Jatim

8 Dosen Unisma Raih LPTNU Award 2026 pada Bidang Agroteknologi hingga Ilmu Alam dan Kehidupan

NU Online  ·  Jumat, 13 Maret 2026 | 10:30 WIB

8 Dosen Unisma Raih LPTNU Award 2026 pada Bidang Agroteknologi hingga Ilmu Alam dan Kehidupan

8 dosen yang meraih anugerah LPTNU 202 bersama Rektor Unisma. (Foto: NOJ/TimesIndonesia.co.id)

Malang, NU Online

Sebanyak delapan dosen Universitas Islam Malang (Unisma) meraih penghargaan dalam ajang Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Award 2026. Para dosen tersebut menerima penghargaan pada berbagai bidang keilmuan, mulai dari agroteknologi hingga ilmu-ilmu alam dan kehidupan.


Penghargaan itu diberikan kepada dosen dalam kategori ilmuwan LPTNU, yakni dosen yang mengajar di perguruan tinggi di bawah naungan Nahdlatul Ulama di seluruh Indonesia.


Pada bidang agroteknologi, Agus Sugianto meraih juara pertama dan Novi Arfarita menempati posisi juara kedua. Di bidang teknik, Eko Noerhayati meraih juara kedua.


Sementara pada bidang ilmu sosial, Hayat berhasil meraih juara pertama. Di bidang ilmu-ilmu alam dan kehidupan, Nour Athiroh Abdoes Sjakoer meraih juara pertama.


Adapun pada bidang pendidikan, Sri Wahyuni meraih juara ketiga. Pada bidang kedokteran dan kesehatan, Yudi Purnomo menempati juara ketiga. Lalu pada bidang fiqih, Shofiatul Jannah meraih juara ketiga.


Rektor Unisma Prof Junaidi mengungkapkan bahwa proses penilaian dalam ajang tersebut dilakukan secara ketat dan objektif oleh tim penilai. Ia menyebut, penilaian didasarkan pada capaian penelitian dosen yang terindeks dalam sistem SINTA, dengan jumlah awal peserta mencapai 545 dosen.


“Apa yang dinilai oleh tim penilai objektif sesuai karya-karya para dosen yang terindeks SINTA. Selain itu, dosen juga harus berkecimpung dalam bidang yang sama selama minimal 20 tahun,” ujarnya, sebagaimana dikutip NU Online Jatim.


Salah satu penerima penghargaan, Agus Sugianto, menyampaikan bahwa dirinya telah menekuni bidang agroteknologi sejak 2000, khususnya dalam penelitian terkait jamur. Ia telah menghasilkan berbagai karya ilmiah yang terindeks di SINTA, mulai dari artikel, jurnal, buku, hingga penelitian lainnya.


“Penilaian ini berbasis data. Saya tidak dimintai apa-apa, bahkan saya tidak tahu kalau nama saya masuk nominasi,” ujarnya.


Baca selengkapnya di sini