunnah, serta ketentuan lain dalam pelaksanaan ibadah haji.

 

โ€œApa pun yang terjadi, ibadah haji itu berkaitan dengan rukun, wajib, sunnah, dan yang lain-lain. Jadi ini harus betul-betul dipahami,โ€ tegasnya.

 

Melalui sertifikasi tersebut, FDK UIN Walisongo berharap calon pembimbing haji memiliki bekal yang mencakup penguasaan manasik, pemahaman regulasi, kemampuan menghadapi jamaah yang beragam, serta kesiapan fisik dan mental.

 

Kesehatan Jamaah Harus Diperhatikan

Kepala Bagian Tata Usaha Kementerian Haji (Kemenhaj) Jawa Tengah Muh Arif Hanafi mengatakan pembimbing memiliki posisi penting karena berhadapan langsung dengan jamaah selama pelaksanaan ibadah haji.

 

โ€œPembimbing itu sangat-sangat penting. Hal yang menentukan dalam suatu kegiatan penyelenggaraan ibadah haji adalah ketika puncaknya jemaah haji melaksanakan ibadah haji,โ€ kata Arif.

 

Ia meminta peserta mengikuti seluruh materi sertifikasi secara serius agar pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bekal saat mendampingi jamaah di lapangan.

 

Menurut Arif, pelaksanaan ibadah haji harus mengacu pada ketentuan syariah serta regulasi yang ditetapkan pemerintah Indonesia dan Arab Saudi.

 

Ia juga mengingatkan calon pembimbing untuk menjaga kesehatan diri dan jamaah. Pendampingan jamaah dalam berbagai tahapan ibadah haji membutuhkan kesiapan jasmani dan rohani.

 

โ€œSelalu menjaga kesehatan, karena kesehatan adalah syarat utama untuk melakukan kegiatan penyelenggaraan ibadah haji, di samping kesiapan yang lain, kesiapan jasmani dan rohani,โ€ tuturnya.

 

Sertifikasi PIHU Angkatan III Tahun 2026 diselenggarakan Kementerian Haji dan Umrah RI bekerja sama dengan FDK UIN Walisongo Semarang dan MHU Walisongo Tour. Kegiatan berlangsung selama enam hari, mulai 25 hingga 30 September 2026.
ย