Jombang

Cahaya Kemanusiaan di Panggung Dunia: Catatan dari Temu Narasi 400 Tahun Syekh Yusuf al-Makassari

NU Online  ยท  Senin, 21 September 2026 | 12:00 WIB

Cahaya Kemanusiaan di Panggung Dunia: Catatan dari Temu Narasi 400 Tahun Syekh Yusuf al-Makassari

Temu Narasi 400 Tahun Syekh Yusuf al-Makassari di Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Rabu (16/9/2026). (Foto: istimewa)

Semburat matahari menerobos sela-sela ventilasi Hall Majapahit, Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur. Cahayanya jatuh tipis di antara kursi dan meja, menerangi wajah-wajah yang sejak pagi menyimak satu nama: Syekh Yusuf al-Makassari.


Suasana sebenarnya hangat. Namun, ada temaram yang lain, temaram yang lahir dari ketidaktahuan kita sendiri terhadap sosok besar yang pernah berjalan jauh melampaui batas geografis Nusantara.


Siapa sangka, empat abad silam, tepatnya 3 Juli 1626, Tanah Gowa, Sulawesi Selatan, melahirkan seorang ulama, pengelana pengetahuan, dan tokoh yang kelak namanya menyeberangi samudera, Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makassari, yang lebih dikenal sebagai Syekh Yusuf al-Makassari.


Begitu istimewanya sosok tersebut, hingga peringatan 400 tahun Syekh Yusuf al-Makassari mendapat dukungan internasional melalui UNESCO. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kebudayaan dan Direktorat Promosi Kebudayaan, turut merancang penyebaran informasi tentang ketokohan Syekh Yusuf melalui jejaring jurnalis media arus utama.


Pada 16 September 2026, pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, rangkaian kegiatan itu berlangsung di Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur. Jawa Timur menjadi salah satu dari enam kabupaten/kota di Indonesia yang menjadi lokasi kegiatan serupa.


Pagi itu, Hall Majapahit bukan sekadar ruang pertemuan. Ia perlahan berubah menjadi ruang untuk menenun kembali ingatan tentang seorang anak Nusantara yang pernah menjelajah dunia melalui ilmu pengetahuan.


Menjaga Ingatan Seorang Panutan

Dalam sambutan pembukaan, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur menyampaikan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan role model atau panutan ketokohan dalam pembangunan karakter. Ia juga menyampaikan apresiasi karena Jawa Timur dipilih sebagai salah satu lokasi kegiatan Temu Narasi 400 Tahun Syekh Yusuf al-Makassari.


Sambutan berikutnya disampaikan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Sri Sugiharta. Beliau menyambut gembira para jurnalis media arus utama, influencer, dan pegiat budaya yang hadir. Bagi Sri Sugiharta, menjadi tuan rumah kegiatan tersebut merupakan sebuah kehormatan.


Sri Sugiharta juga mengajak peserta melihat perjalanan panjang lembaga kebudayaan itu sendiri. Kantor yang dahulu dikenal sebagai Kantor Suaka Purbakala kemudian bermetamorfosis menjadi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur. Seiring terbitnya Peraturan Menteri Kebudayaan Nomor 2 Tahun 2026, nomenklaturnya kemudian disederhanakan menjadi Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur.


Di tengah sambutan itu, Sri Sugiharta menitipkan sebuah optimisme. Kehadiran dua pemikir muda Nahdlatul Ulama, KH. Ahmad Kholili Kholil dan Dr. Ahmad Ginanjar Sya'ban, M.Hum., dosen UNUSIA Jakarta, diharapkan menjadi perpaduan yang ideal untuk mengelaborasi ketokohan Syekh Yusuf al-Makassari.


Optimisme itu seperti doa yang perlahan menjalar ke seluruh Hall Majapahit.


Dan diskusi pun dimulai.


Menjelajah Dunia demi Pengetahuan

Di tangan moderator Yogi A. Nugroho, suasana diskusi menjadi hidup. Ia membuka koridor Temu Narasi dengan menjelaskan empat tugas utama Direktorat Promosi Kebudayaan.


Pertama, mewujudkan culture centre di berbagai negara sebagai bagian dari soft diplomacy kebudayaan. Kedua, membangun promosi edukasi. Ketiga, mengembangkan promosi melalui platform digital. Keempat, membangun promosi konten kebudayaan melalui media global.


Dari koridor itulah diskusi diharapkan tidak berhenti sebagai percakapan di dalam sebuah ruangan. Ia harus meninggalkan endapan pengetahuan dan nilai, lalu didiseminasikan kepada masyarakat untuk ikut membangun karakter bangsa.


Pemantik pertama, KH. Ahmad Kholili Kholil (dzuriyah KH. Syaikhona Kholil Bangkalan) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, membuka cakrawala pengetahuan tentang Syekh Yusuf al-Makassari.


Ketika dunia mengenal kisah para penjelajah samudera legendaris, yakni mereka yang memetakan bumi, membuka jalur perdagangan, dan menghubungkan berbagai peradaban, kita nyaris hanya tahu nama-nama seperti Ferdinand Magellan, Laksamana Cheng Ho, Christopher Columbus, James Cook, Vasco da Gama, dan Ibnu Battutah.


Namun, Nusantara sesungguhnya juga memiliki seorang pengelana samudera. Namanya Syekh Yusuf al-Makassari. Ia bukan sekadar pengelana geografis. Perjalanannya adalah perjalanan pengetahuan.


Menurut paparan KH. Ahmad Kholili Kholil, rute pengembaraan Syekh Yusuf dimulai dari Gowa atau Makassar, kemudian berlanjut ke Aceh, Surat, Zabid, Makkah, Jeddah, Madinah, Damaskus, Aleppo, Yerusalem, hingga Lahore. Masih mungkin terdapat rute-rute lain yang belum tercatat dalam berbagai manuskrip yang ditemukan.


Ada satu hal yang menyatukan perjalanan panjang itu, yakni ketulusan mencintai pengetahuan. Ia berguru kepada banyak ulama. Di tempat lain, ia mengajarkan pengetahuan kepada murid-murid dan para pengikutnya.


Syekh Yusuf kemudian tidak hanya dikenal sebagai traveller pengetahuan, tetapi juga sebagai tokoh tasawuf. Dalam pandangan yang disampaikan pada forum tersebut, ciri khas tasawuf Syekh Yusuf bertaut dengan prinsip untuk berbuat baik kepada segala sesuatu, bukan hanya kepada sesama manusia. Sebab, segala yang terbentang di muka bumi merupakan bagian dari kehendak Allah SWT.


Jejak yang Sampai ke Mojokerto

Menariknya, jejak Syekh Yusuf ternyata bersinggungan pula dengan wilayah Jawa Timur. Pada akhir paparannya, KH. Ahmad Kholili Kholil menyebut adanya jejak tidak langsung Syekh Yusuf di Mojokerto.


Dalam salah satu manuskrip yang ditemukan, disebutkan bahwa seorang ulama Karanggayam, Mojokerto, merupakan pengikut Tarekat Syattariyah yang memiliki sanad kepada Syekh Yusuf al-Makassari.


Untuk sesaat, Hall Majapahit seperti berubah menjadi mesin penenun kata. Tidak banyak suara terdengar. Tetapi jemari para jurnalis bergerak cepat. Kata demi kata dicatat. Sebuah kisah lama sedang menemukan kembali ruang kesaksiannya.


Dari Nusantara ke Panggung Dunia

Pemantik kedua, Dr. Ahmad Ginanjar Sya'ban, M.Hum., dari UNUSIA Jakarta, kemudian membawa diskusi menuju pertanyaan yang lebih luas:


Mengapa Syekh Yusuf al-Makassari layak diperingati secara internasional?


Menurut Ahmad Ginanjar, salah satu hal yang membuat Syekh Yusuf menarik perhatian dunia adalah sifatnya yang kosmopolit. Pengaruh pemikiran dan perjuangannya menyebar ke berbagai tempat di dunia.


Dalam paparannya, ia juga mengangkat pengakuan Nelson Mandela terhadap Syekh Yusuf sebagai salah satu sumber inspirasi perjuangan kemanusiaannya.


Dalam kesempatan menerima anugerah Doktor Honoris Causa di Universitas Hasanuddin, Makassar, Nelson Mandela disebut menyampaikan tiga alasan mengapa Syekh Yusuf menjadi inspirasinya.


Pertama, Syekh Yusuf tidak hanya berjuang untuk keluarganya sendiri, tetapi juga memperjuangkan keluarga bangsa lain.


Kedua, perjuangannya tidak berhenti pada kepentingan bangsanya sendiri, melainkan juga menyentuh bangsa lain.


Ketiga, perjuangan Syekh Yusuf masih dapat dirasakan hingga kini, meskipun sang tokoh telah lama meninggalkan dunia.


Dari sinilah Syekh Yusuf dapat dibaca bukan semata-mata sebagai tokoh masa lalu. Ia menjadi bagian dari percakapan tentang kemanusiaan yang melampaui batas bangsa, agama, dan geografis.


Barangkali karena itulah, dalam forum tersebut, Syekh Yusuf al-Makassari disebut sebagai โ€œCahaya Kemanusiaan yang Bersinar di Panggung Duniaโ€ melalui transmisi pengetahuan.


Empatย Wajah Syekh Yusuf

Dari paparan Ahmad Ginanjar, setidaknya terdapat sejumlah karakter yang melekat pada sosok Syekh Yusuf.


Pertama, pengelana pengetahuan.


Jejak karya Syekh Yusuf tersebar di berbagai perpustakaan dunia, mulai dari Iran, Mesir, Arab, Damaskus, Belanda, Jerman, Italia, hingga Amerika. Persebaran itu menjadi penanda luasnya ruang perjalanan intelektualnya.


Kedua, ulama.


Sebagai ulama, Syekh Yusuf menjadikan tasawuf dan tarekat sebagai jalan pengabdian di berbagai tempat yang ia singgahi.


Ketiga, aristokrat.


Setelah melakukan pengembaraan ke berbagai wilayah, Syekh Yusuf kembali ke Banten dan kemudian dinikahkan dengan salah seorang putri Kesultanan Banten. Ia juga dipercaya sebagai penerjemah dan penulis surat-menyurat antara Kesultanan Banten dan kesultanan-kesultanan mancanegara. Jejak korespondensi tersebut, sebagaimana disampaikan dalam diskusi, hingga kini belum diketahui keberadaannya.


Keempat, penulis.


Dalam rentang pengembaraannya hingga berada di lingkungan Kesultanan Banten, Syekh Yusuf disebut telah menghasilkan 32 kitab.


Keempat wajah itu memperlihatkan satu hal: perjalanan Syekh Yusuf tidak berhenti pada perpindahan tempat. Ia membawa pengetahuan, menyerap pengetahuan, lalu meninggalkan pengetahuan.


Menjaga Cahaya

Diskusi terus mengalir. Di antara catatan, pertanyaan, dan percakapan, muncul satu kesadaran: peringatan 400 tahun Syekh Yusuf bukan hanya tentang mengenang seseorang yang telah hidup empat abad lalu. Diskusi ini adalah kesempatan untuk membaca kembali nilai yang ditinggalkan seorang anak Nusantara kepada dunia.


Forum Temu Narasi kemudian melahirkan tiga tawaran yang dapat dikembangkan bersama oleh jurnalis media arus utama, influencer, dan pegiat budaya.


Pertama, menjaga sifat kosmopolit Syekh Yusuf di panggung dunia melalui kajian-kajian internasional tentang pemikirannya.


Kedua, menjadikan Syekh Yusuf al-Makassari sebagai ikon culture centre, baik pada tingkat lokal, regional, nasional, maupun internasional.


Ketiga, melakukan pelacakan dan penerbitan karya-karya Syekh Yusuf agar dapat menjadi rujukan dalam pembangunan mental dan karakter generasi masa kini.


Senja mulai meremang ketika kegiatan berakhir.


Angin berembus lirih di pelataran bekas Suaka Purbakala. Cahaya matahari perlahan surut, tetapi percakapan tentang Syekh Yusuf belum benar-benar selesai.


Mewariskan butiran kidung cinta buat Penjaga Cahaya Kemanusiaan Panggung Dunia.


Membiarkan Cahaya bekerjaโ€ฆโ€ฆ

 

Jombang, 17 September 2026

 


Ditulis oleh Inswiardi, Budayawan Jombangย