Home Tafsir Mimpi Haji, Umrah & Qurban Doa Tasawuf/Akhlak Jenazah Khutbah Ekonomi Syariah Ilmu Hadits Shalawat/Wirid Lainnya Doa Bahtsul Masail Ilmu Tauhid Nikah/Keluarga Zakat Hikmah Tafsir Sirah Nabawiyah Ubudiyah

Jejak Ajaran Ibrahim Sebelum dan Setelah Kedatangan Rasulullah

Jejak Ajaran Ibrahim Sebelum dan Setelah Kedatangan Rasulullah
Jejak ajaran Nabi Ibrahim as sebelum dan setelah kedatangan Rasulullah saw.
Jejak ajaran Nabi Ibrahim as sebelum dan setelah kedatangan Rasulullah saw.

Di antara bagian penting yang perlu diketahui oleh umat Islam ketika mempelajari Sirah Nabawiyah adalah mengetahui keadaan dan jejak agama hanîf yang ada sejak sebelum diutusnya Rasulullah saw, beserta segala ketetapan, fenomena, dan hikmah yang ada di dalamnya. Sebab, bagian ini memuat fakta yang kerap disalahkan oleh sebagian kelompok.


Misalnya, sebagian orang menganggap bahwa risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw tidak termasuk bagian dan bukan pula kelanjutan dari ajaran al-hanîfiyah as-samhah yang diwahyukan oleh Allah  kepada Nabi Ibrahim as.


Sebelum membahas apakah ajaran Rasulullah merupakan kelanjutan ajaran Nabi Ibrahim atau tidak, penting kiranya bagi Penulis menjelaskan keadaan masyarakat Arab saat itu. Dengan demikian, kita akan mengetahui jejak ajaran Nabi Ibrahim serta dampak ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw.

 


Jejak Ajaran Nabi Ibrahim as

Sebagaimana jamak diketahui, bangsa Arab adalah anak-anak keturunan Nabi Ismail as. Mereka juga mewarisi agama dan cara hidup yang diwasiatkan ayah mereka, berupa pengesaan Allah, penyembahan-Nya, pelaksanaan aturan-Nya, penyucian-Nya, dan pemuliaan-Nya. Salah satu ajaran yang paling menonjol adalah pengagungan dan penyucian Baitullah serta penghormatan terhadap simbol-simbolnya, termasuk pelayanan dan pemeliharaannya.


Setelah beberapa abad berlalu, mulailah mereka mencampuradukkan kebenaran yang mereka yakini dengan kebatilan. Seperti itulah keadaan semua umat dan bangsa setelah didominasi kebodohan dalam waktu yang lama dan disusupi bisikan para tukang sihir dan pengkhayal. Akibatnya, keyakinan mereka disusupi syirik, dan mereka pun menjadikan patung sebagai sesembahan.


Selain itu, di tengah-tengah mereka juga berkembang berbagai fanatisme buta dan kerusakan moral yang parah. Akibatnya, mereka semakin jauh dari cahaya tauhid serta cara hidup al-hanîfiyah. Dengannya pula, mereka semakin dalam tenggelam di tengah samudra kebodohan yang menutupi kecerdasan dan potensi ketuhanan selama beradab-abad.

 


Pelopor Paganisme Arab

Syekh Said Ramadhan al-Buthi dalam mengatakan, orang pertama yang mengenalkan paganisme kepada bangsa Arab dan mengajak mereka menyembah patung adalah Amr bin Luhai bin Qam‘ah, leluhur Suku Khuza’ah. Dalam sejarahnya, Amr bin Luhai pergi dari Makkah menuju Syam untuk menjalankan urusannya. Setibanya di Ma‘ab (daerah Al-Balqa’), yang ketika itu dihuni kaum Amalek (keturunan Amlaq bin Lawidz bin Sam bin Nuh) dia melihat mereka menyembah patung.


Amr bin Luhai pun bertanya, “Apa patung-patung yang kalian sembah itu?” Mereka menjawab, “Patung-patung itu kami sembah guna meminta hujan sehingga kami diberi hujan; kami meminta kemenangan sehingga kami diberi kemenangan.” Dia bertanya lagi, “Maukah kalian memberiku satu di antaranya yang bisa kubawa ke negeri Arab untuk mereka sembah?” Maka, mereka memberinya sebuah patung yang dinamai Hubal. Dia pun membawanya ke Makkah dan memasangnya, lalu menyuruh orang-orang menyembah dan mengagungkannya. (Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Fiqhus Sîrah Nabawiyah ma’a Mujazin li Târîkhil Khilâfah ar-Rasyîdah, [Beirut, Darul Fikr: 2019], halaman 52).


Begitulah awal mula munculnya paganisme di Jazirah Arab sehingga politeisme menjadi anutan mereka yang sangat populer. Mereka telah meninggalkan akidah tauhid yang sebelumnya mereka peluk, serta mengganti agama Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan kemusyrikan. Mereka pun menjadi seperti umat-umat lain, berakhir pada aneka keyakinan dan perbuatan yang sesat. Faktor utama yang mendorong mereka melakukan semua itu adalah kebodohan, ketunaaksaraan, dan keengganan untuk berpikir sehingga mudah dipengaruhi ajaran berbagai suku dan umat yang hidup di sekitar mereka.


Kendati demikian, di tengah-tengah mereka masih ada beberapa orang yang tetap berpegang teguh pada akidah tauhid dan mengikuti cara hidup al-hanîfiyah, sebagaimana yang diajarkan Nabi Ibrahim as. Mereka tetap memercayai adanya hari kebangkitan, meyakini bahwa Allah memberikan pahala kepada orang yang taat dan menghukum orang yang durhaka, dan tidak menyukai penyembahan patung serta segala kesesatan paham dan pemikiran yang diada-adakan bangsa Arab. Segelintir orang yang dikenal tetap memelihara ajaran hanîfiyah ini, di antaranya Qass bin Sa‘idah, Ri‘ab Asy-Syinni, dan Buhaira sang Rahib (pendeta). (As-Shalabi, Fiqhus Sîrah Nabawiyah ‘Irdu Waqâ’i wa Tahlîli Ahdâts, [Beirut, Darul Ma’rifah: 2008], halaman 23).


Adat istiadat bangsa Arab juga masih memperlihatkan jejak-jejak ajaran Nabi Ibrahim dan prinsip agama yang hanif serta simbol-simbolnya, meski semakin terkikis habis seiring perkembangan zaman. Dalam kadar tertentu, kejahiliahan mereka masih diwarnai pengaruh aneka simbol dan prinsip hanîfiyah. Hanya saja, berbagai simbol dan prinsip ini muncul di kehidupan mereka dalam keadaan sudah tercemar.


Kesimpulannya, keadaan bangsa Arab pada masa kedatangan Islam dinaungi jejak-jejak ajaran al-hanîfiyah as-samhah yang dibawa Nabi Ibrahim as. Di masa lalu, kehidupan mereka dipenuhi akidah tauhid serta cahaya petunjuk dan iman. Setelah itu, mulailah mereka menjauhi kebenaran itu sedikit demi sedikit disebabkan faktor waktu yang sangat lama, abad-abad yang panjang, dan jarak masa yang jauh dari masa Nabi Ibrahim.


Kehidupan mereka pun mulai diisi gelap kemusyrikan, sesat pemikiran (logical fallacy), dan kebodohan. Semua itu berkembang seraya tetap membawa aneka simbol kebenaran kuno serta prinsipnya yang masih tersisa, yang terus bergerak mengiringi sejarah mereka. Hanya saja, semua prinsip, tradisi, dan simbol-simbol agama hanîfiyah semakin lemah seiring perjalanan waktu, dan semakin sedikit pemeluknya dari tahun ke tahun.

 


Kedatangan Nabi Muhammad saw

Ketika cahaya agama yang hanîf bersinar lagi dengan kedatangan Nabi Muhammad saw, wahyu Ilahi pun menyentuh setiap hal yang telah ditutupi kesesatan dan kegelapan selama abad-abad yang sangat panjang itu. Cahaya Ilahi yang datang bersama Rasulullah saw menyingkirkan kesesatan dan menyingkapkan kembali tradisi hanîfiyah yang sejati. Rasulullah saw datang mengganti kebodohan dengan cahaya iman, tauhid, serta prinsip keadilan dan kebenaran. Beliau mengenalkan kembali bangsa Arab kepada keyakinan dan ajaran Nabi Ibrahim kemudian memulihkannya seperti sebelumnya serta menetapkannya sebagai syariat Ilahi.


Kedatangan Nabi Muhammad saw bagaikan air hujan yang membasahi tanah setelah beberapa tahun tidak tersiram, bagai rembulan pada malam purnama. Beliau mengenalkan kembali kepada mereka potensi ilahiah (ketuhanan), keimanan, dan kebenaran yang sejatinya telah mereka kenal dan mereka miliki.


Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman perihal garis-garis dakwah dan syariat Rasulullah saw, bahwa risalah yang dibawanya merupakan risalah yang sudah dibawa oleh para nabi sebelumnya.


شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ


Artinya, “Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.” (QS Asy-Syura: 13).


Rasulullah saw bersabda:


إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ اْلأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَانًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَاهُ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوْفُوْنَ بِهِ ويَعْجَبُوْنَ لَهُ، وَيَقُوْلُوْنَ: هَلَا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ؟ قَالَ: فَأَنَا اللَّبِنَةُ، وأَنا خَاتَم النَّبِيِّيْنَ


Artinya, “Sungguh perumpamaanku dan para nabi sebelumku seperti orang yang mendirikan bangunan. Dia memperbagus dan memperindahnya, menyisakan satu ruang untuk batu bata di sebuah sudut. Orang-orang pun mengelilingi bangunan itu dan mengaguminya, lalu berkata, ’Bukankah batu bata ini mesti dipasang?’ Nah, akulah batu bata itu. Akulah penutup para Nabi.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

 


Kesimpulan

Nabi Muhammad saw diutus membawa al-hanîfiyah as-samhah guna meluruskan kebengkokannya, menghilangkan distorsinya, dan menyalakan cahayanya seperti semula, setelah sebelumnya orang-orang Arab sudah menganut keyakinan benar yang kemudian disusupi oleh keyakinan sesat.


Keturunan Ismail mewarisi secara turun-temurun cara hidup leluhur mereka, Nabi Ismail as. Mereka pun tetap hidup sesuai syariat itu hingga datang Amr bin Luhai. Dengan jalan pikirannya yang sesat, ia memasukkan ke dalamnya berbagai hal sehingga sesat dan menyesatkan. Dia mengenalkan penyembahan patung, persembahan binatang untuk berhala, dan pemotongan kuping binatang untuk berhala. Ketika itulah agama menjadi tidak sah, karena yang benar sudah tercampur dengan yang rusak. Mereka juga didominasi kebodohan, kemusyrikan, dan kekafiran.


Setelah itu, Allah swt mengutus Nabi Muhammad untuk meluruskan kebengkokan dan memperbaiki kerusakan mereka. Beliau mengamati syariat mereka, lalu melestarikan apa-apa yang sesuai dengan cara hidup Nabi Ismail as atau yang tergolong simbol-simbol Allah. Sementara, apa-apa yang sudah diselewengkankan atau dirusak, atau yang tergolong simbol-simbol kesyirikan dan kekafiran, beliau tsegaskan sebagai kebatilan. Wallâhu a’lam.

 

 

Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

 

 


 


Terkait

Sirah Nabawiyah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya