Kisah Kewaspadaan Nabi Akan Kematian
Suatu ketika Rasulullah SAW batal dari wudhu, beliau pun langsung bergegas melakukan tayamum. Hal itu dilakukan demi menjaga tradisi daimul wudhu’, melanggengkan wudhu.
Kumpulan artikel kategori Hikmah
Suatu ketika Rasulullah SAW batal dari wudhu, beliau pun langsung bergegas melakukan tayamum. Hal itu dilakukan demi menjaga tradisi daimul wudhu’, melanggengkan wudhu.
Alkisah, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang hidup ratusan tahun setelah Nabi SAW, pernah didatangi Nabi SAW. Al-Jilani berkata, “dalam kurun waktu agak lama saya tak menikah, hingga Nabi SAW datang menegurku, “mengapa kamu tidak menikah”.
Dengan penuh khusyu’, lama sekali doa itu dipanjatkan Ibrahim. Air matanya tumpah. Ia berharap dari anak keturunan Ismail kelak ada yang menjadi Nabi-Rasul Allah.
Betapa dahsyat kekuatan sedekah. Tak lama kemudian setelah sang budak memberikan kurma kepada seorang faqir tadi. Malaikat Jibril kembali turun ke bumi dan mewahyukan kepada Nabi Muhammad bahwa ia diperintah untuk kembali mebiarkan sang budak di rumahnya.
Dalam kehidupan kebernegaraan modern keterbukaan itu menjadi niscaya karena rakyat membayar pajak. Di zaman Umar, tunjangan sekadarnya dari baitul mal juga ada, dan itu juga bisa menjadi alasan. Tapi, alasan sesungguhnya adalah amanat Allah kepada pemimpin untuk memerintah dengan lurus dan adil, sebagaimana amanat kepada rakyat untuk taat.
Nu'man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Hanifah suatu hari kedatangan seorang perempuan yang membawa pakaian sutra di tangannya. Perempuan ini berniat menjual kain mewah tersebut kepadanya.
Perasaanku campur aduk selama perjalanan berangkat kerja. Dan tak terasa air mata tiba-tiba bercucuran sambil aku mengendarai motorku. Teringat wajah ayah yang baru saja aku bohongi, teringat jelas raut wajah-wajah kesedihannya
Hari demi hari terus berjalan. Tahun demi tahun terus berlalu. Mbak Sri telah tumbuh dan berkembang cukup besar. Ia harus sekolah sebagaimana anak-anak sebaya. Oleh orang tuanya, Mbak Sri didaftarkan sebagai anak laki-laki. Di sekolah ia memakai celana dan kemeja. Di rumah ia memakai rok.
Detik-detik pemakaman dilewati secara dramatis. Sang istri terpaksa membayar beberapa orang untuk mengangkut jasad suaminya menuju mushala. Karena tidak ada orang yang mau menshalatkan, jenazah lantas digotong kembali ke padang sahara untuk dimakamkan di sana.
Suatu ketika saat mengajar di kelas, ahli Matematika, filsuf dan peletak dasar ilmu mantiq, Aristoteles membuat sebuah garis. Ia lalu berkata kepada para muridnya, “Wahai muridku, siapa yang bisa memperpendek garis yang aku buat ini?”
Dalam pandangan Mbah Ngis tikus-tikus itu naik ke meja atau masuk ke almari makan hanya untuk mencari makan. Di sini Mbah Ngis berpikir tikus-tikus itu sejatinya tidak bermaksud mengganggu manusia atau merusak barang-barang miliknya. Mereka hanya mencari makan atau rezeki yang oleh Allah SWT memang sudah dijamin ketersediaannya.
Mendengar kata-kata pemimpin para penyembah berhala itu, si saudagar pun langsung pulang, menyedekahkan seluruh hartanya, dan menjalani kehidupan yang sama sekali baru. Zuhud. Saudagar itulah yang kemudian dikenal sebagai sufi besar Syaqieq Al-Balkhy (w. 194 H.).