Jakarta, NU Online
Aktivis lingkungan asal Jepara Daniel Frits Maurits Tangkilisan menyoroti bencana ekologis dan praktik represi terhadap warga dalam Aksi Kamisan Ke-894 di depan Istana Merdeka, Gambir, Jakarta Pusat, pada Kamis (22/1/2026).
Dalam orasinya, Daniel menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan negara yang dinilai merusak lingkungan sekaligus membungkam suara warga.
Daniel mengawali orasinya dengan menggambarkan Jepara, tanah kelahiran ayahnya, yang kerap dipromosikan dengan berbagai label prestisius. Mulai dari Cagar Biosfer, Taman Nasional Karimunjawa, Tahura Gunung Muria, hingga keberadaan PLTU terhijau di Indonesia. Namun, menurutnya, berbagai label tersebut justru menutupi praktik perampasan ruang hidup masyarakat.
“Jepara, tanah bapak saya. Katanya ruangnya megah, Cagar Biosfer, Taman Nasional Karimunjawa, Tahura Gunung Muria, PLTU terhijau se-Indonesia. Untuk siapa semua itu?" ujar Daniel melontarkan pertanyaan retoris.
Ia menegaskan bahwa kondisi Jepara bukanlah persoalan lokal semata, melainkan cermin dari situasi Indonesia hari ini. Ketika petani kehilangan tanah, nelayan disingkirkan dari ruang hidupnya, air mengering, dan tanah rusak, maka perlawanan warga, menurutnya, hanya tinggal menunggu waktu.
“Apa yang saya ceritakan dari gunung, laut, pesisir dari Jepara hingga Karimunjawa bukan cerita lokal. Ini cermin keadaan Indonesia hari ini,” tegasnya.
Daniel juga mengingatkan bahwa berbagai bencana yang terjadi di Indonesia tidak bisa semata-mata disebut sebagai bencana alam. Ia menilai, bencana tersebut merupakan bencana ekologis yang lahir dari kebijakan dan praktik eksploitasi sumber daya alam.
“Jangan salah kira. Bencana bukan hanya di Papua dengan nikel, bukan cuma sawit di Sumatra atau Kalimantan. Bencana yang kita alami bukan bencana alam, tapi bencana ekologis yang diciptakan oleh sebagian dari kita sendiri,” katanya.
Ia kemudian menyoroti maraknya aktivitas pertambangan andesit di Jepara. Menurut Daniel, tambang-tambang tersebut telah memicu banjir dan longsor, bahkan di wilayah pegunungan dengan ketinggian antara 800 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut.
“Tambang ada di mana-mana. Bukan nikel atau emas, tapi andesit—bahan bangunan gedung-gedung ini,” tambahnya.
Daniel juga mengaitkan hujan ekstrem dan rangkaian bencana yang melanda sejumlah provinsi dengan aktivitas pertambangan dan krisis iklim.
Ia mempertanyakan sikap negara yang hingga kini belum menetapkan status bencana nasional, meskipun dampaknya telah dirasakan secara luas.
“Mau tunggu sampai gedung-gedung elite tergenang? Ini bukan hanya soal alam. Ini soal represi,” ujarnya.
Dalam orasinya, Daniel turut menyampaikan kesaksian warga dari wilayah gunung, pesisir, dan laut. Ia menggambarkan bagaimana hutan dikeruk, mata air rusak, kampung nelayan menyusut, laut dipagari, serta pulau-pulau dijaga ketat demi kepentingan industri dan pariwisata eksklusif.
“Pariwisata, katanya, bikin ekonomi tumbuh. Omong kosong. Nelayan dipaksa melaut lebih jauh, lebih dalam, dan lebih berbahaya, sementara di darat buruh diperas tenaganya oleh upah murah dan jeratan utang,” katanya.
Tak hanya soal lingkungan, Daniel juga menyoroti praktik kriminalisasi dan represi terhadap warga yang berani bersuara. Ia menyebut puluhan orang ditangkap di berbagai kota kecil pada Agustus lalu, termasuk anak-anak, dengan sebagian di antaranya masih ditahan hingga kini.
“Berita mereka disenyapkan. Keluarga diintimidasi. Aparat berubah menjadi pabrik ketakutan, terutama di daerah,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa pendampingan hukum kerap menemui jalan buntu. Banyak keluarga korban menolak pendampingan karena diliputi rasa takut, sementara persidangan digelar secara tertutup dan pengamat diabaikan.
“Angka-angka yang kalian lihat di media sosial bukan sekadar statistik. Mereka manusia. Dipenjara bukan karena kejahatan, tapi karena bersuara,” tegas Daniel.
Menutup orasinya, Daniel membacakan puisi karya seorang kawan yang memilih untuk tidak disebutkan namanya. Puisi tersebut menjadi seruan agar masyarakat tidak takut dan terus saling menguatkan dalam melawan ketidakadilan. Berikut petikan puisinya:
Jangan takut, Bu, Pak.
Matahari pasti terbit, bulan pasti menjelang.
Ada batuk paru-paru, demam, encok.
Gubernur sarapan tambang,
Anak-anak menelan racun.
Jangan takut.
Ketakutan hanyalah impian mereka.
Di antara hidup dan mati,
Penjahat dijadikan pahlawan.
Wartawan dibakar, orang dihilangkan,
Mahasiswa dimata-matai.
Jangan takut, Bu, Pak.
Kalianlah peradaban itu.
Kita tak harus selalu kuat,
Tapi kita bisa saling menguatkan.
Sampai jumpa Kamis depan.
Semoga kita masih membenci ketidakadilan.
