Rawat Turats dan Jawab Zaman dengan Integrasi Ilmu, STISNU Aceh Perkuat Pendidikan Islam di Era Modern
NU Online ยท Ahad, 12 April 2026 | 22:57 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Banda Aceh, NU Online
Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi yang terus mengubah lanskap kehidupan masyarakat, keberadaan lembaga pendidikan Islam dituntut tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Dalam konteks inilah, Sekolah Tinggi Ilmu Syariโah Nahdlatul Ulama (STISNU) Aceh hadir sebagai jawaban atas kebutuhan zaman: merawat warisan keilmuan Islam (turats) sekaligus menjawab tantangan masa depan.
Berdirinya STISNU Aceh tidak dapat dilepaskan dari peran sentral Ketua PWNU Aceh Tgk H Faisal Ali. Ulama yang akrab disapa Abu Sibreh ini dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan penguatan pendidikan Islam berbasis Ahlussunnah wal Jamaโah.
Komitmennya tidak hanya terlihat di lingkungan dayah, tetapi juga dalam upaya menghadirkan pendidikan tinggi yang terstruktur dan berkelanjutan.
โBerdirinya STISNU Aceh bukan sekadar menghadirkan kampus, tetapi ikhtiar panjang menjaga kesinambungan turats dan menjawab kebutuhan zaman. Pendidikan dayah harus terhubung dengan sistem akademik yang kuat, agar lahir generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu berkontribusi bagi umat,โ ujar Abu Sibreh, Ahad (12/4/2026).
STISNU Aceh bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, tapiย simbol ikhtiar panjang ulama Aceh dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam yang telah mengakar kuat sejak berabad-abad lalu. Di sisi lain, kampus ini menjadi ruang transformasi bagi generasi muda untuk memahami agama secara mendalam sekaligus kontekstual.
Salah satu fondasi penting dari lahirnya STISNU Aceh adalah peran Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Sibreh, Aceh Besar, yang dipimpin langsung oleh Abu Sibreh. Dayah ini tidak hanya menjadi pusat pengkaderan santri dalam tradisi kitab kuning, tetapi juga menjadi ruang integrasi ilmu antara sistem pendidikan dayah dan pendidikan modern.
Dari rahim dayah inilah gagasan besar integrasi keilmuan tumbuh, hingga akhirnya melahirkan STISNU Aceh sebagai bentuk konkret pengembangan pendidikan Islam yang lebih luas dan terstruktur.
Baca Juga
Pendidikan Islam dan Wawasan Masyarakat
Di tengah kesibukannya memimpin dayah sekaligus mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Abu Sibreh terus mendorong lahirnya generasi ulama-intelektual yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas. Baginya, pendidikan adalah kunci utama dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai Islam di tengah perubahan zaman.
Perjuangan tersebut mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgkย Iskandar Zulkarnaen. Ia menilai STISNU Aceh memiliki posisi strategis dalam mencetak kader ulama dan intelektual Nahdliyin yang tidak tercerabut dari akar tradisi.
โPenguatan pendidikan berbasis turats menjadi sangat penting agar generasi kita tetap memiliki identitas keilmuan yang kuat, meskipun berada di tengah arus globalisasi,โ ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran STISNU Aceh menjadi ruang temu antara tradisi lokal dan pengalaman global. Para mahasiswa tidak hanya menjadi pelanjut, tetapi juga diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan dalam dunia pendidikan Islam.
Hal senada disampaikan Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Aceh Tgk Muhammad Yasir yang juga menjabat sebagai Ketua STISNU Aceh. Ia menegaskan bahwa kampus ini dirancang sebagai jembatan antara dunia dayah dan perguruan tinggi modern.
Menurutnya, pendidikan Islam tidak boleh berjalan secara dikotomis antara tradisional dan modern. Justru, keduanya harus dipadukan agar melahirkan generasi yang utuhโkuat dalam turats, namun juga mampu menjawab persoalan kontemporer.
โSTISNU Aceh hadir untuk mencetak generasi yang tidak hanya memahami kitab kuning, tetapi juga mampu membaca realitas sosial dan memberikan solusi yang relevan,โ jelasnya.
