NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Ilmu Tauhid

Islam Sebagai Risalah Ketuhanan: Dialog-Dialog Nabi Tentang Dasar Agama

NU Online·
Islam Sebagai Risalah Ketuhanan: Dialog-Dialog Nabi Tentang Dasar Agama
Ilustrasi simbol agama-agama. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Dalam kajian ilmu sosial dan humaniora sekuler, agama kerap dipahami sebagai konstruksi budaya semata. Peter L. Berger, misalnya, berpendapat bahwa agama merupakan hasil dari ekspresi lahiriyyah maupun batiniyyah manusia (Peter Berger, The Sacred Canopy [New York: Open Road, 1966], hlm. 10).

Jika narasi ini diikuti secara konsisten, tidak ada agama yang benar-benar universal. Setiap agama akan dipandang sebagai ekspresi budaya dengan ciri khasnya masing-masing, sementara kebenaran yang dikandungnya cenderung ditempatkan dalam kerangka yang relatif.

Perspektif Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah tidak sepakat dengan cara pandang semacam itu. Bagi kita, agama atau ad-diin bukan semata produk historis-kultural, melainkan tuntunan langsung dari Allah kepada manusia melalui para nabi yang diutus kepada masing-masing kaumnya. Syaikh Ibrahim al-Baijuri menulis:

وَهُوَ وَضْعٌ إِلَهِيٌّ سَائِقٌ لِذَوِي العُقُولِ السَّلِيمَةِ بِاخْتِيَارِهِمُ المَحْمُودِ إِلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَهُمْ بِالذَّاتِ

Artinya, “(agama) yaitu suatu ketetapan ilahi yang menuntun orang-orang yang berakal sehat, dengan pilihan mereka yang terpuji, menuju sesuatu yang secara sejati lebih baik bagi mereka,” (Ibrahim al-Baijuri, Tuhfatul Murid, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004 M], halaman 19)

Kesatuan risalah agama itu juga tercantum dalam firman Allah:

شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ

Artinya, “Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan (juga) kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada (agama)-Nya dan memberi petunjuk pada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya),” (Asy-Syura ayat 13).

Ibnu Asyur dalam tafsirnya atas ayat ini menjelaskan bahwa maksud dari firman Allah tersebut adalah kesamaan pokok-pokok agama terdahulu dengan Islam yang mencakup akidah ketuhanan dan prinsip-prinsip umum syariat (Ibnu Asyur, At-Tahrir wa at-Tanwir, [Tunisia: ad-Dar at-Tunisiyyah Lin Nasyr, 1984] juz 25 halaman 50).

Penyebutan empat nabi sebelum Nabi Muhammad SAW bukan berarti kesamaan agama Islam hanya terbatas pada agama keempat Nabi tersebut. Menurut Ibnu Asyur, Nabi Nuh disebutkan karena beliau adalah rasul pertama yang diutus kepada umat manusia, sedangkan Nabi Muhammad adalah rasul yang terakhir.

Nabi Ibrahim, Musa dan Isa adalah rasul yang ada di antara keduanya. Ibrahim merupakan pangkal agama hanifiyyah (agama yang hanya menyembah Allah semata) di kalangan bangsa Arab. Musa adalah rasul yang membawa agama dengan aturan paling luas sebelum Islam, sedangkan Isa adalah rasul terakhir sebelum Nabi Muhammad SAW (at-Tahrir wa at-Tanwir/juz 25, halaman 51).

Kerangka wahyu universal ini yang menjadi landasan dialog Nabi Muhammad SAW dengan kelompok-kelompok Ahli Kitab. Kisah yang paling populer adalah dialog Nabi SAW dengan Nasrani Najran yang menjadi asbabun nuzul dari surat Ali Imran ayat 19:

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Artinya, “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah ialah Islam. Orang-orang yang telah diberi kitab tidak berselisih, kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Siapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan(-Nya).”

