Dari VAR hingga Politik, Kontroversi Bayangi Piala Dunia 2026
NU Online · Jumat, 10 Juli 2026 | 17:00 WIB
Jakarta, NU Online
Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya menghadirkan pertandingan-pertandingan dramatis pada fase gugur, tetapi juga diwarnai berbagai kontroversi besar, baik di dalam maupun di luar lapangan. Sejumlah insiden menyita perhatian dunia karena berkaitan dengan kepemimpinan wasit, dugaan campur tangan politik, rasisme, hingga tata kelola sepak bola internasional.
Perdebatan mengenai integritas pengambilan keputusan serta sikap para pejabat, politisi, dan otoritas sepak bola pun semakin mendominasi pemberitaan sepanjang turnamen.
Penangguhan hukuman Balogun picu polemik
Kontroversi terbesar muncul setelah FIFA menangguhkan hukuman larangan bermain satu pertandingan terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, yang sebelumnya menerima kartu merah.
Balogun mendapat kartu merah langsung saat Amerika Serikat mengalahkan Bosnia dan Herzegovina 2-0 pada babak 32 besar setelah melanggar bek Tarik Muharemovic. Berdasarkan regulasi FIFA, kartu merah langsung umumnya berujung pada skors otomatis satu pertandingan.
Namun, pada Ahad, FIFA mengumumkan bahwa hukuman tersebut ditangguhkan selama masa percobaan satu tahun. Keputusan itu membuat penyerang berusia 25 tahun tersebut tetap dapat memperkuat Amerika Serikat saat menghadapi Belgia pada babak 16 besar di Seattle.
Keputusan tersebut diambil setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino dan meminta peninjauan ulang atas kartu merah yang diterima Balogun.
"Saya meminta peninjauan ulang karena menurut saya itu bukan pelanggaran," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih seraya menyebut keputusan wasit sebagai sesuatu yang "mengerikan" dikutip dari Anadolu.
Trump menegaskan dirinya tidak menginstruksikan Infantino untuk mengambil keputusan tertentu dan meyakini proses tersebut diputuskan oleh komite independen FIFA.
Infantino membenarkan adanya komunikasi dengan Trump. Menurutnya, ia memang rutin berdiskusi mengenai Piala Dunia dengan Presiden Amerika Serikat, kepala negara, pejabat pemerintah, pelaku sepak bola, hingga kalangan dunia usaha.
Ia mengatakan kepada Trump bahwa kasus Balogun sedang diproses oleh badan independen FIFA dan akan diputuskan sesuai prosedur yang berlaku.
Meski demikian, keputusan FIFA memicu kritik tajam. UEFA menilai FIFA telah "melewati garis merah" karena hukuman larangan satu pertandingan akibat kartu merah merupakan bagian dari regulasi yang bersifat otomatis dan tidak dapat diberlakukan secara diskresioner.
Federasi Sepak Bola Belgia juga menyatakan "terkejut" atas keputusan tersebut dan meminta penjelasan resmi kepada FIFA mengenai dasar hukum serta proses pengambilan kebijakan itu.
Laga Argentina kontra Mesir picu polemik VAR
Kontroversi lain terjadi setelah Argentina mengalahkan Mesir 3-2 pada babak 16 besar. Mesir sempat unggul 2-0 sebelum Argentina membalikkan keadaan melalui tiga gol pada menit-menit akhir pertandingan.
Sorotan utama mengarah pada gol penyerang Mesir Mostafa Zico yang dianulir setelah tinjauan Video Assistant Referee (VAR) menyatakan terjadi pelanggaran dalam proses terciptanya gol.
Mesir juga memprotes keputusan wasit yang tidak memberikan hadiah penalti ketika Hamdy Fathy dijatuhkan di kotak penalti. Permainan tetap dilanjutkan, dan Argentina justru mencetak gol penentu kemenangan tidak lama kemudian.
Federasi Sepak Bola Mesir menilai sejumlah keputusan penting wasit menimbulkan pertanyaan serius mengenai konsistensi dan keadilan kepemimpinan pertandingan serta memengaruhi hasil akhir laga.
Pelatih Mesir Hossam Hassan menyebut timnya mengalami "kekalahan yang tidak adil". Ia bahkan menuding adanya "dukungan pemasaran" agar Argentina dan Lionel Messi tetap bertahan di turnamen.
Kapten Mesir Mohamed Salah, bersama sejumlah mantan pemain dan pengamat sepak bola, juga mempertanyakan konsistensi penggunaan VAR pada momen-momen krusial pertandingan.
Komentar rasis terhadap Mbappe dikecam
Piala Dunia 2026 juga diwarnai kontroversi di luar lapangan setelah Senator Paraguay Celeste Amarilla melontarkan komentar bernada rasis terhadap kapten Prancis Kylian Mbappe seusai kemenangan Prancis 1-0 atas Paraguay pada babak 16 besar.
Melalui sejumlah unggahan di platform media sosial X, Amarilla mengejek asal-usul Kamerun, latar belakang keluarga, penampilan fisik, hingga pendidikan Mbappe. Dalam salah satu unggahannya, ia menyebut Mbappe sebagai "orang Kamerun yang dijajah dan berpura-pura menjadi orang Prancis", disertai komentar menghina lainnya.
Mbappe membalas pernyataan tersebut melalui akun X dengan menyebut Amarilla sebagai "perempuan yang tercela dan tidak pantas" menduduki jabatannya. Ia juga menegaskan senator tersebut tidak mewakili rakyat maupun tim nasional Paraguay yang, menurutnya, telah bermain penuh semangat dan terhormat sepanjang turnamen.
Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam keras pernyataan Amarilla dan menyebut komentar tersebut sebagai tindakan yang "menjijikkan". Menurut PBB, insiden itu mencerminkan masih maraknya rasisme dalam dunia sepak bola dan olahraga secara umum.
Menteri Olahraga Prancis Marina Ferrari mengatakan pemerintah Paraguay telah menyampaikan permintaan maaf atas pernyataan senator tersebut. Sementara itu, Kejaksaan Paris telah membuka penyelidikan atas kasus tersebut.
Isu politik dan kepemimpinan wasit terus mencuat
Selain berbagai insiden tersebut, Piala Dunia 2026 juga dibayangi kritik terhadap kebijakan imigrasi dan penerbitan visa di Amerika Serikat. Ofisial dan pemain Timnas Iran terdampak penerbitan visa yang tersendat.
Setelah visa terbit pun, pemain Timnas Iran tidak diperbolehkan tinggal di AS sehingga harus mengorbankan kondisi fisik pemain untuk memilih tinggal di Meksiko. Hal itu dampak dari perang Iran dengan AS-Israel yang hingga kini belum mereda.
Sepanjang fase gugur, konsistensi kepemimpinan wasit juga terus menjadi sorotan. Perdebatan muncul terkait standar penggunaan VAR, keputusan penalti, penerapan sanksi disiplin, hingga penafsiran terhadap pelanggaran berat.
Rangkaian kontroversi tersebut menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai salah satu edisi yang paling sarat dengan persoalan politik, sosial, dan tata kelola sepak bola dalam sejarah penyelenggaraan turnamen.
Terpopuler
1
PBNU Putuskan Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Tambakberas Jombang, 27-31 Agustus 2026
2
Khutbah Jumat: Rezeki Sudah Ditakar, Tak Akan Tertukar
3
PBNU Rampungkan Survei Lokasi Muktamar Ke-35 NU, Lirboyo dan Jakarta Jadi Opsi Terkuat
4
Penentuan Lokasi Muktamar Ke-35 NU Ditunda, Paling Lambat Besok Pagi
5
PBNU Sebut Pengalaman Tambakberas Jombang Jadi Modal Utama Selenggarakan Muktamar Ke-35 NU
6
Pesan Rais Aam PBNU kepada Pengurus 25 Hari Jelang Muktamar Ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua