Tiga ‘Jangan’ dalam Hidup
Orang yang terkena penyakit malas dia akan membuang waktunya tanpa melakukan apapun seolah waktu itu tidak berharga baginya. Orang malas cenderung menggampangkan persoalan dengan menunda-nunda mengerjakannya.
Temukan semua artikel keislaman terbaru
Orang yang terkena penyakit malas dia akan membuang waktunya tanpa melakukan apapun seolah waktu itu tidak berharga baginya. Orang malas cenderung menggampangkan persoalan dengan menunda-nunda mengerjakannya.
Secara hakiki segala yang diam dan bergerak di muka bumi baik daratan maupun lautan memang milik Allah. Kalau secara hakiki ini diterapkan dalam keseharian, kehidupan mendadak chaos karena siapa saja merasa khalifatullah. Namun, secara majazi hak milik Allah bisa diidhofahkan kepada siapa saja agar kehidupan jadi terang dan terus berjalan.
Selepas menshalati jenazah sang ibunda, Zaid bin Tsabit pulang dengan menaiki bighãl (bagal). Saat akan menunggangi hewan peranakan kuda dan keledai itu, sepupu Rasulullah, Ibnu 'Abbas, tiba-tiba menghampiri lalu memegang tali kendali tunggangan tersebut. Ibnu 'Abbas hendak menuntunnya sebagai bentuk penghormatan.
“Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni surga,” kata Rasulullah ketika sedang duduk-duduk bersama sahabatnya. Sejurus kemudian seorang pria dari kalangan Anshor lewat di hadapan mereka. Air bekas wudhu menetes dari sela-sela jengotnya, sementara tangan kirinya terlihat sedang menenteng sendal.
Sebagai kitab yang memang khusus disusun berisi doa-doa dan amalan-amalan yang bisa diterapkan sehari-hari, Syekh Muhammad Al-Maliki membuka penjelasan kitab ini dengan pentingnya memerhatikan etika berdoa. Doa yang diperhatikan adabnya akan semakin menambah kesempurnaan doa itu dan menambah nilai kebaikan.
Keluar-masuk pakai aturan. Di sinilah pentingnya aturan. Tanpa kepatuhan terhadap aturan, seseorang dapat menggetok jidatnya sendiri. Kalau sudah begini, ia tidak bisa menunjuk sumber kesalahan kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Jumhur atau mayoritas ulama bersepakat bahwa menghadap kiblat adalah salah satu syarat sahnya umat Islam dalam menunaikan sembahyang. Artinya, mengabaikan urusan ini berpotensi merusak keabsahan shalat secara keseluruhan. Sebagaimana pula mengabaikan menutup aurat masuknya waktu shalat, atau kesucian dari hadats kecil dan besar.
Kita dilarang oleh Rasulullah SAW mengafirkan dan menuduh orang lain fasik, munafiq, atau sebutan buruk lain di dalam agama. Sementara banyak orang terutama pada pergantian tahun 2016-2017 di sepanjang rangkaian aksi bela Islam dan aksi bela ulama melakukan dengan ringan apa yang dilarang Rasulullah. Pertanyaan saya, bagaimana caranya meminta maaf kepada orang-orang yang dianiaya dengan tuduhan-tuduhan bernuansa agama seperti itu? Mohon dijelaskan. Terima kasih
Seorang wanita dari Bani Israil pernah datang kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dan berkata, “Wahai Nabi Allah, aku telah melakukan dosa yang besar, aku telah bertobat kepada Allah SWT. Maka, mohonkanlah kepada Allah agar Dia mengampuni dosa dan menerima tobatku!”
Ketika berkunjung ke orang-orang di atasmu, mungkin kauterpesona dengan kemewahan rumah mereka. Secara spontan mungkin kauberucap, “Andaikan rumahku seperti ini!” Ketika itu–meski hanya dalam hati–Allah SWT pasti mendengarnya. Ini bisa berarti kaumeremehkan nikmat-Nya yang telah diberikan kepadamu berupa rumah yang selama ini engkau tinggali bersama keluarga.
Nabi Adam ternyata tak selalu di "posisi atas". Dalam kisah selanjutnya Nabi Adam tampak tidak kuat menahan godaan setan sehingga ia bersama Hawa dikeluarkan dari berbagai kenikmatan itu.
Kita mengenal konsep sekufu atau kafaah dalam perkawinan yang merujuk pada kesetaraan antara suami dan istri. Bagaimana kalau keduanya terpaut usia yang begitu jauh jaraknya atau ketimpangan jenjang pendidikan. Bukankah jarak usia keduanya yang terpaut jauh dan ketimpangan soal pendidikan itu jelas menyalahi konsep sekufu (kafaah) yang disyariatkan?