Home Bahtsul Masail Shalawat/Wirid Ramadhan Jenazah Ubudiyah Ilmu Hadits Tasawuf/Akhlak Khutbah Sirah Nabawiyah Doa Tafsir Haji, Umrah & Qurban Hikmah Tafsir Mimpi Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Lainnya

Berkunjung ke Kuil, Piramida, dan Sphinx yang Eksotis di Mesir

Berkunjung ke Kuil, Piramida, dan Sphinx yang Eksotis di Mesir
Orang-orang kuno Mesopotamia. (Ilustrasi: via cellcode.us)
Orang-orang kuno Mesopotamia. (Ilustrasi: via cellcode.us)

Peradaban Mesir Kuno masyhur dengan bangunan tempat-tempat peribadatan (ma‘bad, temple, kuil), piramida, Spinks, dan juga mumi. Kuil Karnak, sebagai peninggalan generasi-generasi Fir’aun, merupakan satu situs keagamaan kuno atau kuil terbesar di dunia, setelah Angkor Wat di Kamboja, dengan luas sekitar 1,8 km x 800 m. Kuil Karnak terletak sebelah selatan dari Ibukota Kairo, berjarak sekitar 655 km atau sekitar 7,18 jam perjalanan mobil. Jaraknya dari Kota Luxor sekitar 2,5 km.


Pembangunan Karnak merupakan proyek kolektif dan berkesinambungan (sustainable) dari generasi-generasi penguasa Fir’aun. Proyek pembangunannya memakan waktu lebih dari 1 millenium (1000 tahun): dimulai Raja Seti I (al-Malik Sîtî al-Awwal), tahun 1313-1292 SM, dan disempurnakan putranya, Ramses II (Ramsîs ats-Tsânî), dinasti ke-19, sekitar tahun 1292-1225 SM, sebuah dinasti baru (1570-1100 SM). 


Selain Kuil Karnak, banyak sekali kuil peninggalan Peradaban Mesir Kuno, antara lain, yang dapat dikisahkan sekilas di sini, Kuil Ratu Hatshepsut (Queen Hatshsepsut’s Temple), yang menjadi lokasi kuburan Ratu Hatshepsut, satu-satunya perempuan penguasa Mesir sebagai Fir’aun, yang memerintah Mesir selama 20 tahun (1479-1458 SM). 


Berikutnya, Kuil Luxor, dibangun sekitar tahun 1400 SM, untuk menyembah Tiga penguasa Tribes, yang dijuluki ats-Tsâlûts ath-Thayyibî, yaitu dewa Amun-Ra, dewi Mut dan dewa Khonsu. Pembangunannya pada masa Dinasti Penguasa ke-18 dan Penguasa ke-19, yaitu Amankhoteb III dan Ramses II (hidup sekitar tahun 1303-1213).


Selain itu, tentu di antara kuil tersohor adalah Kuil Abu Simbel (dalam bahasa Arab, Abû Sanbal atau Abû Sambal). Kuil ini merupakan situs arkeologi yang terdiri dari dua kuil batu; yang satu kuil lebih besar dan kuil sebelahnya lebih kecil. Lokasinya terletak di sebelah Selatan Mesir, tepatnya di ujung Danau Nasser, sekitar 290 km barat daya Kota Aswan.


Kuil ini dibangun saat Raja Ramses II, dikenal pula sebagai Ramses Terbesar (ar-Ramsîs al-Akbar) berkuasa selama 66 tahun, sekitar tahun 1279-1213 SM. Pembangunan kuil ini dimaksudkan untuk memperingati kemenangannya pada Pertempuran Kadesh dan untuk menakuti tetangga Nubia, serta kuil yang lebih kecil juga didedikasikan untuk istrinya yang sangat cantik, bernama Nefertari, dan juga dipersembahkan kepada Dewi Harthor. 


Satu kuil yang lebih besar, yaitu kuil yang di bagian depannya terdapat empat patung Fir’aun besar dalam posisi duduk. Kuil ini dibangun untuk para dewa utama dari Heliopolis, Memphis, dan Thebes.


