Serangan Pemukim Israel Meningkat, Rakyat Palestina Kehilangan Lahan dan Mata Pencaharian
NU Online · Rabu, 5 Agustus 2026 | 19:00 WIB
Jakarta, NU Online
Desa Far'ata di timur Kegubernuran Qalqiliya, Tepi Barat, Palestina mengalami peningkatan tajam serangan pemukim Israel sejak awal 2026. Serangan yang terus berulang menyasar warga Palestina, lahan pertanian, serta berbagai fasilitas milik penduduk sehingga membatasi akses masyarakat terhadap tanah dan mata pencaharian mereka.
Dikutip dari WAFA, warga Far'ata, Mohammed Shana'a, mengatakan dirinya membeli sebidang tanah di bagian timur desa dengan rencana membangun rumah. Namun, meningkatnya serangan pemukim membuat ia tidak lagi berani mendatangi lahannya.
"Saya akhirnya memutuskan menjual tanah itu karena terlalu berbahaya untuk didatangi. Pemukim menyerang siapa saja yang berada di kawasan tersebut," ujarnya.
Serangan juga berdampak langsung terhadap para petani yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Petani Abdul Muati Rizq mengaku lahan seluas dua dunum yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarganya kini sulit dikelola. Ancaman serangan saat menuju lahan maupun ketika memanen hasil pertanian memaksanya mengurangi aktivitas bercocok tanam secara drastis.
Sementara itu, warga lainnya, Hijazi Yameen, mengatakan rumah-rumah penduduk juga menjadi sasaran serangan. Menurutnya, rumah keluarganya berkali-kali dilempari batu dan dibuang sampah oleh para pemukim sehingga menimbulkan rasa takut dan kecemasan.
Ia mendesak adanya perlindungan bagi warga serta penghentian serangan-serangan tersebut.
Anggota Dewan Desa Far'ata, Rula Abdel Aziz, mengatakan serangan pemukim dari permukiman ilegal Havat Gilad dan Yitzhar meningkat secara signifikan sejak awal tahun.
Menurutnya, kedua permukiman tersebut berdiri di atas tanah milik warga Palestina dan hanya berjarak sekitar 200 hingga 300 meter dari desa sehingga masyarakat hidup di bawah ancaman hampir setiap hari.
Abdel Aziz menyebut sekitar 400 serangan telah terjadi di Far'ata sejak awal tahun. Juli menjadi bulan dengan jumlah serangan tertinggi, yakni sekitar 40 kali, meningkat dibandingkan sekitar 30 serangan pada Juni.
Ia merinci, serangan-serangan tersebut mengakibatkan sekitar 300 dunum lahan desa dikuasai pemukim. Selain itu, sekitar 150 dunum lahan lainnya diratakan dengan buldoser atau dibakar, yang sebagian besar merupakan kebun zaitun.
Kerusakan juga meliputi pembakaran 20 kendaraan, kerusakan sekitar 50 rumah dan fasilitas umum, serta 40 serangan langsung terhadap warga berupa pelemparan batu dan penembakan.
Abdel Aziz mengatakan kawasan timur dan selatan desa menjadi wilayah yang paling sering menjadi sasaran karena terdapat situs Abu al-Joud yang diklaim pemukim sebagai milik mereka dan rutin digunakan untuk kegiatan keagamaan.
Menurutnya, para pemukim telah memasang karavan, gudang, kandang ternak, serta mendirikan tenda-tenda baru di bagian selatan desa. Kondisi itu menyebabkan sekitar 35 keluarga tidak lagi dapat mengakses maupun mengolah lahan mereka.
Ia juga mengungkapkan berbagai bentuk intimidasi lain, mulai dari meletakkan bangkai babi di depan rumah warga hingga mencuri aliran listrik dari jaringan desa untuk memasok kawasan yang telah mereka kuasai.
Belum lama ini, lanjut Abdel Aziz, para pemukim mendatangkan balok-balok beton sebagai persiapan pemasangan gerbang pertanian yang dikhawatirkan akan semakin membatasi akses warga menuju lahan mereka.
Menurutnya, serangan yang terjadi kini bukan sekadar merusak harta benda, tetapi juga bertujuan menekan warga Palestina agar meninggalkan tanah mereka dengan menghalangi aktivitas bertani dan menggembala sehingga mempermudah pengambilalihan lahan serta perluasan permukiman ilegal.
Desa Far'ata berada di timur Kegubernuran Qalqiliya dan berbatasan dengan Desa Immatin di utara, Jit di selatan, serta Awarta dan Osarin di wilayah tenggara yang termasuk Kegubernuran Nablus.
Desa yang dihuni sekitar 1.200 jiwa itu memiliki luas sekitar 1.760 dunum. Kedekatannya dengan sejumlah pos permukiman ilegal Israel menjadikan Far'ata semakin rentan terhadap serangan para pemukim.
Terpopuler
1
Melalui PBNU, YANMU Salurkan 11 Ambulans dan 1.000 Al-Quran untuk PWNU dan PCNU
2
Nasirun, Keluarganya, dan Tarekat
3
Disertasi tentang Orientasi Doktrinal NU Antar Asikin Sumarto Raih Doktor di University of Jordan
4
Fariz Alnizar Dilantik sebagai Rektor Unusia Periode 2026–2030
5
PBNU Pastikan Pesantren Tambakberas Siap Tampung 3.000 Lebih Peserta Muktamar Ke-35 NU
6
Masuk Bursa Bakal Calon Ketua Umum PBNU, Ini Kiprah dan Profil KH Marsudi Syuhud
Terkini
Lihat Semua