Kita tidak pernah tahu mana amal yang dapat menyelamatkan ahli maksiat dari siksa Allah. (Ilustrasi: NU Online/freepik).
M. Tatam Wijaya
Kolumnis
Inilah kisah seorang hamba yang dosa-dosanya tercatat oleh para malaikat sebanyak 99 catatan. Setiap catatannya sejauh mata memandang.
Di akhirat semua catatannya ditunjukkan kepada Allah. Maka Allah pun berfirman, โApakah engkau mengingkari catatan ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku telah menzalimimu?โย
Laki-laki itu menjawab, โSungguh tidak, ya Tuhanku.โ Selanjutnya, Allah meminta agar dia mendatangkan sesuatu yang dapat membuka pintu ampunan. Namun, dia tidak mendapatinya. Dia akhirnya pasrah akan keadaan.
Dalam keadaan demikian, Allah berfirman, โHari ini tidak ada kezaliman sedikit pun kepadamu. Dan sesungguhnya, engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami.โ
Dikeluarkanlah sebuah catatan kecil di hadapannya. Catatan itu ternyata berisi kesaksiannya atas keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad sawย yakni kalimat:
ุฃูุดูููุฏู ุฃููู ูุงู ุฅููููู ุฅููุงูู ุงูููููู ููุฃูุดูููุฏู ุฃูููู ู
ูุญูู
ููุฏูุง ุนูุจูุฏููู ููุฑูุณูููููู
Kemudian, Allah kembali berfirman, โSekarang datangkanlah timbanganmu!โ Maksudnya adalah timbangan 99 catatan dosanya, dimana setiap catatannya sejauh pandangan mata. Selanjutnya, 99 catatan itu ditimbang dengan catatan kecil tadi.ย
Melihat demikian, hamba itu bertanya kepada Allah, โYa Tuhanku, apa artinya catatan kecil ini dibanding dengan catatan sebanyak ini?โ
Allah menjawab, โSesungguhnya, hari ini engkau tidak akan dizalimi.โ
Hasil timbangan catatan baik dan buruk itu sungguh mengejutkan. Bagaimana tidak, karena catatan sekecil itu mampu mengungguli beratnya catatan dosa. Benar sekali apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw., โTidak ada yang dapat mengalahkan beratnya asma Allah.โ ย
Kisah ini terekam dalam hadis Rasulullah melalui sahabat โAbdullah ibn โAmr ibn al-โAsh sebagaimana yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah berikut ini. ย
ุฅูููู ุงูููููู ุณูููุฎููููุตู ุฑูุฌููุงู ู
ููู ุฃูู
ููุชูู ุนูููู ุฑูุกููุณู ุงูุฎููุงูุฆููู ููููู
ู ุงูููููุงู
ูุฉู ููููููุดูุฑู ุนููููููู ุชูุณูุนูุฉู ููุชูุณูุนูููู ุณูุฌููููุง ููููู ุณูุฌูููู ู
ูุซููู ู
ูุฏูู ุงูุจูุตูุฑูุ ุซูู
ูู ููููููู: ุฃูุชูููููุฑู ู
ููู ููุฐูุง ุดูููุฆูุงุ ุฃูุธูููู
ููู ููุชูุจูุชูู ุงูุญูุงููุธููููุ ููููููููู: ูุงู ููุง ุฑูุจููุ ููููููููู: ุฃููููููู ุนูุฐูุฑูุ ย ููููููููู: ูุงู ููุง ุฑูุจููุ ููููููููู: ุจูููู ุฅูููู ูููู ุนูููุฏูููุง ุญูุณูููุฉูุ ููุฅูููููู ูุงู ุธูููู
ู ุนููููููู ุงูููููู
ูุ ููุชูุฎูุฑูุฌู ุจูุทูุงููุฉู ูููููุง: ุฃูุดูููุฏู ุฃููู ูุงู ุฅููููู ุฅููุงูู ุงูููููู ููุฃูุดูููุฏู ุฃูููู ู
ูุญูู
ููุฏูุง ุนูุจูุฏููู ููุฑูุณููููููุ ููููููููู: ุงุญูุถูุฑู ููุฒูููููุ ููููููููู: ููุง ุฑูุจูู ู
ูุง ููุฐููู ุงูุจูุทูุงููุฉู ู
ูุนู ููุฐููู ุงูุณููุฌููุงููุชูุ ููููุงูู: ุฅูููููู ูุงู ุชูุธูููู
ูุ ููุงูู: ููุชููุถูุนู ุงูุณููุฌููุงููุชู ููู ูููููุฉู ููุงูุจูุทูุงููุฉู ููู ูููููุฉูุ ููุทูุงุดูุชู ุงูุณููุฌููุงููุชู ููุซูููููุชู ุงูุจูุทูุงููุฉูุ ูููุงู ููุซููููู ู
ูุนู ุงุณูู
ู ุงูููู ุดูููุกูย
