Banda Aceh, NU Online
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra mencapai 1.201 orang hingga Ahad (25/1/2026). Data tersebut dihimpun berdasarkan laporan resmi dan Geoportal BNPB yang diperbarui secara berkala.
Rincian korban meninggal dunia tersebar di tiga provinsi utama, yakni Aceh sebanyak 562 orang, Sumatra Utara 375 orang, dan Sumatra Barat 265 orang. BNPB menyebutkan bahwa daerah dengan jumlah korban tertinggi adalah Aceh Utara sebanyak 246 orang, Kabupaten Agam 194 orang, dan Tapanuli Tengah 130 orang.
Selain korban meninggal, BNPB juga melaporkan 142 orang masih dinyatakan hilang. Proses pencarian dan evakuasi masih terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, relawan, serta unsur pemerintah daerah.
Jumlah warga terdampak yang harus mengungsi tercatat mencapai 113.900 orang. Tiga wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak yakni Aceh Utara sebanyak 33.300 orang, Gayo Lues 18.900 orang, dan Pidie Jaya 14.800 orang. Para pengungsi saat ini tersebar di posko darurat, meunasah, masjid, serta fasilitas umum lainnya.
Dari sisi kerusakan infrastruktur, BNPB mencatat total 170.050 unit bangunan terdampak, dengan rincian 53.412 unit rusak berat, 45.082 unit rusak sedang, dan 76.553 unit rusak ringan. Selain itu, terdapat 215 unit fasilitas kesehatan, 4.456 unit fasilitas pendidikan, serta 803 rumah ibadah yang mengalami kerusakan.
Tidak hanya bangunan, bencana ini juga berdampak pada infrastruktur transportasi dan konektivitas. BNPB mencatat 810 jembatan dan 2.164 ruas jalan terdampak, sehingga menghambat distribusi logistik dan akses evakuasi di sejumlah wilayah terdampak parah.
Menanggapi kondisi tersebut, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan dan kepedulian sosial terhadap para korban bencana.
Ketua PWNU Aceh Tgk H Faisal Ali menyampaikan bahwa bencana yang terjadi merupakan ujian kemanusiaan yang membutuhkan kebersamaan dan empati dari seluruh lapisan masyarakat.
“PWNU Aceh mengajak warga Nahdliyin dan masyarakat luas untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan, membantu para korban sesuai kemampuan masing-masing, serta mendoakan keselamatan dan ketabahan bagi saudara-saudara kita yang terdampak,” ujar Tgk Faisal Ali pada Ahad (25/1/2026).
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat sipil dalam penanganan bencana, baik pada tahap tanggap darurat maupun pemulihan jangka panjang. Menurutnya, upaya penanganan bencana harus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat dapat segera bangkit dan menjalani kehidupan secara normal.
Sebelumnya, pada Kamis (22/1/2026), BNPB melaporkan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 1.200 orang dengan 143 orang dinyatakan hilang. Seiring proses evakuasi dan pendataan di lapangan, angka tersebut mengalami perubahan dan masih berpotensi dinamis.
