Logika Dagang
Seorang santri diminta kiainya ke pasar membeli bola lampu untuk mushalla. Lampu yang lama sudah mulai redup. Saat menanyakan barang yang akan dibeli, pedagang langsung bertanya balik: "Anda beli yang bagus apa yang murah?"
Kumpulan artikel kategori Humor
Seorang santri diminta kiainya ke pasar membeli bola lampu untuk mushalla. Lampu yang lama sudah mulai redup. Saat menanyakan barang yang akan dibeli, pedagang langsung bertanya balik: "Anda beli yang bagus apa yang murah?"
Dua orang mahasiswa semester awal lagi berjalan-jalan di sebah mall, mereka tidak belanja, hanya melihat karena duit pas-pasan. Salah seorang menasehati temannya, “Asep kalau ingin punya duit kau harus belajar mandiri dengan berwiraswasta, agar bisa belanja tanpa mengandalkan kiriman dari orang tua.”
Di atas geladak kapal perang US Army tiga pemimpin negara sedang "berdiskusi" tentang prajurit siapa yang paling berani. Eh kebetulan di sekitar kapal ada hiu-hiu yang sedang kelaparan lagi berenang mencari makan ... Bill Clinton: Kalau Anda tahu ... prajurit kami adalah yang terberani di seluruh dunia ... Mayor .. sini deh ... coba kamu berenang keliling ini kapal sepuluh kali.
Seorang santri yang baru saja belajar 3 bulan di sebuah pesantren salaf pulang untuk berhari raya Idul Adha. Karena pernah nyantri ia ditunjuk saja untuk menyembelih kambing kurban. Mau tidak mau harus mau karena di kalangan anak muda dia yang dianggap paling bisa ilmu agama. Baiklah, takbir dibaca 3 kali, santri tadi mulai menggorok kambing, "krek-krek" disaksikan puluhan orang dan anak-anak kecil yang memberanikan diri melihat darah.
Seorang khotib Jum'at di sebuah masjid perkantoran Jakarta bersungut-sungut dalam menyampaikan ceramahnya. "Sekarang ini Indonesia sudah awut-awutan. Kita lihat di televisi ada anak menganiaya ibunya, ada ibu membuang anaknya di tong sampah. Mungkin benar kata Dedi Mizwar, kiamat sudah dekat,&am
Diceritakan, ada tiga orang kiai menetap dalam satu desa di Jawa. Kiai Mahmud, Kiai Ahmad, dan Kiai Muhammad. Mereka masih saudara, tunggal buyut. Ketiganya memiliki pesantren yang letaknya tidak berjauhan. Meskipun saudara, dan sama-sama NU, ketiganya tampak bersaing dan tidak pernah sama berfatwa, baik fatwa agama, politik, dan kehidupan social lainnya. Pendeknya, mereka selalu berbeda satu dengan lainnya. Hanya dua hal yang membuat mereka berkumpul, shalat Jumat, shalat Idul Fitri, serta shalat Idul Adha.
Saat menyampaikan ceramahnya pada acara seminar yang dilaksanakan oleh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) di Jakarta (25/11) KH Said Aqil Siradj (Kang Said) banyak bercerita tentang dakwah yang damai dan menyejukkan seperti dicontohkan Wali Songo. Seperti biasa, Kang Said bercerita dengan sangat apik, suara yang ringan namun menggelegar dan hafalannya yang kuat membuat para anggota MMI tersihir. Padahal sebelumnya mereka sudah dibakar semangatnya oleh sang komandan Abu Bakar Ba'asyir dan rekan sepemikiran Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kang Said bercerita secara historis bahwa dakwah di Indonesia dengan jalan kekerasan selalu gagal.
Banyak yang suka mengubah nama setelah melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci, termasuk Kuncoro (51), seorang warga Kediri, Jawa Timur. Setelah pergi haji tahun lalu mantan kepala desa itu merubah namanya menjadi Masyhur. Dalam bahasa Arab 'masyhur' juga berarti 'kuncoro' dalam bahasa Jawa, artinya terkenal.
Seorang yang baru saja terpilih menjadi anggota dewan agak terkejut ketika mendapat tugas untuk memberikan sambutan pada sebuah acara peresmian proyek di kantor gubernur. Dia merasa kurang begitu mahir dalam bidang yang sedang digarap, padahal di lingkungan anggota dewan dia kebagian jatah bertugas di bidang itu. Untung saja dia punya banyak staf ahli yang pintar-pintar. Segera saja dia suruh para staf ahli membuatkan teks pidato. Baiklah acara dimulai. Sambutan berikutnya atas nama anggota dewan. Kepada beliau dipersilakan!
Nyeleneh, kontroversi, ceplas-ceplos, humoris, cerdas dan seakan tak pernah kehabisan akal. Begitulah beberapa karakter yang melekat pada diri KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Cucu Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari itu pun pernah menjadi Presiden RI ke-4, meski kemudian dilengserkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebelum masa jabatannya berakhir.
USAI LEBARAN Idul Fitri, kota metropolitan Jakarta kembali ramai orang. Jalan-jalan macet. Kendaraan umum berjubel. Nah di satu bis susun di Jakarta para penumpangnya berdesak-desakan. Kondektur bis sebenarnya tak ingin menaikkan penumpang karena bis kelihatannya sudah keterlaluan muatannya. Namun apa boleh dikata, dia butuh kejar setoran.
Pak Wakil Presiden H Muhammad Jusuf Kalla sempat mengundang para pentolan dua organisasi Islam Indonesia NU dan Muhammadiyah ke rumah kediamannya. Maksud hati ingin menanyakan "Kenapa sih NU dan Muhammadiyah sering lebaran berbeda, padahal kan Al-Qur'an dan Hadits yang dipakai sama?" Singkat cerita, setelah dijelaskan akhirnya Pak Wapres faham bahwa perbedaannya adalah soal metodologi penentuan awal bulan Hijriyah. Jika NU berpendirian bahwa dikatakan awal bulan itu kalau sudah ada hilal, yakni bagian dari bulan baru yang bersinar sejenak setelah matahari terbenam. Demikian yang dikehendaki secara qath'i dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Sementara Muhammadiyah berpendirian bahwa awal bulan itu dihitung ketika bulan sudah menjadi baru atau selesai berevolusi tanpa harus nampak hilal. Kedua-duanya menghitung posisi bulan dengan ilmu hisab atau astronomi.