Daerah

Ubah Sampah Jadi Berkah, Warga Sidomulyo Kembangkan Bank Sampah dan Tabungan Emas

NU Online  ·  Selasa, 14 April 2026 | 16:30 WIB

Ubah Sampah Jadi Berkah, Warga Sidomulyo Kembangkan Bank Sampah dan Tabungan Emas

Pengepul sampah sedang mengangkut karung sampah untuk daur ulang di Bank Sampah Sido Berkah. (Foto: dok istimewa/Saiful Adi Kurniawan)

Rembang, NU Online

Pagi yang cerah menyelimuti aktivitas di Bank Sampah Sido Berkah, binaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Cokromulyo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Suasana tampak hidup, dengan tumpukan sampah plastik yang telah disortir rapi di bawah langit yang sedikit mendung.


Sejumlah pelajar terlihat menimbang sampah yang telah dikumpulkan. Mereka dengan terampil memilah kardus untuk ditukar menjadi tabungan emas.


Setiap sudut area bank sampah tampak tertata, mencerminkan bahwa sampah yang kerap dianggap tidak bernilai dapat menjadi sumber manfaat ekonomi bagi warga.


Bank Sampah Sido Berkah tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan, tetapi juga menjadi sarana edukasi literasi finansial melalui program tabungan emas.


“Dari kegiatan pilah sampah ini, kami memiliki 233 nasabah, dan 70 di antaranya telah memiliki tabungan emas. Jika dikalkulasi, total tabungan emas nasabah mencapai sekitar 70 gram hingga saat ini,” ungkap Saiful, pendiri Bank Sampah Sido Berkah, Selasa (14/4/2026).


Ia menjelaskan, sosialisasi pengelolaan sampah menjadi langkah sederhana namun berdampak besar bagi masyarakat.


“Kami mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah. Sampah tidak cukup hanya dibuang pada tempatnya, tetapi harus dipilah sesuai kategori agar dapat mengurangi beban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” ujarnya kepada NU Online.


Menurutnya, kebiasaan memilah dan mengelola sampah perlu terus digencarkan sebagai upaya meminimalisasi limbah sekaligus mendorong penggunaan produk alternatif pengganti plastik.


Plastik masih menjadi persoalan serius di berbagai daerah. Selain sulit terurai, penggunaan plastik yang masif juga dipengaruhi oleh sifatnya yang praktis, meskipun harganya kini cenderung meningkat.


Meski demikian, Saiful terus melakukan pendekatan edukatif dengan menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) kepada masyarakat.


“Kami terus mengedukasi prinsip 3R serta mendorong pengurangan penggunaan plastik dalam kebutuhan rumah tangga, meskipun kami masih memiliki keterbatasan sarana dan prasarana,” paparnya.


Ia juga menjelaskan bahwa bahan daur ulang memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai pengganti plastik.


“Kelebihannya ramah lingkungan dan dapat didaur ulang, tetapi kekurangannya harga relatif lebih mahal dan dalam kondisi tertentu tidak tahan lama jika terkena air. Namun, ini tetap bisa menjadi alternatif jika produksi meningkat dan sesuai kebutuhan konsumen,” jelasnya.


Saiful optimistis bahwa praktik daur ulang memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi industri yang menjanjikan.


“Peluangnya sangat besar, terutama jika didukung pemerintah dan masyarakat. Produk ramah lingkungan bahkan bisa digunakan di restoran dan kafe sebagai pengganti plastik,” tambahnya.


Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan lebih nyata, tidak hanya melalui regulasi, tetapi juga pendampingan, kampanye, dan bantuan fasilitas.


“Dukungan masih belum maksimal, baik dalam bentuk kampanye daring maupun luring, maupun bantuan dana operasional,” tegasnya.


Meski demikian, dalam waktu dekat Bank Sampah Sido Berkah akan mendapatkan fasilitas gedung pengelolaan sampah TPS 3R dari Kementerian Pekerjaan Umum.


“Alhamdulillah, bank sampah di desa kami segera memiliki gedung pengelolaan sampah TPS 3R dari Kementerian Pekerjaan Umum,” pungkasnya.