Tak Perlu Panik, LPBINU Jabar Ingatkan Waspada Erupsi Gunung Anak Krakatau
NU Online · Selasa, 8 September 2026 | 19:00 WIB
Kota Bandung, NU Online Jabar
Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Jawa Barat mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul sebaran abu vulkanik erupsi Anak Krakatau yang tercatat aktif kembali pada Jumat, (4/9/2026) sampai Ahad, (6/9/2026) dan telah mencapai sejumlah wilayah di Jawa Barat.
Ketua LPBINU Jawa Barat, Dadang Sudardja mengatakan, kondisi tersebut perlu dihadapi dengan kesiapsiagaan, bukan kepanikan.
“LPBINU Jawa Barat melihat kondisi ini sebagai situasi yang perlu direspons dengan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, bukan kepanikan,” ujarnya saat diwawancarai NU Online Jabar, Ahad (6/9/2026).
Dadang mengatakan, abu vulkanik tidak hanya menjadi masalah debu di udara. Kalau paparan terjadi dalam waktu yang cukup lama, dampaknya bisa dirasakan masyarakat, terutama pada kesehatan. Selain itu, air dan makanan juga perlu diperhatikan, termasuk aktivitas sekolah, transportasi, lingkungan, dan kegiatan ekonomi.
Bahkan, Ia juga meminta masyarakat lebih memperhatikan kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta warga yang mempunyai gangguan pernapasan atau penyakit kronis dinilai perlu mendapat perhatian lebih. Begitu juga dengan mereka yang harus bekerja di luar ruangan.
Menurutnya, kesiapsiagaan juga perlu dilakukan di sekolah, pesantren, panti, rumah sakit, dan tempat pelayanan publik lainnya. Ketersediaan informasi, masker, air bersih, dan layanan kesehatan juga perlu diperhatikan.
“Saya kira ini penting, perlindungan kelompok rentan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi dimulai dari keluarga dan komunitas,” katanya.
Saat abu mulai meningkat, Dadang menyarankan masyarakat sebaiknya mengurangi kegiatan di luar rumah. Jika memang harus keluar, penggunaan masker dengan penyaringan yang baik, seperti N95 atau KN95 jika tersedia mesti selalu digunakan.
“Prinsipnya adalah kurangi paparan, lindungi pernapasan dan mata, serta batasi aktivitas di luar rumah,” jelasnya.
Ia pun meminta masyarakat untuk selalu mengikuti perkembangan melalui informasi resmi dari PVMBG, BMKG, BNPB/BPBD, dan pemerintah daerah. Karena pasalnya di Jawa Barat sendiri, terkhusus wilayah Kabupaten Sukabumi termasuk daerah yang cukup dekat dengan sumber erupsi. Namun, ia mengatakan sebaran abu tidak hanya ditentukan oleh jarak, tetapi juga kondisi angin.
“Secara geografis, wilayah Jawa Barat yang relatif paling dekat dengan sumber erupsi adalah kawasan Kabupaten Sukabumi, khususnya wilayah pesisir. Namun, dalam konteks sebaran abu vulkanik, kedekatan geografis bukan satu-satunya faktor penentu. Abu vulkanik sangat dipengaruhi arah dan kecepatan angin, sehingga wilayah yang lebih jauh pun dapat terdampak. Karena itu, pemantauan sebaran abu berdasarkan informasi BMKG dan PVMBG harus menjadi rujukan utama,” jelasnya.
Selain kondisi udara, sumber air dan makanan juga perlu diperhatikan halnya seperti wadah air yang berada di luar atau terbuka sebaiknya ditutup supaya tidak terkena abu. Bahkan buat air yang berubah kualitasnya atau diragukan keamanannya jangan langsung digunakan untuk minum.
Untuk mengantisipasi meluasnya dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau, LPBINU Jabar akan melakukan koordinasi dan pertukaran informasi dengan sejumlah pihak, di antaranya PVMBG/Badan Geologi, BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah.
“LPBINU sendiri memiliki jaringan komunitas yang cukup luas. Karena itu, kami dapat membantu pada sisi pemantauan dampak di masyarakat, edukasi, penyebaran informasi yang benar, perlindungan kelompok rentan dan mobilisasi relawan apabila diperlukan,” tuturnya.
Ia menegaskan, bantuan yang diberikan nantinya harus melihat kebutuhan masyarakat di lapangan, jangan sampai bantuan diberikan tanpa mengetahui kondisi sebenarnya.
“Namun respons harus berbasis data dan kebutuhan lapangan, bukan sekadar mengirim bantuan. Bagi LPBINU, prinsipnya adalah jangan sampai bantuan datang terlambat, tetapi juga jangan sampai bantuan diberikan tanpa mengetahui kebutuhan sebenarnya,” tegasnya.
Selain daripada itu, Dadang juga meminta masyarakat tetap tenang dan mulai menyiapkan kebutuhan dasar, seperti masker, air minum, makanan, obat-obatan yang diperlukan, alat komunikasi, serta kebutuhan anggota keluarga yang rentan.
“Pesan kami sederhana, waspada, jangan panik. Ikuti informasi resmi, lindungi keluarga, dan jangan meremehkan paparan abu vulkanik,” pesannya.
Selengkapnya klik di sini..
Terpopuler
1
Menakar Kapasitas Al-Albani dalam Ilmu Hadits: Benarkah Layak Disebut Muhaddits?
2
Gus Kikin Sebut NU Dukung Program Pemerintah, Fokus pada Pembangunan Manusia
3
PCNU Jombang Harapkan PBNU Masa Khidmah 2026-2031 Prioritaskan Program Keumatan
4
Gus Kikin Targetkan Susunan Kepengurusan PBNU 2026-2031 Rampung dalam 30 Hari
5
Seismik Anak Krakatau Menurun, PVMBG Ingatkan Potensi Letusan Lebih Kuat Masih Terbuka
6
10 Pendapat Al-Albani yang Bertentangan dengan Imam Mazhab dan Mayoritas Ulama Ahlussunnah
Terkini
Lihat Semua