Kriteria Guru yang Baik Menurut Syekh Husein al-Yamani
NU Online · Rabu, 5 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Ahmad Dirgahayu Hidayat
Kolumnis
Beberapa hari terakhir, perhatian pengguna media sosial tertuju pada sebuah unggahan yang menyentuh hati. Dalam video tersebut, seorang guru sekolah dasar tampak ditangisi para muridnya saat momen perpisahan karena harus pindah tugas ke sekolah lain. Isak tangis, pelukan, dan raut wajah anak-anak yang enggan berpisah menunjukkan betapa eratnya hubungan yang terjalin antara sang guru dan para muridnya.
Momen tersebut bukan hanya mengharukan, tetapi juga menyimpan pelajaran berharga tentang pentingnya kedekatan emosional antara guru dan murid. Tangisan para murid menunjukkan bahwa guru tersebut memiliki tempat istimewa di hati mereka. Hal ini sekaligus mengingatkan bahwa tugas seorang guru tidak hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga mendidik dengan kasih sayang dan keteladanan.
Kriteria Guru yang Baik Menurut Syekh Husein al-Yamani
Baca Juga
Doa Memintakan Ampunan untuk Guru
Syekh Husein bin Manshur bin Muhammad bin Ali al-Yamani (w. 1050 H) dalam kitab Adabul Ulama wal Muta’allimin menjelaskan sedikitnya empat belas adab dan kualitas yang semestinya dimiliki seorang pendidik.
Pertama, Memantapkan Niat Mendidik karena Allah
Seorang guru hendaknya meneguhkan niat bahwa kegiatan mengajar dan mendidik dilakukan semata-mata untuk mengharap rida Allah Swt. Mengajar juga bertujuan menyebarkan ilmu, menghidupkan syariat, menumbuhkan tradisi keilmuan, serta menjaga keberlanjutan kebaikan umat melalui lahirnya para ulama dan ahli dalam berbagai bidang.
Dengan niat yang tulus dan tekad yang kuat, seorang guru telah menempatkan dirinya dalam mata rantai keilmuan yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW.
Kedua, Tetap Mengajar Meskipun Niat Murid Belum Ikhlas
Seorang guru tidak sepatutnya menolak mengajar hanya karena muridnya belum sepenuhnya ikhlas dalam menuntut ilmu. Sebab, niat yang baik dapat tumbuh dan berkembang selama proses belajar.
Hal semacam ini telah banyak terjadi di kalangan penuntut ilmu. Karena itu, dikenal sebuah ungkapan:
طَلَبْنَا الْعِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ فَأَبَى أَنْ يَكُونَ إِلَّا لِلَّهِ
Artinya, “Pada mulanya kami mencari ilmu bukan karena Allah, tetapi ilmu itu enggan kecuali menjadikan kami mencarinya karena Allah.” (Husein bin Manshur bin Muhammad bin Ali al-Yamani, Adabul Ulama wal Muta’allimin, halaman 9).
Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa ketulusan niat dapat terbentuk seiring perjalanan seseorang dalam menuntut ilmu. Oleh karena itu, guru perlu membimbing murid untuk memperbaiki niat secara bertahap. Setelah mereka merasakan manfaat dan kenikmatan ilmu, guru dapat menjelaskan pentingnya ketulusan niat dalam menentukan kemuliaan seseorang.
Jangan sampai seorang guru enggan mengajar hanya karena niat muridnya belum sempurna. Sikap demikian justru dapat menyia-nyiakan kesempatan untuk menyebarkan ilmu dan menanamkan kebaikan.
Ketiga, Menumbuhkan Kecintaan Murid pada Ilmu
Guru hendaknya menumbuhkan semangat belajar dengan menjelaskan kemuliaan yang Allah berikan kepada para pencari ilmu dan ulama sebagai pewaris para nabi.
Guru juga perlu mengajarkan kesederhanaan dan sikap kanaah agar hati para murid tidak disibukkan oleh kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Keterikatan berlebihan pada urusan dunia dapat memecah konsentrasi dan menghambat kesungguhan mereka dalam mendalami ilmu.
Keempat, Mencintai Murid Sebagaimana Mencintai Diri Sendiri
Seorang guru hendaknya mencintai para muridnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Guru perlu menginginkan kebaikan bagi murid sebagaimana ia menginginkan kebaikan bagi dirinya.
Hal ini sejalan dengan hadits riwayat Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Artinya, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya—atau tetangganya—apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (Imam Muslim, Shahih Muslim, [Beirut: Dar Ihya at-Turats, 1374 H/1955 M], juz I, halaman 9).
Selain itu, guru semestinya menyayangi murid seperti menyayangi anak sendiri. Ia perlu bersabar menghadapi kekeliruan mereka serta memberikan teguran dengan cara yang lembut, bukan dengan kekerasan atau sikap kasar.
Kelima, Memudahkan Proses Belajar
Guru hendaknya bersikap ramah dan memudahkan murid dalam memahami pelajaran, terutama kepada murid yang menunjukkan adab baik dan kesungguhan dalam belajar.
Guru juga perlu mendorong murid untuk mencatat poin-poin penting dan menghafal istilah-istilah baru. Namun, materi yang diberikan harus disesuaikan dengan kemampuan mereka. Membebani murid dengan materi yang terlalu berat dapat membuat mereka bingung, tertekan, bahkan kehilangan semangat untuk belajar.
Keenam, Mengajar dengan Sungguh-Sungguh
Seorang guru hendaknya mengajar dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat. Semangat guru dalam menyampaikan pelajaran dapat menular kepada para murid dan membuat mereka lebih antusias dalam belajar.
Guru perlu memperjelas keterangan yang belum dipahami dan mengulangi penjelasan apabila diperlukan. Dalam menyampaikan materi, guru juga harus mempertimbangkan kesopanan dan kesiapan murid. Istilah yang dianggap sensitif dapat disampaikan secara langsung apabila memang diperlukan. Namun, jika bahasa kiasan sudah cukup menjelaskan, cara tersebut lebih baik digunakan, terutama apabila terdapat murid yang belum layak mendengar penjelasan secara terbuka.
Ketujuh, Menguji Pemahaman Murid Setelah Menyampaikan Materi
Setelah menjelaskan materi, guru dianjurkan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman murid. Murid yang mampu menjawab dengan benar perlu diapresiasi agar semakin bersemangat, sedangkan murid yang belum memahami materi harus diberi penjelasan ulang dengan cara yang lembut.
Cara ini penting karena sebagian murid merasa malu mengakui bahwa mereka belum memahami pelajaran. Mereka mungkin tidak ingin merepotkan guru, khawatir waktu belajar tidak mencukupi, atau merasa malu kepada teman-temannya.
Kedelapan, Menguji Hafalan Murid secara Berkala
Pada waktu-waktu tertentu, guru sebaiknya meminta murid mengulangi hafalan serta menguji penguasaan mereka terhadap kaidah dan materi yang telah disampaikan.
Murid yang mampu menjawab dengan benar dapat dipuji secara wajar di hadapan teman-temannya. Apresiasi tersebut diharapkan dapat mempertahankan semangatnya sekaligus memotivasi murid yang lain.
Adapun murid yang belum menguasai materi perlu didorong agar lebih tekun belajar dan memiliki cita-cita yang tinggi. Teguran tetap dapat diberikan, terutama kepada murid yang justru semakin termotivasi setelah diingatkan. Namun, teguran tersebut harus disampaikan secara mendidik dan tidak merendahkan martabatnya.
Kesembilan, Memperhatikan Batas Kemampuan Murid
Apabila seorang murid terlihat belajar secara berlebihan hingga dikhawatirkan mengalami kejenuhan, guru hendaknya menasihatinya agar tidak terlalu memaksakan diri.
Syekh Husein al-Yamani mengutip sebuah hadits yang menggambarkan keadaan orang yang memaksakan perjalanan secara berlebihan. Orang tersebut tidak akan sampai ke tujuan dan juga tidak menyisakan kekuatan bagi kendaraannya. (Husein bin Manshur bin Muhammad bin Ali al-Yamani, Adabul Ulama wal Muta’allimin, halaman 11).
Pesan tersebut mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam belajar. Kesungguhan memang diperlukan, tetapi kemampuan fisik dan mental murid juga harus diperhatikan agar proses belajar dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Kesepuluh, Mengajarkan Kaidah-Kaidah Dasar
Seorang guru sebaiknya menjelaskan kaidah-kaidah dasar dari setiap tema yang sedang dipelajari. Pemahaman terhadap kaidah dasar akan membantu murid menguasai materi secara sistematis dan tidak hanya menghafal bagian-bagian tertentu.
Namun, guru harus memastikan bahwa ia benar-benar menguasai kaidah yang disampaikan. Jika belum menguasainya, ia tidak perlu memaksakan diri. Guru sebaiknya menyampaikan materi yang benar-benar dipahami dan tidak berbicara tanpa dasar pengetahuan yang memadai.
Kesebelas, Memperlakukan Semua Murid secara Adil
Guru tidak sepatutnya memperlihatkan kasih sayang dan perhatian secara berlebihan kepada sebagian murid, sedangkan murid yang lain diabaikan, terutama apabila mereka memiliki kedudukan yang setara dalam usia, prestasi, dan tata krama. Perlakuan yang tidak seimbang dapat menimbulkan kecemburuan dan merusak hubungan di antara para murid.
