Nasional

54,5 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG: Potensi Hujan di Bawah Normal

NU Online  ยท  Jumat, 31 Juli 2026 | 09:00 WIB

54,5 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG: Potensi Hujan di Bawah Normal

Peta Indonesia yang telah memasuki musim kemarau (NU Online)

Jakarta, NU Online

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan hingga Juli 2026, sebanyak 509 zona musim (ZOM) atau 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, terutama di selatan khatulistiwa. Kondisi ini disertai kecenderungan curah hujan yang berada di bawah normal.

 

โ€œJadi pola kemarau tidak sama di Indonesia, dampak dari El Nino juga tidak seragam di Indonesia karena negara kita ini besar sekali,โ€ ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam Konferensi Pers di Jakarta, Kamis (30/7/2026).


โ€œKondisi monitoring musim kemarau yang sekarang ini sudah terjadi. Jadi sudah 509 zona musim atau 54,5 persen dari luasan wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau,โ€ sambungnya.

 

Ardhasena menjabarkan bahwa wilayah yang telah memasuki musim kemarau mencakup sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Sementara wilayah yang masih mengalami musim hujan tersisa sekitar 77 zona musim.

 

โ€œSementara wilayah yang tipe satu musim ada 113 ZOM yang di sana tidak memiliki musim kemarau,โ€ katanya.

 

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Sebanyak 48,84 persen wilayah diprediksi mencapai puncak kemarau pada Agustus dan 25,41 persen pada September.

 

โ€œSebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang dibawah normal atau lebih kering dan juga mengalami durasi yang lebih panjang dari normalnya. Sebanyak 437 ZOM atau 48,77 persen luas wilayah Indonesia akan mengalami durasi musim kemarau lebih panjang dari normalnya,โ€ kata Ardhasena.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi curah hujan pada Juni dan Juli menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Setelah Mei tercatat sebagai salah satu bulan terbasah dengan peringkat ketiga tertinggi, Juni justru masuk kategori bulan terkering.

 

"Pada dasarnya terakhir bulan Juli tahun 2026 yang baru saja kita lalui ini terlihat memang bahwa hujan sudah retreat. Baik dari segi curah hujan mayoritas dominan di wilayah Indonesia bagian selatan sifat hujan yang terjadi sudah jauh di bawah normal," ujarnya.

 

Ardhasena menjabarkan bahwa hasil pemantauan hari tanpa hujan mencapai 70 titik di Jawa bagian selatan hingga timur, Bali, NTB, dan NTT mengalami lebih dari 80 hari tanpa hujan.

 

โ€œJawa bagian barat dan Sulawesi bagian utara dan selatan, kategorinya sangat panjang antara satu hingga dua bulan tidak hujan sebanyak 943 titik, yang sebagian Sumatra, Kalimantan, Maluku itu ada 1.366 titik itu antara 21 hingga 30 hari itu tidak hujan,โ€ tuturnya.