NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Hikmah

Ketika Husnul dan Su’ul Khatimah Bertukar Arah

NU Online·
Ketika Husnul dan Su’ul Khatimah Bertukar Arah
Ilustrasi beda jalan. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Dikisahkan pada zaman dahulu, ada dua orang bersaudara yang memiliki jalan hidup berseberangan secara diametral. Kepribadian, pilihan hidup dan perilaku mereka seolah berdiri di dua kutub yang saling bertolak belakang satu sama lain. Satu di antara keduanya adalah orang yang salih yang senantiasa menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan saudaranya adalah orang yang selalu bergumul dengan perbuatan maksiat dan terjerembab dalam dosa.

Mereka berdua tinggal di satu rumah dua lantai. Si kakak yang ahli ibadah tinggal di lantai atas, sedangkan saudaranya yang ahli maksiat tinggal di lantai bawah. Setiap hari mereka berdua melakukan rutinitas masing-masing tanpa pernah saling mengganggu satu sama lain. Sang kakak fokus beribadah dan melakukan ketaatan kepada Allah, sedangkan adiknya di lantai bawah dalam keadaan mabuk menikmati kesenangan dunia dalam bingkai kemaksiatan.

Syahdan, ketika mereka sibuk tenggelam dalam aktivitas yang dilakukan masing-masing, tanpa disadari mereka teringat satu sama lain. Dalam hati, mereka berdua bergumam, "Bagaimana keadaan saudaraku ya? Apa yang ia lakukan di sana?

Di saat itulah setan mendapatkan celah untuk membisikkan niat buruk kepada sang kakak yang ahli ibadah. Dalam bisikan dan godaannya, setan berkata, "Usiamu sekarang sudah empat puluh tahun. Ini adalah setengah dari perjalanan hidupmu, yang artinya kamu masih punya kesempatan empat puluh tahun lagi untuk hidup di dunia ini. Dan selama ini kamu hanya menghabiskan usiamu untuk aktivitas ibadah saja. Hidupmu terlalu monoton, kurang berwarna. Cobalah sesekali mengikuti saudaramu yang hidup dalam kesenangan dunia dan melakukan segala hal yang diinginkan, lalu sisakan separuh lagi usiamu untuk bertaubat dan kamu isi lagi masa-masa terakhirmu dengan amal saleh."

Rupanya, sang kakak tergoda dengan bisikan setan tersebut. Ia yang selama ini hidup dalam ketaatan dan tidak pernah mengenal maksiat merasa penasaran, kemudian tertarik untuk melakukannya. Dalam hati, ia berniat untuk menghampiri saudaranya di ruang bawah dan ingin bergabung bersamanya dalam kenikmatan yang dibaluri maksiat itu.

Namun, di sisi lain, saudaranya yang sedang mabuk tiba-tiba tersadar dari mabuknya. Saat itulah ia merasa bahwa dirinya sudah terlalu jauh tersesat. Ia menyesalkan dirinya yang selama ini menghabiskan usianya dengan perbuatan maksiat. Tidak seperti saudaranya yang selalu beribadah, ia merasa dirinya hina dan dekat dengan neraka. 

Momen ini menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia kemudian memutuskan untuk keluar dari belenggu kemaksiatan dan bertobat serta ingin mengisi sisa usianya dengan ibadah dan ketaatan. 

Kemudian, ia beranjak dari tempat duduknya dan ingin menghampiri saudaranya di lantai atas dengan harapan agar dibimbing untuk bertobat dan menjadi manusia yang baik. Ia merasa bahwa saudaranya adalah orang yang suci dan dekat dengan surga karena hari-harinya selalu dihabiskan dengan ibadah.

Namun, di saat yang sama, saudaranya yang berada di lantai atas juga bermaksud untuk turun ke bawah dan ingin bergabung dengan adiknya yang ia sangka masih bersenang-senang dengan kemaksiatannya. Ketika ia berjalan ke bawah menyusuri tangga, kakinya terpeleset dan akhirnya terjatuh menimpa saudaranya yang ternyata juga sudah berada di ujung tangga untuk naik ke atas. Karena insiden benturan tersebut, mereka berdua akhirnya meninggal dunia di lokasi kejadian. 

Ironisnya, karena si kakak yang ahli ibadah turun ke bawah dengan niat ingin mencoba bermaksiat, ia tercatat sebagai orang yang su'ul khatimah dan akan dibangkitkan pada hari kiamat sesuai dengan niatnya di detik-detik terakhir. Sedangkan adiknya yang sudah sadar dan ingin melakukan ketaatan kepada Allah justru tercatat mati dalam keadaan husnul khatimah dan akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya di saat-saat terakhir. (Ahmad bin Hijazi al-Fasyani, Al-Majalisus Saniyah, [Suranbaya: Imaratullah, t.th.], hlm. 6).

Dari kisah ini, ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik. Di antaranya adalah anjuran untuk terus istiqamah dalam kebaikan sebab tidak ada yang tahu kapan usia akan berakhir, sementara yang menjadi penentu adalah amal yang dilakukan di akhir hayatnya. 

Di samping itu, kita juga tidak boleh berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah. Kita yang sekarang mungkin tengah terlena dengan maksiat dan sering lalai dengan perintahnya, jangan sampai merasa putus asa dan beranggapan bahwa tidak ada jalan baginya untuk kembali. Allah adalah Dzat yang menggenggam hati manusia dan akan memberikan hidayah kepada siapa pun yang dikehendaki. 

Selain itu, kisah ini juga mengajarkan kita pentingnya untuk selalu menjaga dan memperbaiki niat. Sebab, niat merupakan penunjuk arah bagi seseorang dalam bertindak. Ruh dari segala perbuatan adalah ikhlas, yang itu semua tertuang dalam niat yang tulus. Karenanya, Nabi Muhammad SAW bersabda,

إِنَّمَا الْاَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ

Artinya, "Sesungguhnya segala perbuatan bergantung pada niat." (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada akhirnya, kisah dua saudara ini menegaskan bahwa hidup bukan semata soal panjangnya riwayat kebaikan atau kelamnya masa lalu, melainkan tentang ke mana hati diarahkan pada detik-detik terakhir. Tidak ada yang boleh merasa aman dengan amalnya, dan tak seorang pun berhak putus asa dari rahmat-Nya.

Sebab Allah menilai isi hati dan niat yang tersembunyi, bahkan ketika manusia hanya melihat permukaan. Maka jagalah istiqamah dalam kebaikan, segeralah bertobat sebelum terlambat, dan rawat niat dengan keikhlasan, karena di sanalah akhir kita ditentukan.

Muhammad Zainul Mujahid, alumnus Ma'had Aly Situbondo, mengabdi di Ponpes Manhalul Ma'arif Lombok Tengah.

Artikel Terkait