Khutbah

Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah

NU Online  ·  Kamis, 11 Juni 2026 | 17:10 WIB

Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah

Ilustrasi doa istikharah. Sumber: NU Online.

Di tengah banyaknya pilihan dan pertimbangan hidup, tidak sedikit orang yang hanya mengandalkan logika dan perhitungan pribadi. Padahal manusia memiliki pengetahuan yang terbatas, sedangkan Allah Maha Mengetahui segala yang terbaik. Karena itu, sholat istikharah menjadi ikhtiar penting untuk memohon petunjuk-Nya sebelum mengambil keputusan.

Naskah khutbah Jumat berikut ini berjudul “Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah.” Untuk mengunduh naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon download berwarna hijau di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

Khutbah I

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ، وَصَحَابَتِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَايَحْتَسِبُ. وَقَالَ أَيْضًا: اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Sudah sepatutnya kita mensyukuri segala anugerah Allah yang telah diberikan kepada kita, khususnya anugerah iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan. Shalawat serta salam semoga senantiasa kita haturkan kepada Nabi Muhammad, suri teladan terbaik bagi umat manusia, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau hingga akhir zaman.

 

Selanjutnya, khatib mengajak diri khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Kita harus memiliki tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik, baik secara personal maupun sosial. Semua itu tentu hanya dapat terwujud dengan pertolongan Allah.

 

Dengan kata lain, kita perlu menyadari bahwa kita hanyalah makhluk yang lemah. Karena itu, sudah sepatutnya kita selalu meminta petunjuk, memohon pertolongan, dan menggantungkan seluruh kehidupan kita kepada Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Apabila kita merenung sejenak, kehidupan kita pada umumnya dipenuhi oleh berbagai pilihan. Ada pilihan yang tampak sederhana, tetapi ada pula pilihan yang dapat menentukan arah kehidupan kita selama bertahun-tahun. Kita memilih sekolah, pekerjaan, pasangan hidup, tempat tinggal, bahkan memilih jalan yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu.

 

Sebagian keputusan mungkin dapat diubah dengan mudah. Namun, sebagian keputusan lainnya dapat meninggalkan dampak yang panjang dan tidak mudah diperbaiki ketika ternyata pilihan itu keliru. Bahkan, tidak jarang sebuah keputusan memiliki konsekuensi yang serius dan berat dalam kehidupan seseorang.

 

Dalam praktiknya, sering kali pilihan-pilihan yang kita ambil lebih banyak didasarkan pada pendapat manusia. Bahkan mungkin sebagian dari kita terlalu mengandalkan pertimbangan manusia, sehingga kurang serius dalam mencari petunjuk Allah. Kita rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdiskusi dengan teman, keluarga, atau rekan kerja sebelum mengambil keputusan.

 

Kita membaca berbagai sumber, membandingkan banyak pilihan, dan meminta pertimbangan dari banyak orang. Pada dasarnya, semua itu baik dan memang diperlukan. Tidak ada yang salah dengan sikap seperti itu. Namun, yang sering menjadi masalah adalah ketika kita lupa melibatkan Allah dalam proses pengambilan keputusan tersebut.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Kita semua meyakini bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui. Tidak ada yang lebih mengetahui masa depan selain Allah. Tidak ada yang lebih memahami apa yang benar-benar membawa kebaikan bagi hidup kita selain Allah. Kita hanya mengetahui apa yang tampak di depan mata, sedangkan Allah mengetahui apa yang tersembunyi di balik setiap pilihan.

 

Karena itu, Allah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat indah:

 

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا

 

Artinya, “Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.’” (QS. Al-Isra’: 80).

 

Ayat ini mengajarkan satu prinsip penting dalam kehidupan seorang mukmin, yaitu memohon bimbingan Allah ketika akan memasuki suatu urusan dan ketika akan keluar dari suatu urusan. Seorang mukmin sejati meyakini bahwa dirinya tidak berjalan sendirian. Karena itu, sebelum melangkah, ia memohon agar Allah menunjukkan jalan yang benar dan membimbingnya kepada pilihan yang terbaik.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Rasulullah tidak hanya mengajarkan prinsip tersebut, tetapi juga mengajarkan sarana praktis untuk memohon petunjuk kepada Allah, yaitu shalat istikharah. Dalam riwayat Jabir bin Abdullah sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, disebutkan:

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ

 

Artinya, “Rasulullah mengajarkan kepada kami shalat istikharah dalam seluruh urusan, sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami satu surah dari Al-Qur’an.” (HR. Al-Bukhari).

 

Mari kita perhatikan redaksi hadits ini. Sayyiduna Jabir tidak mengatakan bahwa Nabi mengajarkan shalat istikharah dalam sebagian urusan, tetapi “dalam seluruh urusan”. Praktik ini menunjukkan betapa pentingnya istikharah, yaitu meminta petunjuk kepada Allah, dalam kehidupan seorang muslim.

