NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Ilmu Tauhid

Kepercayaan Mesir Pra-Islam: Dunia Para Dewa di Tepi Sungai Nil

NU Online·
Kepercayaan Mesir Pra-Islam: Dunia Para Dewa di Tepi Sungai Nil
Mesir Pra-Islam (Freepik)
Bagikan:

Mesir adalah salah satu simpul peradaban tertua dunia. Terletak di Afrika Utara dan disuburkan oleh Sungai Nil.  Negeri ini bukan hanya melahirkan piramida, arsitektur monumental, dan sistem birokrasi yang maju, tetapi juga sebuah dunia spiritual yang sangat kaya dan kompleks.

Jauh sebelum Islam hadir pada abad ke-7 M, bahkan sebelum Kekristenan mengakar kuat, masyarakat Mesir telah membangun sistem kepercayaan yang menyatu dengan kosmos, alam, dan kehidupan sosial mereka.

Agama Mesir Kuno bukan sekadar sistem ritual atau kumpulan mitos. Ia adalah fondasi kebudayaan. Ia menopang struktur politik, memberi legitimasi kepada raja, membentuk seni dan arsitektur, serta mengarahkan cara manusia memahami hidup dan mati.

Akar Prasejarah: Awal Kesadaran Sakral

Penduduk Mesir mulai mendiami lembah Nil sejak masa Neolitik. Perkembangan mereka berlanjut dari masyarakat agraris awal hingga munculnya kerajaan-kerajaan besar para Firaun. Secara kronologis, sejarah Mesir biasanya dibagi menjadi periode prasejarah (sebelum ±3400 SM), Kerajaan Lama (3400–2475 SM), masa transisi feodal (2475–2160 SM), Kerajaan Pertengahan (2160–1780 SM), dominasi Hyksos (1780–1580 SM), dan periode imperium (1580–525 SM).

Sebagaimana dicatat oleh Nuraini dalam kajiannya tentang peradaban awal, temuan arkeologis menunjukkan bahwa masyarakat Mesir telah menggunakan peralatan sejak zaman Paleolitik dan Neolitik, dan praktik penguburan telah dikenal sejak masa yang sangat awal (Nuraini, Mesopotamia dan Mesir Kuno: Awal Peradaban Dunia, ADABIYA, Vol. 22 No. 1, 2020, hlm. 11).

Seperti manusia pada umumnya, orang Mesir Kuno juga terdorong untuk mencari makna hidup. Namun bagi mereka, pencarian makna tersebut diwujudkan dalam gagasan-gagasan teologis yang meyakini adanya banyak dewa yang menciptakan dunia dan terlibat dalam setiap aspek kehidupan serta kelangsungannya. Jumlah dewa yang mereka sembah sangatlah banyak sekitar 1.500 dewa dan dewi diketahui namanya, meskipun hanya sebagian kecil yang dipahami secara mendalam.

Bagi masyarakat modern, keberagaman dewa-dewa ini yang berbentuk hewan, manusia, gabungan keduanya, atau bentuk simbolik lainnya dengan berbagai lambang dan sifat sering kali tampak aneh, membingungkan, bahkan sulit dipahami. Namun jika dikaji lebih dekat, akan tampak suatu dunia yang penuh interaksi antara para dewa dan dewi. 

Mitos dan representasi mereka membentuk sebuah jalinan kisah yang menakjubkan, dengan tingkat kecanggihan intelektual dan artistik yang sering kali tidak terduga. (Richard H. Wilkinson, The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt, (London:Thames & Hudson, 2003), h. 6)

Kosmos yang Hidup: Alam dan Dewa sebagai Satu Kesatuan

Asal-usul agama di Mesir Kuno, termasuk asal-usul para dewa, berakar pada masa prasejarah yang sangat jauh dan hingga kini sulit dipahami secara utuh. Tidak ada catatan tertulis dari masa-masa awal tersebut yang secara langsung menjelaskan bagaimana para dewa itu muncul. Namun, temuan arkeologi serta mitos-mitos yang dicatat pada masa yang lebih kemudian memberikan petunjuk penting tentang lahirnya para dewa Mesir.

Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Mesir Kuno memandang para dewa sebagai bagian yang menyatu dengan alam semesta. Karena itu, para dewa dianggap dapat hidup dan mati, dan secara mitologis juga akan mengalami kehancuran bersama dengan alam semesta itu sendiri. Bagi para dewa, sebagaimana bagi seluruh ciptaan, waktu pada akhirnya akan berakhir.