Dikisahkan bahwa kala itu Nabi Muhammad SAW mengajak kaum Nasrani Najran yang mengunjungi beliau untuk masuk agama Islam. Lalu mereka menjawab, “kami sudah berislam sebelum dirimu!”. Lalu Nabi Muhammad SAW membalas, “Kalian berdusta! Kalian tercegah dari Islam karena klaim kalian bahwa Allah mempunyai putra dan karena kalian menyembah salib.” (at-Tahrir wa at-Tanwir/juz 3 halaman 188).

Dari dialog tersebut tampak bahwa Nabi Muhammad SAW menolak konsep agama yang didakwa oleh kaum Nasrani Najran karena penyelewengan mereka atas ajaran tauhid. Lalu apa sebenarnya landasan dari agama Tuhan yang sejati?

Jawaban atas hal tersebut bisa dipahami dari ajakan Nabi Muhammad SAW kepada Ahli Kitab untuk berpegang pada landasan yang sama (kalimatin sawa’) sebagaimana dititahkan oleh Al-Qur’an:

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍ ۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ

Artinya, "Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, (yakni) kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim,” (Ali Imran ayat 64).

Di sini, Nabi Muhammad SAW diperintah untuk mengajak Ahli Kitab kembali kepada dasar agama untuk bertauhid sebagaimana diwahyukan oleh Allah kepada nabi-nabinya. Istilah kalimatin sawa’ ditafsirkan oleh Ibnu Asyur sebagai prinsip keadilan dan kesetaraan antar manusia. Menukil pendapat Ibnu ‘Athiyyah, Ibnu Asyur menulis:

قال ابن عطية: بمعنى ما يستوى فيه جميع الناس، فإن اتخاذ بعضهم بعضا أربابا، لا يكون على استواء حال وهو قول حسن

Artinya, “Ibnu ‘Athiyyah berkata: maksudnya adalah sesuatu/keadaan yang di dalamnya semua manusia berada pada posisi yang sama; sebab menjadikan sebagian manusia sebagai “tuhan-tuhan” bagi sebagian yang lain tidak mungkin terjadi dalam keadaan yang setara (seimbang). Ini adalah pendapat yang baik,” (at-Tahrir wa at-Tanwir/juz 3 halaman 269).

Perspektif ini merupakan salah satu poin berlakunya Islam sebagai keberlanjutan pesan agama universal yang meniadakan pengultusan satu manusia kepada manusia lainnya, satu bangsa kepada bangsa lainnya, dengan ajakan menyembah Allah semata.

Artinya, agama Allah yang sebenarnya adalah agama yang memegang erat tauhid, sedangkan klaim agama yang mengingkari tauhid adalah penyelewengan terhadap pokok agama itu sendiri. Dari sini kita memahami bahwa agama secara asal merupakan ciptaan Allah yang kemudian ajaran pokoknya banyak diubah oleh para umat nabi-nabi terdahulu.

Dengan demikian, segala klaim genealogi (asal-usul) suatu agama yang tidak mengajarkan tauhid kepada nabi-nabi terdahulu merupakan klaim yang keliru. Oleh karena itu, di ayat selanjutnya Nabi Muhammad SAW diajari oleh Al-Qur’an untuk membantah klaim kelompok Yahudi dan Nasrani yang mendakwa ketersembangun agama mereka dengan Nabi Ibrahim:

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمَآ اُنْزِلَتِ التَّوْرٰىةُ وَالْاِنْجِيْلُ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِهٖۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Artinya, “Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim? Padahal, Taurat dan Injil tidak diturunkan, kecuali setelah dia (Ibrahim). Apakah kamu tidak mengerti?” (Ali Imran ayat 65).

Menurut Ibnu Asyur, klaim Ahlul Kitab tersebut merupakan standar agama berbasis identitas sosial. Maksudnya kaum Yahudi mendakwa bahwa siapapun yang tidak ikut agama mereka bukanlah bagian dari tradisi agama Nabi Ibrahim, begitu juga dengan dakwaan kaum Nasrani (at-Tahrir wa at-Tanwir/juz 3 halaman 270).

Ini tentunya klaim yang salah karena Nabi Ibrahim sendiri diutus sebelum Nabi Musa yang memimpin kaum Yahudi ataupun Nabi Isa yang memimpin kaum Nasrani. Maka, Al-Qur’an menggariskan standar agama bukan berbasis identitas sosial atau kebudayaan, melainkan prinsip akidah. Mereka yang sejalan dengan tradisi millah Nabi Ibrahim adalah mereka yang berpegang pada ajaran tauhid dan kesetaraan antar manusia.

Beberapa penelitian sejarah menyediakan bukti (evidence) atas perubahan keyakinan teologis kaum Yahudi dan Nasrani dari kemurnian monoteisme Nabi Ibrahim. Patrick D. Miller dalam The Early History of God: Yahweh and Other Deities in Ancient Israel [Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co, 1990] memaparkan bagaimana teologi bangsa Yahudi Israel banyak dipengaruhi oleh keyakinan bangsa Kanaan tatkala mereka hidup berdampingan di wilayah Levant selatan pada akhir millenium kedua SM (halaman 63).

Melalui interaksi sosial dengan bangsa Kanaan ini, Yahudi Israel menyerap teologi dalam tradisi pagan, seperti El, Baal, Asherah, dan Anat (The Early History of God/halaman 68). Jejak-jejak nama tuhan-tuhan dan tradisi penyembahan pagan tersebut diduga tercermin dalam beberapa bagian dalam Perjanjian Lama. Penyebutan nama ‘ěl bērît dalam Hakim-Hakim 9:46 dan kemiripan tradisi penyembahan terhadap Asherah dalam Kejadian 49:25 merupakan contoh dari penyerapan tradisi pagan tersebut.

Meskipun dalam perkembangan selanjutnya bangsa Yahudi membedakan diri mereka dengan ketat dari bangsa Kanaan, jejak-jejak budaya bangsa Kanaan adalah bukti proses sinkretik yang terjadi dalam periode tersebut (The Early History of God/halaman 69).

Proses perubahan tradisi teologi Nasrani juga cukup jelas pelacakannya. Jamak diketahui bahwa kesepakatan Nasrani atas hakikat Yesus sebagai Tuhan baru diresmikan sebagai doktrin kekristenan pada Konsili Nicaea (325 M). Konsili tersebut diinisiasi untuk memecahkan perdebatan antara Arius yang menyatakan bahwa hakikat Yesus tidak sama dengan hakikat Tuhan Allah, dengan Alexander yang menyatakan kesatuan hakikat Yesus dengan Allah (Karen Armstrong, A History of God, [London: Heinemann, 1993], halaman 60).

Kecenderungan untuk memberikan atribusi ketuhanan (deification) terhadap figur manusia memang beredar di tradisi Yunani-Romawi yang merupakan wilayah perkembangan awal kaum Nasrani. Bart D. Ehrman dalam How Jesus Become God [New York: HarperCollins Publisher, 2014] menyatakan bahwa doktrin hierarki ilahi yang diyakini dalam tradisi Yunani memungkinkan naiknya manusia menuju tingkat ketuhanan menjadi masuk akal bagi komunitas tersebut (halaman 39).

Selain itu dalam tradisi Romawi, penuhanan figur-figur manusia cukup banyak dilakukan. Sebut saja kisah Romulus yang dipuja sebagai dewa setelah disebut bangkit dari kematian ataupun kultus terhadap figur kaisar seperti Julius Caesar dan Augustus (How Jesus Become God/halaman 28-33).

Berbagai pengaruh-pengaruh budaya politeisme itulah yang membuat Nabi Muhammad SAW diperintah untuk memperingatkan kaum Yahudi dan Nasrani atas penyimpangan mereka dari agama Nabi Ibrahim yang hanif. Wallahu a'lam.

Zainun Hisyam, Pengajar Pondok Pesantren Attaujieh al-Islamy, Banyumas dan Alumni SOAS London.

Kolomnis: Zainun Hisyam

Artikel Terkait