Artinya, โSesungguhnya Allah akan membebaskan seorang laki-laki dari umatku atas para pembesar makhluk pada hari Kiamat. Padahal, kepada laki-laki itu akan ditunjukkan sembilan puluh sembilan catatan amal (buruk). Setiap catatannya sepanjang mata memandang. Saat itu, Allah akan bertanya kepadanya, โApakah engkau mengingkari ini? Apakah para malaikat-Ku ย telah menzalimimu?โ Laki-laki itu menjawab, โTidak, Tuhanku.โ Allah kembali bertanya, โApakah memiliki alasan?โ Dia menjawab, โTidak, Tuhanku.โ Allah melanjutkan, โBenar, engkau memiliki sebuah kebaikan di sisi Kami. Dan pada hari ini, tidak ada kezaliman apa pun kepadamu.โ Tak lama berselang, muncullah sebuah catatan kecil yang berisi kalimat: Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Allah berfirman, โMaka datangkanlah timbanganmu.โ Laki-laki itu bertanya, โYa Tuhanku, apa artinya catatan kecil ini di hadapan catatan besar.โ Namun, Allah meyakinkan, โSesungguhnya, engkau tidak akan dizalimi.โ Terakhir, Nabi sawย menambahkan, โSetelah itu, sembilan puluh catatan diletakkan pada satu ujung timbangan, sedangkan catatan kecil diletakkan di ujung satunya. Anehnya, catatan yang banyak justru mengambang, sedangkan catatan kecil justru memberat. Memang tidak ada yang mengalahkan beratnya asma Allah.โโ
Perihal penimbangan amal ini, Allah swtย berfirman dalam Al-Quran, โBarangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri. Mereka juga kekal dalam neraka Jahannam,โ (Q.S. al-Mukimรปn [23]: 102-103).
Kemudian, perihal keutamaan kalimat tauhid ini, Rasulullah saw. menyabdakan:
ููุฅูููู ุงูุณููู
ูููุงุชู ุงูุณููุจูุนูุ ููุงููุฃูุฑูุถูููู ุงูุณููุจูุนูุ ูููู ููุถูุนูุชู ููู ูููููุฉูุ ููููุถูุนูุชู ููุง ุฅููููู ุฅููููุง ุงูููู ููู ูููููุฉูุ ุฑูุฌูุญูุชู ุจูููููู ููุง ุฅููููู ุฅููููุง ุงููููุย
Artinya, โSesungguhnya jika tujuh lapis dan langit diletakkan pada satu sisi timbangan dan kalimat La ilaha illallah diletakkan pada satu sisi timbangan yang lain, maka kalimat ย Lailahaillallah akan mengalahkannya.โ (HR. Ahmad).
Dari kisah serta hadits di atas dapat dipetik sejumlah hikmah dan pelajaran:
1. Betapa utamanya kalimat tauhid hingga mampu menebus dan menghapus dosa-dosa hamba yang mengucapkannya.
2. Para malaikat pencatat amal senantiasa mencatat setiap amal hamba, baik maupun buruknya.
3. Pada hari Kiamat, seluruh catatan itu ditunjukkan Allah kepada pemiliknya.
4. Tidak ada dosa besar dan dosa kecil kecuali akan diperhitungkan seluruhnya.
5. Proses penimbangan amal tiap hamba pada hari Kiamat akan digelar secara terbuka di hadapan khalayak.
6. Siapa pun yang berat timbangan kebaikannya akan selamat dan terbebas dari kehinaan, kesengsaraan, dan kebinasaan.
7. Betapa pentingnya keimanan seorang hamba.
8. Keimanan menjadi kunci keselamatan di akhirat. Jika keimanan terbawa saat sakaratul maut, maka ada harapan selamat di akhirat meski harus menebus dosa-dosa terlebih dahulu.
9. Jangan pernah menyepelekan kalimat tauhid, karena besar keutamaannya. Perbanyaklah mengucapkan kalimat thayyibah, dengan harapan menjadi kalimat terakhir yang terucap dan menjadi sebab keselamatan kita di akhirat berkat rida dan karunia Allah. (Lihat: Umar Sulaiman, Shahih al-Qashash an-Nabawi, Terbitan Darun-Nafais, Tahun 1997, halaman 35). Wallahu aโlam.
Ustadz M Tatam Wijaya, Penyuluh dan Petugas KUA Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.
Terpopuler
1
Besok Rebo Wekasan, Berikut Amalan dan Doa yang Dianjurkan
2
Alma Esbeye Siap Tampil Meriahkan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas
3
Ngaji Al-Hikam, Perlu Fase Menepi dari Ketenaran dalam Hidup
4
Muktamar ke-35 NU Bahas Hukum DNA, Kripto, hingga Pasang Chip di Otak
5
Muktamar Ke-35 NU Bahas Revisi UU Sisdiknas dan Ketenagakerjaan, hingga Qanun Jinayat Aceh
6
KH Nasaruddin Umar Mengaku Dapat Dorongan Maju Ketua Umum PBNU, Soroti Tantangan Kepemimpinan NU
Terkini
Lihat Semua