Khutbah

Khutbah Jumat: Hemat di Era Digital, Teladan Kesederhanaan Rasulullah

NU Online  ·  Kamis, 2 Juli 2026 | 16:00 WIB

Khutbah Jumat: Hemat di Era Digital, Teladan Kesederhanaan Rasulullah

Khutbah Jumat tentang menghemat di era digital (NUO)

Hidup di era digital memberikan kemudahan kepada kita untuk membeli apa saja yang kita inginkan. Namun di balik itu, ini adalah ujian agar kita tidak terjebak dalam hidup konsumtif atau boros dan lebih mengutamakan keinginan daripada kebutuhan. Mari kita belajar hidup hemat di era serba mudah ini dengan meneladani kesederhanaan Rasulullah agar rezeki yang Allah titipkan menjadi berkah.
 

Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul “Khutbah Jumat: Hemat di Era Digital, Teladan Kesederhanaan Rasulullah”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
 


Khutbah I
 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن
 

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا ۝٢٦ اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا ۝٢٧
 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua untuk senantiasa bertakwa. Di antaranya dengan bersyukur atas nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Sikap ini akan membimbing sekaligus menjadi bekal bagi kita dalam menjalani kehidupan yang semakin penuh dengan dinamika. Di era kehidupan modern yang serba digital ini, iman dan takwa akan menjadi rambu-rambu perjalanan sehingga kita tidak berbelok dan terbawa pada kondisi yang akan menyulitkan kehidupan kita dan jauh dari nilai-nilai yang telah digariskan oleh Allah swt.
 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah
Di era modern saat ini, berbagai fasilitas dan kemudahan bisa kita rasakan melalui adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua bisa kita akses dan dapatkan dengan cepat di antaranya kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup kita.
 

Hari ini, hampir semua kebutuhan dapat kita beli hanya melalui telepon genggam di tangan kita. Berbagai aplikasi belanja menawarkan kemudahan sekaligus diskon, promo, gratis ongkos kirim, hingga kemudahan pembayaran melalui cicilan melalui berbagai macam cara. Semua terasa begitu mudah. Namun muncul pertanyaan, apakah semua kemudahan itu benar-benar membawa manfaat? Ataukah justru tanpa kita sadari telah mendorong kita menjadi pribadi yang semakin konsumtif?
 

Fakta yang terjadi saat ini, banyak di antara kita yang membeli barang bukan karena membutuhkannya, tetapi karena tergoda potongan harga. Ada yang membeli karena takut kehabisan promo. Ada pula yang membeli karena melihat orang lain memiliki barang tersebut. Bahkan tidak sedikit yang rela berutang demi memenuhi gengsi dan gaya hidup.
 

Padahal, hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, kondisi ekonomi saat ini tidak selalu mudah. Harga kebutuhan pokok terus mengalami perubahan, biaya hidup semakin tinggi, kebutuhan keluarga semakin banyak, sementara penghasilan belum tentu ikut meningkat.
 

Dalam kondisi seperti ini, Islam mengajarkan kepada kita agar menjadi pribadi yang pandai mengelola rezeki. Allah berfirman dalam surat Al-Isra ayat 26–27:


وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا ۝٢٦ اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا ۝٢٧
 

Artinya: "Dan janganlah engkau menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan."
 

Dalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa Al-Isra ayat 26-27 ini melarang perilaku boros dalam mengelola harta. Pemborosan diartikan sebagai membelanjakan harta untuk hal-hal yang tidak perlu dan tidak bermanfaat. Perilaku ini disamakan dengan sifat setan yang selalu ingkar kepada Tuhannya.
 

Karena itu, orang yang boros dianggap sebagai "saudara setan" karena memiliki sifat yang sama, yaitu tidak bijaksana dalam menggunakan harta dan jauh dari ketaatan kepada Allah.
 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah
Salah satu penyebab seseorang terjebak dalam gaya hidup boros dan konsumtif adalah karena tidak mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang memang harus dipenuhi agar kehidupan berjalan dengan baik, seperti makanan, pakaian yang layak, tempat tinggal, pendidikan anak, kesehatan, dan kebutuhan keluarga lainnya.
 

