Ciri-Ciri Penyakit Campak pada Anak yang Kerap Diabaikan Orang Tua
NU Online · Sabtu, 14 Maret 2026 | 23:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Kementerian Kesehatan mencatat angka penyakit campak dari Januari hingga awal Maret 2026 sebanyak 10.543 kasus, dengan 8.372 kasus campak terkomfirmasi dan 4 orang meninggal dunia. Meningkatnya kembali kasus campak pada anak menjadi peringatan serius bagi masyarakat. Penyakit yang sering dianggap sebagai penyakit biasa ini sebenarnya dapat menimbulkan komplikasi berbahaya jika tidak dikenali sejak dini.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Penyakit Tropis dan Infeksi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sarjito Yogyakarta, dr. Ida Safitri Laksanawati menjelaskan bahwa campak atau measles memiliki sejumlah gejala khas yang muncul secara bertahap.
“Penyakit ini umumnya diawali dengan fase awal yang disebut stadium prodromal. Ciri-ciri awal ini perlu dipahami orang tua agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat,” ujarnya dalam Talkshow bertema Kasus Campak Naik Jelang Mudik, Haruskah Kita Panik? pada Jumat (13/3/2026).
Ia mengatakan bahwa pada fase ini anak biasanya mengalami demam tinggi hingga mencapai sekitar 40,5 derajat Celsius. Selain demam, muncul pula gejala yang dikenal dengan istilah 3C, yakni coryza atau pilek, conjunctivitis atau radang pada mata, dan cough atau batuk.
“Pada stadium prodromal biasanya berlangsung sekitar tiga sampai lima hari, anak akan mengalami demam tinggi disertai pilek, mata merah, dan batuk. Gejala ini sering dianggap sebagai infeksi biasa sehingga banyak orang tua tidak menyadari bahwa itu merupakan ciri-ciri awal penyakit campak,” tuturnya.
Selain gejala tersebut, terdapat tanda khas yang dikenal sebagai Koplik’s spots, yaitu bintik-bintik kecil pada mukosa pipi bagian dalam. Tanda ini biasanya muncul selama 12 hingga 72 jam pada fase awal penyakit.
“Bintik Koplik ini merupakan tanda yang sangat khas pada campak. Namun sering tidak terdeteksi karena kemunculannya singkat dan biasanya hilang ketika ruam kulit sudah muncul,” jelas dr. Ida.
Setelah fase awal, ia menyampaikan bahwa penyakit akan memasuki stadium erupsi yang ditandai dengan munculnya ruam kulit khas. Ruam tersebut berupa bercak kemerahan atau makulo-papular yang dapat menyatu dan menyebar ke seluruh tubuh.
dr. Ida menjelaskan bahwa ruam biasanya bermula dari area belakang telinga atau dahi, kemudian menyebar ke leher, badan, hingga ke lengan dan tungkai dalam waktu sekitar tiga hari.
“Ruam campak biasanya dimulai dari wajah, terutama di belakang telinga, kemudian menyebar ke seluruh tubuh secara bertahap dari kepala ke kaki. Ruam tersebut umumnya bertahan selama beberapa hari sebelum akhirnya memudar,” ujarnya.
dr. Ida menambahkan, pada fase pemulihan atau stadium konvalesen, ruam akan menghilang dan berubah menjadi bercak hiperpigmentasi atau pengelupasan kulit ringan.
Menurutnya, hingga saat ini belum terdapat terapi antivirus khusus untuk campak. Penanganan yang dilakukan bersifat suportif, yakni meredakan gejala serta mencegah komplikasi, termasuk infeksi bakteri.
“Karena tidak ada obat khusus untuk campak, pencegahan dan deteksi dini menjadi sangat penting agar komplikasi bisa dihindari. Maka kita sebagai orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan kepada anak kita terutama di momen lebaran Idul Fitri,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Hikmah Zakat Fitrah, Menyucikan Jiwa dan Menyempurnakan Ibadah
2
Kapan Lebaran 2026? Berikut Data Hilal 1 Syawal 1447 H oleh LF PBNU
3
Khutbah Jumat: Urgensi I’tikaf di Masjid 10 Malam Terakhir Ramadhan
4
Khutbah Jumat: Puasa, Al-Qur’an, dan 5 Ciri Orang Bertakwa
5
KPK Resmi Tahan Gus Yaqut atas Tuduhan Korupsi Kuota Haji
6
Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Hadiri Siniar
Terkini
Lihat Semua