NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Hikmah

Belajar dari Nabi Ya‘qub: Sedih Itu Wajar, Putus Asa Jangan

NU Online·
Belajar dari Nabi Ya‘qub: Sedih Itu Wajar, Putus Asa Jangan
(freepik)
Bagikan:

Sebagai manusia, wajar bila kita merasakan sedih saat tertimpa musibah—baik ketika menimpa diri sendiri maupun orang lain. Apalagi jika musibah itu merenggut sesuatu atau seseorang yang sangat kita sayangi.

Nabi Muhammad saw pun pernah mengalami kesedihan yang amat dalam ketika istri beliau, Siti Khadijah, dan paman beliau, Abu Thalib, wafat pada tahun yang sama. Tahun itu dikenal sebagai ‘Amul Huzni, (Tahun Kesedihan).

Demikian pula kesedihan yang dialami Nabi Ya‘qub as ketika kehilangan putranya yang paling dicintai, Nabi Yusuf as. Kesedihan beliau diabadikan dalam Al-Qur’an:

وَتَوَلّٰى عَنْهُمْ وَقَالَ يٰٓاَسَفٰى عَلٰى يُوْسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنٰهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيْمٌ ۝٨٤ قَالُوْا تَاللّٰهِ تَفْتَؤُا تَذْكُرُ يُوْسُفَ حَتّٰى تَكُوْنَ حَرَضًا اَوْ تَكُوْنَ مِنَ الْهٰلِكِيْنَ ۝٨٥

Artinya, "Dia (Ya‘qub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Alangkah kasihan Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia adalah orang yang sungguh-sungguh menahan (amarah dan kepedihan) (84). Mereka berkata, “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf sehingga engkau (mengidap) penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa (wafat).” (85). (QS Yusuf ayat 84-85)

Menurut Profesor M Quraish Shihab, kata ḥuzn adalah bentuk bentuk masdar dari ḥazina, yaḥzanu, ḥuznan. Kata ḥuzina berarti “sedih” lawan kata dari fariḥa yang berarti “gembira”. Kata al-ḥazan dan al-ḥuzn berarti “kekeruhan jiwa akibat sesuatu yang menyakitinya.

Namun, apakah kesedihan itu harus dibiarkan berlarut-larut? Apakah ia harus membawa seseorang pada depresi, kehilangan harapan, bahkan hilangnya ketenangan akal? Tentu tidak. Dalam ajaran Islam, ada adab dan sikap yang diajarkan ketika kita tertimpa musibah, maupun saat melihat musibah menimpa orang lain. ( Profesor Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur’an Kajian Kosakata,  (Jakarta: Lentera Hati, 2007), Jilid I, hal 320-321)

Berikut adalah teladan Nabi Ya‘qub as yang dapat kita renungkan ketika mengalami cobaan hidup. Teladan ini dapat kita amalkan, ketika tertimpa kesulitan, musibah, dan sesuatu yang tidak kita inginkan. Berikut teladannya;

1. Nabi Ya'qub menerima kesedihannya, tetapi tidak pernah membiarkan dirinya putus asa.

Nabi Ya‘qub as tidak menyembunyikan kesedihannya, namun beliau tidak jatuh pada keputusasaan. Ketika kehilangan Yusuf, beliau berkata:

قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya, "Dia (Ya‘qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS Yusuf ayat 86)

Ketika mengalami kesedihan dan kesusahan, Nabi Ya'qub as senantiasa mengingat kepada Allah Swt. Dalam satu perspektif, musibah yang dialami manusia, juga merupakan bagian dari suratan takdir yang telah digariskan oleh Allah Swt. Maka, ketika manusia mengalami suatu musibah, ia dianjurkan untuk mengingat kepada Allah Swt dengan kalimat istirja'.

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

Artinya, "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, menjelaskan bahwa kalimat tersebut dianjurkan untuk diucapkan, bahkan ketika mengalami peristiwa musibah yang terlihat remeh sekalipun, seperti putusnya tali sandal. (Imam Nawawi, Al-Adzkar, (Beirut; Darul Fikr: 1414 H), hlm. 126).