Meskipun demikian, masa keberadaan para dewa dipahami dalam skala kosmis yang sangat panjang. Para dewa Mesir, sebagaimana dewa-dewa dalam kebudayaan lain, diyakini memiliki kekuatan yang sangat besar. Hal ini paling jelas terlihat dalam mitos-mitos penciptaan, yang menceritakan proses terbentuknya dunia dalam berbagai versi di pusat-pusat keagamaan utama Mesir.

Walaupun kisah-kisah penciptaan tersebut berbeda-beda, semuanya menunjukkan kesamaan pandangan yang mendasar, para dewa dipahami sebagai satu kesatuan dengan alam semesta, namun pada saat yang sama mereka adalah pihak yang membentuk, mengatur, dan menguasai dunia fisik dengan kekuatan transenden yang mereka miliki. (Richard H. Wilkinson, The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt, h. 10)

Asal-usul para dewa Mesir bermula jauh pada masa prasejarah. Masa awal ini terjadi jauh sebelum Mesir terbentuk sebagai sebuah negara dan sebelum manusia mengenal tulisan. Karena itu, kajian tentang periode ini hanya dapat mengandalkan bukti-bukti nontertulis, yang sering kali ditemukan dalam konteks dan kondisi yang tidak sepenuhnya jelas.

Para ahli antropologi, prasejarah, dan studi agama telah lama berusaha memahami tahap awal pembentukan agama Mesir ini. Namun, bukti-bukti yang ada masih sulit ditafsirkan dan sering menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan para ilmuwan. Meskipun demikian, bukti tersebut tampaknya menunjukkan adanya konsep tentang kesakralan. 

Hal ini terlihat dari keberadaan benda-benda yang diduga sebagai objek pemujaan, praktik penguburan manusia dan hewan, serta tempat-tempat yang menunjukkan adanya pelaksanaan ritual tertentu.

Apakah benda-benda dan situs-situs tersebut benar-benar mencerminkan kepercayaan terhadap satu atau lebih wujud ketuhanan masih belum dapat dipastikan. Namun, sebagaimana ditekankan oleh banyak ahli, cara masyarakat prasejarah menguburkan orang mati dengan penuh perhatian, serta keyakinan akan kehidupan setelah mati yang tersirat di dalamnya, menunjukkan bahwa mereka telah memiliki tingkat pemikiran dan kecanggihan intelektual yang memadai untuk mempercayai hal-hal tersebut. (Richard H. Wilkinson, The Complete  h. 12)

Seperti kebanyakan manusia awal, masyarakat prasejarah yang tinggal di sekitar Sungai Nil tampaknya memiliki rasa hormat yang besar terhadap kekuatan alam, baik yang hidup (makhluk bernyawa) maupun yang tidak hidup. Di Mesir, unsur yang hidup tampaknya lebih menonjol. Namun, gambaran bintang yang berulang pada Gerzeh Palette dan artefak lain dari masa Neolitik Akhir (sekitar 3600–3300 SM) menunjukkan kemungkinan bahwa pemujaan terhadap benda-benda langit telah berkembang sejak dini.

Dari Animisme ke Personifikasi Ilahi

Jika kita menelusuri jejak religiositas Mesir Kuno dari lapisan paling awalnya, kita akan menemukan bahwa bentuk ketuhanan yang mula-mula tampil dalam bukti arkeologis umumnya berwujud hewan. Sapi dan elang termasuk yang paling menonjol. Hewan-hewan ini bukan sekadar makhluk biologis dalam pandangan masyarakat prasejarah Mesir, melainkan simbol kekuatan kosmis. Sapi dapat melambangkan kesuburan dan kelimpahan, sedangkan elang yang terbang tinggi dan tajam penglihatannya, menjadi lambang kekuasaan langit dan pengawasan ilahi.

Namun simbolisme itu tidak berhenti pada makna kosmis yang abstrak. Dewa-dewa berbentuk hewan ini juga diyakini memiliki pengaruh langsung terhadap kehidupan manusia: terhadap panen, kelahiran, perlindungan, dan bahkan stabilitas politik. Dengan kata lain, yang ilahi hadir sekaligus dalam cakrawala semesta dan dalam keseharian manusia.

Pada akhir masa prasejarah, bukti-bukti arkeologis menunjukkan adanya praktik penguburan hewan secara ritual terutama anjing atau serigala, kijang, sapi, dan domba jantan. Praktik ini tidak tampak sebagai tindakan biasa, melainkan sarat makna religius. Selain itu, ditemukan pula berbagai representasi hewan dalam konteks yang menunjukkan penghormatan khusus.

Fenomena ini sering dipahami sebagai bentuk animisme atau fetisisme, yaitu keyakinan bahwa makhluk hidup sebagaimana manusia, memiliki roh yang harus dihormati. Namun persoalannya lebih dalam daripada sekadar totemisme suku. Jika hewan-hewan tersebut bukan hanya lambang identitas kelompok, melainkan sungguh-sungguh dipahami sebagai manifestasi kekuatan ilahi, maka di sinilah terjadi lompatan konseptual penting dalam sejarah teologi Mesir.

Sebagaimana dicatat oleh Richard H. Wilkinson dalam The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt, tahap ini menandai proses peralihan dari penghormatan terhadap roh-roh alam menuju gagasan tentang dewa-dewa yang memiliki identitas dan karakter tertentu.

Gagasan bahwa yang ilahi dapat menampakkan diri dalam bentuk hewan menjadi fondasi bagi perkembangan selanjutnya: personifikasi. Dewa tidak lagi sekadar roh samar yang tersebar di alam, melainkan tampil dalam bentuk yang dapat dikenali, digambarkan, bahkan diberi narasi. Dari sinilah muncul figur-figur dewa berkepala hewan dengan tubuh manusia, suatu sintesis simbolik yang unik dalam sejarah agama dunia.

Bentuk hibrida ini memperlihatkan dua hal sekaligus: keterikatan dewa pada kekuatan alam (melalui wujud hewan) dan kapasitas rasional serta sosial (melalui tubuh manusia). Representasi seperti ini menjadi ciri khas ikonografi Mesir pada akhir Periode Pradinasti.

Artefak penting yang sering dirujuk untuk menunjukkan perkembangan ini adalah Narmer Palette. Pada benda ini terlihat simbolisme kekuasaan dan representasi makhluk-makhluk yang tidak lagi semata-mata naturalistik, melainkan telah memuat makna teologis dan politis. Ia menjadi saksi bagaimana dunia simbol, kekuasaan raja, dan gagasan tentang yang ilahi mulai terjalin erat. (Richard H. Wilkinson, The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt,  h. 12)

Dengan demikian, perjalanan dari animisme menuju personifikasi ilahi di Mesir bukanlah perubahan mendadak, melainkan proses bertahap. Dari penghormatan terhadap roh alam, menuju pengakuan akan wujud-wujud ilahi yang memiliki identitas, fungsi kosmis, dan relasi aktif dengan kehidupan manusia. Di sinilah fondasi teologi Mesir Kuno mulai terbentuk sebuah teologi yang kaya simbol, mendalam secara kosmologis, dan sangat memengaruhi peradaban di sepanjang Sungai Nil.

Menjelang abad ke-6 dan ke-7 M—masa ketika Islam mulai hadir dalam panggung sejarah—agama Mesir Kuno dalam bentuk klasiknya sebenarnya telah lama mengalami transformasi besar. Perubahan itu tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang sejak akhir zaman kuno.

Seiring menguatnya agama Kristen pada abad ke-4 M, struktur keagamaan pagan Mesir perlahan kehilangan dominasi publiknya. Kuil-kuil besar tidak lagi menjadi pusat kehidupan sosial seperti sebelumnya, dan otoritas religius tradisional mulai melemah. Namun, penting untuk dipahami: dunia pagan tidak serta-merta lenyap.

Kajian Luca Ricci dalam Material Culture in Late Antique Egypt: Between Pagan Tradition and Christian Assimilation  menunjukkan bahwa unsur-unsur pagan tetap bertahan dalam budaya material masyarakat, baik di pusat-pusat kota maupun di pedesaan, sepanjang abad ke-4 dan bahkan ke-5 Masehi.

Salah satu bukti paling menarik adalah keberadaan jimat-jimat magis. Pada masa pagan klasik, jimat memiliki fungsi apotropaik yakni sebagai penolak bala, pelindung dari roh jahat, penyakit, atau kemalangan. Jimat tidak dipahami sebagai benda biasa, melainkan sebagai medium kekuatan gaib.

Namun, seiring perubahan religius dan sosial, makna benda-benda ini tampaknya mengalami pergeseran. Pada abad ke-5 Masehi, jimat mungkin masih dipakai, tetapi tidak lagi selalu dengan kesadaran penuh akan fungsi sakralnya. Generasi baru yang hidup dalam lingkungan Kristen bisa jadi hanya melihatnya sebagai hiasan atau warisan budaya, bukan sebagai sarana perlindungan supranatural.

Ricci mencatat bahwa beberapa jimat yang ditemukan dan digunakan pada abad ke-4 Masehi ternyata berasal dari abad pertama Masehi. Rentang waktu yang begitu panjang membuat kemungkinan keberlanjutan makna religius aslinya menjadi kecil. Artinya, fungsi apotropaik yang dahulu diyakini mungkin telah memudar, sementara bendanya sendiri tetap bertahan sebagai objek fisik.

Fenomena ini memperlihatkan sesuatu yang sangat penting dalam studi agama: keyakinan dapat berubah, tetapi simbol sering kali lebih lama bertahan. Sebuah benda yang dahulu diyakini memiliki daya gaib dapat berubah menjadi sekadar ornamen budaya. 

Meskipun demikian, kesalehan populer pagan, terutama di wilayah pedesaan, masih menunjukkan daya tahan tertentu sepanjang abad ke-4 dan ke-5 Masehi. Tradisi rakyat sering kali bergerak lebih lambat daripada perubahan resmi institusional. Dengan demikian, masa menjelang abad ke-5 dapat dipahami sebagai periode transisi yang kompleks: bukan lagi sepenuhnya pagan, tetapi juga belum sepenuhnya melepaskan warisan lama. (Luca Ricci, Material Culture in Late Antique Egypt: Between Pagan Tradition and Christian Assimilation, University of Adelaide Departments: Classics and History, hal. 5)

Agama, Teks, dan Kehidupan Setelah Mati

Salah satu kontribusi penting lain bangsa Mesir dalam peradaban adalah kemajuan dalam bidang seni tulisan, khususnya pengenalan terhadap alfabet literatur tertua tercantum pada teks-teks piramida yang disebut dengan teks tertua tentang pemikiran manusia. Teks yang berkenaan dengan agama dapat dijumpai pada dinding-dinding makam raja yang berisi tentang mantra mantra magis, mitos dan nyanyian religius. 

Sementara literatur pada masa pertengahan lebih kaya dan bervariasi serta bersifat sekuler. Banyak ditemukan cerita-cerita romantis, tenggelamnya kapal dan sebagainya. Tetapi cerita yang penting adalah legenda tentang Yusuf dan saudaranya. 

Di samping itu juga ditemukan syair-syair bernuansa religius yang diekspresikan secara filosofis. Sistem penanggalan sudah dikenal dengan baik, penetapan jumlah hari sebanyak tiga puluh dalam satu bulan dan jumlah bulan sebanyak dan belas dalam satu tahun setiap akhir tahun ditambah dengan lima hari. 

Dalam bidang ilmu pengetahuan, bangsa Mesir adalah pertama kali dalam matematika terapan, tetapi mereka sedikit kemajuan dalam bidang fisika dan astronomi. Bangsa Mesir dapat dikatakan sebagai arsitek yang luar biasa dengan menghasilkan bangunan batu berbentuk piramida. (Nuraini, Mesopotamia dan Mesir Kuno: Awal Peradaban Dunia, dalam ADABIYA, Vol. 22 No. 1, 2020, hal. 15)

Islam dan Dialog Sejarah Mesir

Ketika Islam hadir pada abad ke-7 M, Mesir telah melewati ribuan tahun perjalanan spiritual. Al-Qur’an sendiri mengabadikan Mesir dalam kisah Nabi Yusuf dan Nabi Musa, serta figur Fir‘aun sebagai simbol kekuasaan yang menindas.

Penaklukan Mesir terjadi pada masa Khalifah Umar ibn al-Khattab melalui panglima Amr ibn al-As. Dengan jatuhnya Alexandria, Mesir resmi menjadi bagian dari dunia Islam (Abu Haif, Sejarah Perkembangan Peradaban Islam di Mesir, Jurnal Rihlah Vol. II No. 1, 2015, hlm. 70).

Namun Islam tidak datang ke ruang kosong. Ia berdialog dengan warisan panjang paganisme dan Kekristenan Koptik. Peradaban Islam Mesir kemudian berdiri di atas fondasi sejarah yang sangat dalam.

Untuk itu, kepercayaan Mesir Pra-Islam memperlihatkan satu kenyataan mendasar: manusia selalu mencari makna. Dalam bentuk dewa-dewi, dalam mitos penciptaan, dalam teks piramida, dan dalam ritual penguburan, bangsa Mesir berusaha menjawab pertanyaan tentang asal-usul, tujuan, dan akhir kehidupan.

Agama mereka mungkin telah berubah, tetapi pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu tetap hidup. Dari paganisme kuno hingga tauhid Islam, Mesir menjadi saksi bahwa sejarah agama bukanlah rangkaian pemutusan, melainkan dialog panjang antara manusia dan Yang Ilahi. Dan di tepi Sungai Nil itu, dialog tersebut telah berlangsung lebih dari lima milenium.

----------
Besse Herlina Taha, Pembina Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone

Artikel Terkait