Struktur kuil ini dirancang dengan arsitektur yang luar biasa canggih, dengan perhitungan astronomi yang smart, sehingga sinar matahari terbit, dalam setahun dua kali, yaitu setiap tanggal 22 Februari dan 22 Oktober, bisa tepat menerangi keempat patung, yang berada di bagian pusat dan terdalam kuil, yakni tiga dewa dan Fir’aun Ramses II. Kuil Abu Simbel ini masuk ke dalam bagian Markah Tanah Nubia, melingkupi Abu Simbel sampai dengan Philae.


Kuil Abu Simbel diketahui dunia Barat pada tahun 1812 M ketika ditemukan penjelajah Swiss, bernama Johann Ludwig Burckhardt (1784-1817 M). Abu Simbel ini diselamatkan oleh proyek internasional yang didanai UNESCO dari peluapan Danau Nasser. Bagian-bagian dari kuil tersebut dipisahkan, dan pada tahun 1968 dirangkai kembali pada situs baru yang terletak 64 m (sekitar 210 kaki) di atas Sungai Nil, sebagaimana yang dapat dikunjungi saat ini.  


Beberapa kuil lainnya: Kuil Seti I (dibangun sekitar tahun 1279 SM); Kuil Edfu (dibangun sekitar tahun 237 SM); Kuil Kom Ombo (dibangun sekitar abad ke-2 SM), dan Kuil Philae. Kuil Philae dibangun oleh Fir’aun lokal dari dinasti ke-30, tahun 690 M, dan diperkirakan sebagai kuil kuno terakhir yang dibuat dengan gaya Mesir kuno. Untuk menuju kuil ini, kita menggunakan perahu boat.  


Misteri Piramida Giza dan Sphinx

Tentu saja peradaban Mesir Kuno yang paling populer adalah Piramida Giza dan Sphinx. Piramida Giza ini, berjumlah 3 (tiga) piramida yang berdekatan, yaitu Khûfû, Khafra’ dan Munqari’, dan Great Sphinx of Gyza (Sphinx terbesar di Giza) menjadi simbol dan landmark utama Mesir.


Piramida yang populer Great Pyramid atau Pyramid Khufu (al-Haram al-Akbar, Haram Khûfû) menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia, tingginya 148 m, usianya lebih dari 4.805 tahun. Strukturnya terbuat dari batu kapur besar yang dipoles atau dibakar, terdiri atas lebih dari 2,3 juta balok-balok besar, setiap batu ini bobotnya 2,5-15 ton. 


Pembangunan Piramida Khufu membutuhkan waktu 20 tahun, diperkirakan berlangsung pada tahun 2560 SM, dibangun untuk makam dinasti ke-4, Khufu (Χεωψ, Cheops). Sampai saat ini, Piramida Khufu masih menyimpan banyak misteri. Sedangkan Piramida Khafra’ tingginya semula 143 m, tetapi saat ini hanya 136 m. Adapun Piramida Munqari’ tingginya 65,5 m, tetapi saat ini hanya 62 m setelah bagian atas luarnya runtuh.


Ada banyak teori mengenai bagaimana cara dan teknologi yang digunakan untuk membangun Piramida Giza, tetapi hingga kini belum ada satu teori pun yang disepakati di antara ilmuwan: Piramida Giza tetap misterius.


Sphinx terbesar, dalam bahasa Arab disebut Abû al-Haul, panjangnya 73,5 meter, termasuk kedua kaki depannya (15 meter), lebarnya 6 meter, dan tingginya sekitar 20 meter. Sphinx terbesar ini, berwujud patung manusia berkepala singa, yang terletak bersebelahan dengan Piramida Giza tersebut, Sphinx dibangun masa Raja Khafra’, sekitar tahun 2558 SM. Umumnya sphinx dapat ditemukan dekat dengan makam para Fir’aun, karena danggap sebagai penjaga makam Fir’aun tersebut.


Selain situs-situs kono itu, ada juga situs Valley of The Kings dan Valley of the Queens, dalam bahasa Arab dikenal sebagai Wadî al-Muluk (Lembah Para Raja dan Ratu), yang menjadi komplek pemakaman para raja, ratu, keluarga dan para bangsawan, di antaranya Ramses II dan isterinya Queen Nefertari. Juga situs Colossi of Memnon, yaitu dua buah patung besar yang menggambarkan Fir’aun Amenthotep III dalam posisi sedang duduk, yang dahulunya di tempat ini berdiri salah satu kuil terbesar masa itu. 


Di samping itu, peninggalan penting dari Peradaban Mesir Kuno adalah sarkofagus atau peti mati Mesir Kuno untuk menyimpan mayat yang diawetkan (mumi). Peti mati ini ada dua macam, terbuat dari batu granit dan dari kayu, yang banyak jumlahnya, sebagaimana terpajang berjejeran di dalam Museum Kairo. Peti mati tersebut banyak ditemukan di Saqqara, situs kuburan aktif selama lebih dari 3.000 tahun dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.   


Di antara benda-benda peninggalan Mesir Kuno semacam ini juga penulis lihat langsung, ketika di Belanda, pada bulan Ramadan 1440 (Mei 2019), mengunjungi museum Rijksmuseum van Oudheden (RMO) Pagenburg 28, 2311 EW Leiden, yang berdekatan dengan Universiteit Leiden Netherlands. Di dalamnya antara lain terdapat peninggalan Mesir Kuno, diberi kode ”2.100 V.CHR”, yakni dua ribu seratus tahun SM, sekitar lebih dari 4.100 tahun silam.   


Mumifikasi

Peradaban Mesir Kuno juga tidak bisa dilepaskan dari mumifikasi, yaitu pembalseman mumi (embalming), yang dipandang sebagai  inti dari kebudayaan Mesir Kuno. Alasannya, karena dalam kepercayaan mereka, kehidupan pascakematian hanyalah untuk memperpanjang usaha menikmati hidup. Untuk itu, mereka perlu mengawetkan jenazah agar jiwa memiliki tempat tinggal.


Proses mumufikasi Mesir Kuno melibatkan pengangkatan organ internal mayat, dan mengeringkan tubuhnya dengan campuran garam, kemudian membungkusnya dengan kain yang direndam dalam ekstrak tumbuhan, minyak dan resin. Meski demikian, mumi yang lebih tua diyakini telah diawetkan tidak melalui proses kimiawi, tetapi secara alami; dikubur di pasir gurun yang kering. 


Menurut ilmuwan Rusia dalam penelitian yang dilakukan di Kurchatov Institute, Moscow, mumi Mesir Kuno dirawat dengan dua macam ramuan pembalseman: satu untuk melestarikan rambut dan satu lagi untuk melestarikan badannya.


Ditemukan fakta sejarah bahwa wanita bangsawan Mesir Kuno, yang hidup lebih dari 3.000 tahun lalu memiliki balsem khusus yang digunakan pada rambut mereka, sehingga bisa awet ribuan tahun. Pembalseman rambut ini menggunakan balsem, yang terbuat dari kombinasi lemak sapi, minyak jarak, lilin lebah dan getah pinus, serta dengan setetes minyak pistachio aromatik yang harum sebagai tambahan opsional.


Wanita bangsawan Mesir Kuno, yang hidup lebih dari 3.000 tahun lalu memiliki balsem khusus yang digunakan pada rambut mereka, sehingga bisa lestari ribuan tahun. Demikian diberitakan dalam laman dailymail.co.uk (9/7/2019). Hasil penelitian terhadap kain pembungkus mumi menunjukkan bahwa kain itu diperkirakan berasal dari kira-kira tahun 4.000 SM, jauh lebih tua daripada saat pembalseman dan asal mumi (kompas.com, 19/8/2018).


Bangsa yang Cinta Berkarya

Situs-situs dalam Peradaban Mesir Kuno di atas menunjukkan perkembangan dan kemajuan saintek, terutama di bidang matematika, geometri dan arsitektur, termasuk kemajuan dalam pengelolaan negara (good government). Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan Mesir Kuno ini mencakup pula bidang pengelolaan air atau irigasi, tata ruang kota, pembuatan patung, pembuatan kertas, pembalseman (mumi), dan lain sebagainya. 