 

Sayangnya, pada zaman sekarang, istikharah sering kali hanya dikaitkan dengan urusan memilih jodoh. Padahal para sahabat diajarkan untuk beristikharah dalam berbagai keputusan hidup mereka. Karena itu, ketika kita semakin sering berhadapan dengan pilihan-pilihan penting yang membutuhkan pertimbangan, sudah sepatutnya kita melakukan istikharah, agar keputusan yang kita ambil benar-benar berada dalam bimbingan Allah.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, juz 8, halaman 524, menjelaskan:

 

وَأَنَّ مَنْ وَكَّلَ أَمْرَهُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَسَّرَ اللَّهُ لَهُ مَا هُوَ الْأَحَظُّ لَهُ وَالْأَنْفَعُ دُنْيَا وَأُخْرَى

 

Artinya, “Sesungguhnya orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah, maka Allah akan memudahkan baginya sesuatu yang paling membawa kebaikan dan paling bermanfaat, baik di dunia maupun di akhirat.”

 

Maka dari itu, marilah kita mencoba merefleksikan kehidupan kita masing-masing. Berapa banyak keputusan penting yang telah kita ambil tanpa istikharah? Berapa banyak langkah yang kita tempuh hanya berdasarkan perhitungan manusia?

 

Mungkin ada seseorang yang menerima sebuah pekerjaan karena gajinya besar, tetapi ternyata pekerjaan itu menjauhkannya dari keluarga dan ibadah. Mungkin ada yang menolak suatu kesempatan karena terlihat berat, padahal di balik kesempatan itu Allah telah menyiapkan banyak kebaikan.

 

Mungkin juga ada yang tergesa-gesa memilih pasangan hidup karena dorongan perasaan yang sudah terlanjur mendalam, lalu menyesal ketika menghadapi realitas rumah tangga yang tidak sesuai dengan harapan. Dampak dari semua ini bukan hanya sementara, tetapi bisa berlangsung sepanjang hidup.

 

Sering kali kita menilai sesuatu hanya berdasarkan apa yang tampak hari ini. Kita melihat keuntungan, tetapi tidak melihat risikonya. Kita melihat kemudahan, tetapi tidak melihat ujian yang mungkin menyertainya. Kita melihat kesulitan, tetapi tidak melihat keberkahan yang Allah simpan di baliknya.

 

Di sinilah istikharah mengajarkan kerendahan hati. Ketika seseorang melakukan istikharah, seolah-olah ia berkata kepada Allah, “Ya Allah, aku memiliki keinginan, aku memiliki pertimbangan, tetapi ilmu-Mu jauh lebih luas daripada ilmuku. Jika pilihan ini baik bagiku, mudahkanlah. Jika pilihan ini buruk bagiku, jauhkanlah.”

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Betapa banyak kegelisahan yang sebenarnya lahir karena kita terlalu percaya kepada kemampuan diri sendiri atau terlalu bergantung kepada pertimbangan orang lain. Kita ingin memastikan masa depan dengan perhitungan manusia yang sangat terbatas.

 

Padahal, ketenangan sejati tidak selalu lahir dari kemampuan mengetahui masa depan atau dari pertimbangan logis semata. Ketenangan sejati lahir dari keyakinan bahwa Allah sedang membimbing langkah kita. Sebab kita yakin, bimbingan Allah pasti merupakan yang terbaik bagi hamba-Nya.

 

Karena itu, marilah kita menghidupkan kembali kebiasaan shalat istikharah dalam berbagai aspek kehidupan. Kita tidak perlu menunggu sampai menghadapi keputusan yang sangat besar. Biasakanlah melibatkan Allah dalam menentukan pilihan-pilihan hidup kita.

 

Marilah kita menjadikan istikharah sebagai tanda bahwa kita adalah hamba yang sadar akan keterbatasan diri, dan percaya sepenuhnya kepada kebijaksanaan Rabb-nya.

 

Semoga Allah membimbing setiap langkah yang kita ambil, memberkahi setiap keputusan yang kita pilih, menjauhkan kita dari pilihan yang membawa penyesalan, dan menuntun kita menuju kebaikan yang tidak hanya bermanfaat di dunia, tetapi juga menjadi sebab keselamatan kita di akhirat.

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

إِنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيمًا: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِينَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِينَ. اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ التَّوْفِيقَ وَالسَّدَادَ فِي جَمِيعِ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَخِيرُونَكَ فِي أُمُورِهِمْ، وَيَرْضَوْنَ بِقَضَائِكَ وَقَدَرِكَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat.