Jakarta

Cegah Penurunan Tanah, Gedung Tinggi di Jakarta Harus Berhenti Gunakan Air Tanah

NU Online  ·  Jumat, 13 Maret 2026 | 11:30 WIB

Cegah Penurunan Tanah, Gedung Tinggi di Jakarta Harus Berhenti Gunakan Air Tanah

diskusi Balkoters Talk bertajuk Implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 6 Menuju Jakarta Kota Global di Press Room Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (11/3/2026). (Foto: Pemprov DKI Jakarta)

Jakarta, NU Online

PT PAM Jaya menegaskan bahwa gedung-gedung tinggi di Jakarta yang telah terhubung dengan layanan air bersih perpipaan harus berhenti menggunakan air tanah. Langkah ini untuk mencegah penurunan muka tanah yang terus terjadi di sejumlah wilayah Jakarta.


Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan, penggunaan air tanah secara berlebihan dapat menimbulkan dampak lingkungan yang serius, salah satunya penurunan muka tanah.


Menurut Arief, cakupan layanan air bersih perpipaan di Jakarta saat ini telah melampaui 80 persen dan masih akan terus meningkat. Karena itu, ia mendorong agar wilayah yang menerapkan zona bebas air tanah diperluas.


Ia menegaskan gedung-gedung tinggi yang telah mendapatkan pasokan air dari jaringan PAM Jaya seharusnya tidak lagi menggunakan air tanah.


“Gedung tinggi yang sudah tersuplai air perpipaan harus berhenti menggunakan air tanah. Hal ini perlu ditegakkan melalui penegakan aturan,” tegasnya, sebagaimana dikutip NU Online Jakarta.


Arief menjelaskan, eksploitasi air tanah yang tidak terkendali dapat memicu berbagai dampak lingkungan. Selain menyebabkan penurunan muka tanah, kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan kerusakan infrastruktur dan risiko lingkungan lainnya.


Ia mencontohkan sejumlah daerah di Indonesia yang telah mengalami dampak serius akibat penggunaan air tanah secara berlebihan.


“Di beberapa daerah seperti Semarang dan Tegal dampaknya sudah terlihat. Bahkan ada fenomena seperti sinkhole atau penurunan tanah yang terus terjadi di sejumlah wilayah,” katanya.


Menurut Arief, ketersediaan layanan air bersih yang memadai merupakan salah satu syarat penting jika Jakarta ingin mewujudkan diri sebagai kota global.


“Rasanya tidak masuk akal jika Jakarta ingin menjadi kota global tetapi persoalan dasar seperti layanan air bersih perpipaan belum tuntas,” ucapnya.


Baca selengkapnya di sini