Daerah

Sekretaris LDNU Banjar Kalsel Tebar Semangat Literasi dan Pemikiran Kritis Pemuda di Tabu #12

NU Online  ·  Sabtu, 22 Agustus 2026 | 08:30 WIB

Sekretaris LDNU Banjar Kalsel Tebar Semangat Literasi dan Pemikiran Kritis Pemuda di Tabu #12

Sekretaris LDNU Banjar Kalsel, Ali Syahbana (tengah) dalam diskusi Tabu #12, Selasa (18/8/2026). (Foto: NU Online/Ahmad Mursyidi

Martapura, NU Online

Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Banjar, M. Ali Syahbana, mendorong generasi muda membaca pemikiran tokoh secara kritis dan metodologis. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam agenda TABU #12 (Cerita Buku @Perpus Banjar) di Perpustakaan Daerah Kabupaten Banjar, Martapura, Selasa (18/8/2026).


Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Banjar bekerja sama dengan Wabul Sawi Festival tersebut mengusung tema Kemerdekaan. Diskusi membahas pemikiran dan karya pahlawan nasional Tan Malaka, termasuk gagasannya dalam Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika).


M. Ali Syahbana menjelaskan, diskusi mengenai pemikiran Tan Malaka selalu menawarkan ruang dialektika yang kaya dalam tradisi keilmuan. "Untuk menyikapi warisan pemikirannya secara arif, kita perlu melakukan pemisahan yang jernih secara metodologis: membedakan antara alat analisis sosiologis, sikap epistemologis, dan keyakinan ontologis seseorang.


Ia menjelaskan, Tan Malaka menggunakan kerangka marxisme bukan sebagai dogmatisme teologis yang menolak keberadaan Tuhan, melainkan sebagai pisau analisis materialisme-historis untuk membedah struktur ketimpangan sosial dan imperialisme pada zamannya.


"Sumbangan intelektual terbesarnya bermuara pada karya fenomenalnya, Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Secara epistemologis, gagasan ini lahir sebagai kritik atas kondisi kebudayaan masyarakat yang saat itu dinilainya masih terkungkung dalam "pola pikir logika mistika"—suatu kondisi psikologis masyarakat yang mudah menyerah pada keadaan, fatalis, serta pasrah pada mitos," terangnya.


Menurutnya, melalui Madilog, Tan Malaka menyodorkan kerangka berpikir rasional agar masyarakat mampu melihat kenyataan secara empiris melalui materialisme, memahami dinamika perubahan sosial melalui dialektika, dan menyusun simpulan secara runtut melalui logika.


"Gagasan ini adalah tawaran metodologi untuk membangun kemandirian berpikir (intelectueele zelfstandigheid), bukan sebuah doktrin keagamaan untuk meruntuhkan tauhid," jelasnya.


Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sikap politik dan intelektual Tan Malaka juga mencerminkan karakter yang unik. Tan Malaka menunjukkan bahwa analisis struktur sosial yang tajam dapat berjalan berdampingan dengan rasa hormat terhadap akar tradisi dan nilai keagamaan.


"Pembelaannya terhadap gerakan Pan-Islamisme dalam ajang internasional pada tahun 1922 membuktikan kesadarannya bahwa Islam di Nusantara bukan sekadar ritual, melainkan spirit emansipatoris dan simbol perlawanan rakyat terhadap penindasan," ungkapnya.


Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu alasan relevansi pemikiran Tan Malaka untuk didiskusikan dalam tradisi keilmuan pesantren dan NU.


"Kaidah klasik al-muhafadhatu 'alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah mengajarkan kita untuk tidak silau sekaligus tidak alergi terhadap metodologi baru dari luar," ujarnya.


"Membedah pemikiran Tan Malaka secara akademis memungkinkan kita memetik ketajaman analisis sosiologis dan semangat literasinya, sembari tetap memegang teguh asas ketauhidan dan nilai etik keislaman," lanjutnya.


Menurutnya, kedewasaan dalam menyikapi berbagai pemikiran tersebut menempatkan tradisi keilmuan sebagai tradisi yang inklusif, kritis, dan berorientasi pada kemaslahatan publik.