Namun, apabila seorang murid memiliki keutamaan atau prestasi tertentu, guru boleh memberikan penghormatan dan apresiasi secara proporsional. Hal tersebut dapat mendorong murid lain untuk meningkatkan semangat belajar dan meneladani sifat-sifat baik yang dimilikinya.
Guru juga tidak boleh mendahulukan giliran seorang murid tanpa alasan yang dapat dibenarkan, kecuali terdapat manfaat yang lebih besar atau murid lain telah merelakannya.
Kedua Belas, Mengawasi Akhlak dan Perilaku Murid
Guru tidak hanya bertanggung jawab terhadap perkembangan akademik murid, tetapi juga perlu memperhatikan akhlak, perilaku, dan tutur kata mereka.
Jika seorang murid melakukan perbuatan yang tidak pantas, seperti melanggar ketentuan agama, membahayakan diri sendiri, membolos, atau bersikap tidak sopan, guru perlu menegurnya secara bertahap. Teguran dapat dimulai dengan sindiran atau nasihat umum. Jika belum berhasil, murid dapat ditegur secara pribadi agar kehormatannya tetap terjaga.
Apabila perilaku tersebut terus berulang, guru dapat memberikan teguran yang lebih tegas sesuai kebutuhan. Tindakan disiplin juga dapat diterapkan untuk sementara waktu sebagai langkah mendidik, bukan sebagai bentuk pelampiasan kemarahan.
Ketiga Belas, Membantu Kebutuhan dan Kesulitan Murid
Seorang guru sebaiknya memperhatikan keadaan dan kesejahteraan muridnya. Ia perlu membantu mereka mengatasi kesulitan, menjaga kerukunan di antara mereka, serta mendukung mereka dalam meraih cita-cita sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Sikap tersebut sejalan dengan ajaran Islam bahwa Allah akan menolong seorang hamba selama ia bersedia menolong saudaranya. Dengan demikian, perhatian guru tidak berhenti di ruang kelas, tetapi juga mencakup persoalan yang dapat memengaruhi perkembangan dan keberhasilan murid.
Keempat Belas, Bersikap Rendah Hati kepada Murid
Guru hendaknya bersikap tawaduk dan lemah lembut kepada para murid serta kepada siapa pun yang datang untuk meminta bimbingan. Sikap rendah hati tidak akan mengurangi kewibawaan seorang guru. Sebaliknya, sikap tersebut dapat membuat ilmu lebih mudah diterima dan diteladani.
Allah SWT berfirman:
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya, “Rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang beriman yang mengikutimu.” (QS. asy-Syu’ara: 215).
Syekh Husein al-Yamani juga mengutip sebuah hadits:
أَنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَالِمَ الْمُتَوَاضِعَ وَيُبْغِضُ الْجَبَّارَ، وَمَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ وَرَّثَهُ اللهُ الْحِكْمَةَ
Artinya, “Sesungguhnya Allah mencintai orang berilmu yang rendah hati dan membenci orang yang sombong. Barang siapa merendahkan hati karena Allah, niscaya Allah mewariskan hikmah kepadanya.” (Husein bin Manshur bin Muhammad bin Ali al-Yamani, Adabul Ulama wal Muta’allimin, halaman 12).
Kisah viral tentang seorang guru yang ditangisi para muridnya saat perpisahan menunjukkan bahwa kedekatan seperti itu tidak tumbuh secara tiba-tiba. Tangisan para murid merupakan buah dari proses pendidikan yang dijalani dengan kasih sayang, kesabaran, keadilan, dan kerendahan hati.
Ikatan batin antara guru dan murid hanya dapat tumbuh melalui ketulusan dalam mendidik, bukan sekadar penyampaian materi di depan kelas. Kisah tersebut patut menjadi renungan bagi para pendidik bahwa mengajar bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah, melainkan amanah mulia untuk menyebarkan ilmu, membentuk akhlak, dan meneruskan mata rantai kenabian. Wallahu a'lam bish-shawab.
Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumnus Ma’had Aly Situbondo dan pengajar di Pondok Pesantren Manbaul Ulum Kabul, Lombok Tengah.
Terpopuler
1
Melalui PBNU, YANMU Salurkan 11 Ambulans dan 1.000 Al-Quran untuk PWNU dan PCNU
2
Disertasi tentang Orientasi Doktrinal NU Antar Asikin Sumarto Raih Doktor di University of Jordan
3
Nasirun, Keluarganya, dan Tarekat
4
PBNU Pastikan Pesantren Tambakberas Siap Tampung 3.000 Lebih Peserta Muktamar Ke-35 NU
5
Fariz Alnizar Dilantik sebagai Rektor Unusia Periode 2026–2030
6
Masuk Bursa Bakal Calon Ketua Umum PBNU, Ini Kiprah dan Profil KH Marsudi Syuhud
Terkini
Lihat Semua