2. Mengingat Allah Menumbuhkan Harapan

Ketika seseorang yang tertimpa musibah kembali mengingat Allah Swt, maka akan menumbuhkan sebuah harapan bagi kita. Bahwa, bagaimanapun terpuruknya keadaan kita, masih ada Allah Swt yang akan menjadi harapan dan penolong bagi kita. 

Lagi-lagi Nabi Ya'qub memberikan teladan yang luar biasa bagi kita pada peristiwa musibah kehilangan Nabi Yusuf As. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur'an:

يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

Artinya, "Wahai anak-anakku, pergi dan carilah berita tentang Yusuf beserta saudaranya. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS Yusuf ayat 87)

Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Quran Al-Adzim meerangkan sikap orang-orang mukmin yang tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah Swt, ketika sedang menghadapi kesulitan dan cobaan. Ia berkata;

  لَا يَقْطَعُوا رَجَاءَهُمْ وَأَمَلَهُمْ مِنَ اللَّهِ فِيمَا يَرُومُونَهُ وَيَقْصِدُونَهُ (٣) فَإِنَّهُ لَا يَقْطَعُ الرَّجَاءَ، وَيَقْطَعُ الْإِيَاسَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Artinya; “Janganlah mereka memutuskan harapan dan cita-cita mereka dari Allah dalam hal-hal yang mereka inginkan dan mereka maksudkan. Karena sesungguhnya hanya orang-orang kafirlah yang memutuskan harapan dan putus asa dari Allah,” (Ibnu Katsir, kitab Tafsir Al-Quran Al-Adzim, Jilid IV, halaman 406)

Harapan itu terkadang lahir bukan hanya dari diri sendiri. Dorongan keluarga, teman, tetangga, hingga pemerintah juga penting, terutama saat musibah besar seperti bencana alam. Dukungan sosial dapat menjadi penopang bagi mereka yang sedang terpuruk.

Dalam ajaran Islam, melarang untuk menampakkan kegembiraan apabila terjadi peristiwa musibah, bahkan bila musibah tersebut menimpa orang yang tidak kita sukai. Rasulullah saw bersabda:

لا تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لِأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ

Artinya, “Janganlah engkau menampakkan kegembiraan atas musibah yang menimpa saudaramu, karena Allah mungkin akan mengasihinya dan menimpakan ujian kepadamu.” (HR At-Tirmidzi)

3. Jangan Kehilangan Akal Sehat dan Keimanan

Tak bisa diungkiri, dalam sebuah kejadian musibah, terlebih bila peristiwa tersebut menghilangkan harta benda kita, janganlah sampai menghilangkan akal sehat dan keimanan kita. Peristiwa penjarahan atau mengambil barang yang bukan hak milik, terkadang terjadi setelah peristiwa bencana alam. Faktor keterlambatan bantuan ataupun rasa lapar terkadang dapat membuat seseorang kehilangan akal sehatnya.

Maka, tetaplah tidak dibenarkan untuk mengambil barang yang bukan miliknya, terlebih bila yang diambil juga sama-sama terkena musibah. Rasulullah saw bersabda:

 لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

Artinya, “Tidak halal mengambil harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaan dirinya.” (HR Ad-Daraquthni).

Di sisi lain, perlu ada respons dan kebijakan yang tepat dari pemerintah sebagai pemegang kebijakan, terkait pemberian bantuan ataupun penanganan musibah dalam skala luas seperti bencana alam, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti penjarahan ataupun tindakan lain yang merugikan. Maka, kebijakan dari pemimpin atau pemerintah yan baik, juga akan turut membantu rakyatnya dalam menghadapi sebuah ujian.

Begitulah, musibah adalah ujian bagi kesabaran dan keimanan kita. Siapa yang dapat melaluinya dengan tawakal, harapan, dan usaha, akan meraih kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun akhirat. Kesedihan itu manusiawi, tetapi jangan sampai membuat kita putus asa. Dengan mengingat Allah, saling menguatkan, dan menjaga akhlak, insyaAllah setiap ujian akan menjadi jalan menuju kebaikan.

--------
Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali

Artikel Terkait