Pencermatan terhadap Peradaban Mesir Kuno menunjukkan bahwa ia dilandaskan atas pengendalian keseimbangan (equibrium, balance, tawâzun) yang baik antara sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM), yang ditandai terutama oleh: (1) irigasi teratur terhadap Lembah Sungai Nil; (2) pendayagunaan mineral dari lembah dan wilayah gurun di sekitarnya; (3) perkembangan sistem tulisan dan sastra; (4) organisasi proyek kolektif; (5) perdagangan dengan wilayah Afrika Timur, Afrika Tengah, dan Mediterania Timur; dan (6) kegiatan militer yang menunjukkan kekuasaan terhadap kebudayaan negara atau suku bangsa tetangga pada beberapa periode berbeda. 


Sejalan dengan hal ini Prof. Dr. Ahmad Badran, guru besar bidang sejarah peradaban, mengatakan:


الهرم الأكبر يدل على وجود حضارة مصرية قديمة سباقة في عمليات البناء والتشديد والعمران في إطار دولة قوية منظمة وشعبها محب للعمل


Artinya: ”Piramida Agung di Giza menunjukkan eksistensi peradaban Mesir Kuno telah mencapai kemajuan dalam beragam proyek pembangunan, infrastruktur dalam horizon pemerintahan yang kuat dan bangsa yang cinta berkarya.” (masrawy.com, 8/7/2020).


Alhamdulillah, penulis bersyukur, pada tahun 2015, telah mengunjungi peradaban Mesir Kuno nan eksotis, yang termasuk peradaban tertua di dunia. Momen itu bagian dari program Academic Recharging for Islamic Higher Education (ARFI).


ARFI, sebuah program yang diselenggarakan Kementerian Agama RI, untuk meningkatkan kompetensi wawasan akademik dan budaya bagi dosen-dosen perguruan tinggi Islam di Indonesia. Bersama rekan-rekan Arfiyûn, begitu kami menyebutnya, sebanyak 18 orang peserta ARFI Mesir 2015 (empat belas dosen laki-laki dan empat dosen perempuan), kami menyinggahi tempat-tempat dan situs-situs peradaban Mesir Kuno, yang telah ditetapkan menjadi warisan dunia oleh UNESCO, di samping juga wisata religi dan budaya di tempat lainnya, antar lain makam Imam al-Bushairi dan perpustakaan Alexandria di Kota Iskandariah, kebun kurma, dan off road di padang pasir di Matruh.


Mengunjungi situs-situs Peradaban Mesir Kuno ini menjadi sangat berkesan, terutama saat menikmati panorama Mesir dengan menumpangi kapal pesiar, Nil Cruize, di sepanjang Luxor. Selain itu, tentu pada momen mengunjungi Kuil Philae dengan menaiki perahu boat sekitar 15 menit, karena letaknya di pulau Philae di tengah-tengah Sungai Nil di Aswan.


Di dalamnya terdapat legenda menarik, yang diketahui pada masa Dinasti Kelima Mesir, yaitu perihal kesetiaan abadi Isis terhadap Osiris (saudara kandung laki-laki yang ia nikahi) yang dibunuh oleh Set, yang juga merupakan saudara mereka. Kuil Philae dan beberapa kuil lainnya pada tahun 1960 dipindahkan oleh UNESCO ke pulau Aglika sejauh 500 meter dari tempat semula, untuk menghindarkan dari genangan air sungai Nil akibat pembangunan bendungan di Aswan.


Dengan menggali peradaban Mesir Kuno, kita bisa mendapatkan hikmah untuk mencontoh kreativitas bangsa yang cinta berkarya ini. Mari kerja, kerja dan kerja cerdas untuk peradaban mulia.


Ustadz Ahmad Ali MD, Pendiri dan Ketua Yayasan Manhajuna Madania Salam Kota Tangerang, Dosen Tetap Pascasarjana Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (Institut PTIQ) Jakarta



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Sirah Nabawiyah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×