Sebagai bagian dari penguatan akademik, Sekolah Tinggi Ilmu Syariโah Nahdlatul Ulama Aceh terus mengembangkan program studi yang relevan dengan kebutuhan umat dan tantangan zaman, mulai dari jenjang sarjana hingga magister.
Pada tingkat sarjana (S1), tersedia program Hukum Keluarga Islam, Hukum Ekonomi Syariah, Manajemen Zakat dan Wakaf, Pendidikan Agama Islam, serta Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Sementara pada jenjang magister (S2), STISNU Aceh telah membuka program Hukum Keluarga Islam sebagai langkah strategis dalam memperkuat kapasitas keilmuan dan mencetak kader ulama serta akademisi yang lebih mendalam di bidang syariah.
Pembukaan program pascasarjana ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan STISNU Aceh. Hal ini tidak hanya menunjukkan kematangan institusi, tetapi juga komitmen untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan Islam di Aceh.
Di tengah penguatan kelembagaan tersebut, muncul pula tokoh-tokoh muda yang menjadi harapan masa depan. Salah satunya adalah Tgkย Emi Yasir sosok hafiz alumni Al-Azhar yang aktif mendorong integrasi antara sistem pendidikan dayah dan kampus modern.
Selain itu, Tgk Emi Yasir menjadi representasi generasi muda progresif Aceh dengan perspektif global. Ia menilai generasi muda Aceh harus berani tampil dan berkompetisi di tingkat internasional tanpa kehilangan akar tradisi.
โKita harus menguasai ilmu agama secara mendalam, tapi juga memahami perkembangan dunia. Di situlah letak kekuatan kita,โ ujarnya.
Sebagai Ketua Program S2 Hukum Keluarga Islam, ia menambahkan bahwa penguatan akademik harus berjalan seiring dengan penguatan nilai dan karakter.
Tidak hanya fokus pada aspek akademik, STISNU Aceh juga mengembangkan konsep Dayah Mahasiswa sebagai program unggulan. Konsep ini menjadi ciri khas yang membedakan STISNU dengan kampus lainnya, yakni integrasi antara sistem pendidikan dayah dan perguruan tinggi.
Menurut Tgk Emi, keberadaan mahasiswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran formal di kelas, tetapi juga pembinaan spiritual, penguatan akhlak, serta pendalaman kitab kuning sebagaimana tradisi dayah. Dengan demikian, lulusan STISNU Aceh diharapkan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial
Di tengah tantangan globalisasi, digitalisasi, serta perubahan sosial yang begitu cepat, keberadaan STISNU Aceh menjadi sangat relevan. Ia hadir sebagai benteng nilai sekaligus jembatan menuju masa depanโmenjaga turats agar tetap hidup, sekaligus menjawab kebutuhan zaman dengan pendekatan yang bijak.
Lebih dari itu, Ketua Jamโiyyatul Qurraโ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Aceh Tgk Emi menjelaskan bahwa STISNU Aceh juga menjadi simbol harapan bagi kebangkitan pendidikan Islam di Aceh.
"Dengan dukungan para ulama, akademisi, dan generasi muda, STISNU Aceh terus melangkah memperkuat perannya sebagai pusat pendidikan yang adaptif, progresif, dan berakar kuat pada tradisi," katanya.
Terpopuler
1
2.500 Alumni Ikuti Silatnas Iktasa di Istiqlal Jakarta, Teguhkan 3 Fungsi Utama Pesantren
2
Akademisi Soroti Gejala Pembusukan Demokrasi yang Kian Sistematis Sejak Era Jokowi ke Prabowo
3
War Haji, Jalan Pintas yang Berpotensi Sengketa
4
MBG dan Larangan Pemborosan dalam Islam
5
Ketua Umum PBNU Apresiasi Gencatan Senjata AS-Iran, Harap Berlangsung Permanen
6
PBNU Soroti Wacana War Tiket Haji, Harus Dikaji Matang, Tekankan Aspek Keadilan Jamaah
Terkini
Lihat Semua