Sedangkan keinginan sering kali muncul karena dorongan hawa nafsu. Contoh nyata seperti selalu ingin ganti mobil, motor, HP, dan sejenisnya hanya karena keluar model terbaru atau membeli barang yang sebenarnya tidak pernah direncanakan hanya karena sedang ada diskon. Oleh karena sebelum membeli sesuatu, biasakan bertanya kepada diri sendiri, "Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau saya hanya menginginkannya? Ataukah saya hanya ikut-ikut tren dan iri karena orang lain memilikinya?"
 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah
Rasulullah telah mengajarkan kepada kita agar dalam urusan dunia termasuk harta, kita melihat kepada orang yang berada di bawah kita agar tumbuh rasa syukur. Sedangkan dalam urusan ibadah, kita harus melihat kepada orang yang lebih baik agar termotivasi memperbaiki diri. Beliau bersabda:
 

اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
 

Artinya: “Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
 

Rasulullah telah memberi contoh nyata dalam kesederhanaan hidup. Di antaranya tergambar dalam hadits-hadits beliau seperti kerelaan beliau menambal gelas minum yang telah pecah. Hal ini tergambar dalam hadits dari Anas bin Malik:
 

أنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ اِنْكَسَرَ، فَاتَّخَذَ مَكَانَ الشَّعْبِ سِلْسِلَةً مِنْ فِضَّةٍ
 

Artinya: “Gelas Nabi saw pecah. Kemudian beliau menambal bagian pangkal gagangnya dengan perak” (HR Al-Bukhari).
 

Rasulullah juga memiliki tempat tidur yang sangat sederhana, terbuat dari kulit yang diisi oleh sabut atau dedaunan. Hal ini tergambar pada hadits dari Aisyah:
 

كَانَ فِرَاشُ رَسُولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم مِنْ أَدَمٍ، وَحَشْوُهُ مِنْ لِيفٍ
 

Artinya: “Tempat tidur Rasulullah saw dari kulit yang diisi dengan sabut.” (HR Al-Bukhari Muslim).
 

Itulah contoh kesederhanaan Rasulullah yang perlu kita tiru, khususnya di era modern saat ini di mana berbagai macam barang baru, bisa menjadikan kita konsumtif karena selalu ingin membelinya. Jangan sampai kehidupan ekonomi kita berantakan karena hanya mementingkan keinginan sehingga senada dengan pepatah “Besar Pasak dari pada Tiang” alias kita rugi karena pengeluaran lebih besar dari pendapatan.
 

Karena itu, hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, mari kita mulai membiasakan hidup hemat. Susun anggaran keuangan dengan baik dan bijaksana. Bedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Kurangi membuka aplikasi belanja online jika tidak ada kebutuhan mendesak. Biasakan menabung dari penghasilan yang kita dapatkan. Jangan lupa perbanyak sedekah, karena harta yang kita infakkan di jalan Allah itulah yang sesungguhnya menjadi bekal kehidupan akhirat.
 

Jangan kita malu hidup sederhana. Jangan gengsi hidup sesuai kemampuan. Kita justru harus malu ketika memaksakan gaya hidup hingga terjerat utang hanya demi penilaian manusia. Sesungguhnya kekayaan yang sejati bukanlah banyaknya harta, tetapi hati yang merasa cukup atau qana'ah.
 

Mari kita jadikan kemajuan teknologi sebagai sarana mempermudah kehidupan, bukan sebagai jalan menuju pemborosan. Jadikan setiap rupiah yang Allah titipkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Syukuri apa yang telah Allah berikan dan jadikan kesederhanaan Rasulullah sebagai teladan dalam menjalani kehidupan.
 

Semoga Allah swt menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, bijaksana dalam mengelola rezeki, dijauhkan dari sifat boros dan berlebih-lebihan, serta dianugerahi kehidupan yang penuh keberkahan di dunia dan keselamatan di akhirat. Amin.
 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
 


Khutbah II
 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ .اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


 

Ustadz H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung.