Nasional

Antrean Panjang Menuju Pelabuhan Bali, Pemudik Terjebak Macet 15 Jam

NU Online  ·  Senin, 16 Maret 2026 | 20:00 WIB

Antrean Panjang Menuju Pelabuhan Bali, Pemudik Terjebak Macet 15 Jam

Macet menuju Pelabuhan Gilimanuk Bali, Ahad (15/3/2026). (Foto: Alvan Amalana)

Denpasar, NU Online

Perjalanan mudik yang biasanya memakan waktu sekitar empat jam berubah menjadi hampir 15 jam bagi Alvan Amalana. Desainer grafis yang bekerja di Denpasar Utara itu harus menghadapi kemacetan panjang saat hendak menyeberang dari Bali menuju Jawa dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya di Demak, Jawa Tengah.


Alvan berangkat dari Bali dengan harapan bisa segera berkumpul dengan keluarga di rumah orang tuanya. Namun perjalanan menuju pelabuhan justru menjadi pengalaman panjang yang tak terlupakan.


“Pada awal sebelum macet hanya terjadi bottleneck di beberapa titik menuju pelabuhan seperti di Bajera, Negara, dan Banyubiru yang disebabkan transportasi bermuatan besar menuju ke pelabuan di waktu bersamaan sekitar pukul 02.00 WITA dini hari,” ujar Alvan kepada NU Online pada Senin (16/3/2026).


Kemacetan semakin terasa ketika kendaraan bus yang ia tumpangi memasuki wilayah Candikesuma, Kecamatan Melaya. Saat itu, antrean kendaraan sudah memanjang dari arah pelabuhan.


“Kami mengalami hambatan di Candikesuma sedari pukul 06.00-07.30 WITA di mana jarak dari pelabuhan dan Candikesuma masih sejauh 20 km. Hal ini membuat kemacetan menjadi lebih panjang dari hari sebelumnya. Sampai akhirnya bus yang kami tumpangi hanya bisa mengantarkan sampai Sumbersari karena keterbatasan waktu,” katanya.


Ia menjelaskan, perjalanan menuju pelabuhan yang biasanya relatif singkat berubah menjadi sangat lama akibat kepadatan kendaraan yang terjadi sejak dini hari. Antrean kendaraan yang mengular membuat laju perjalanan tersendat sehingga waktu tempuh meningkat berkali-kali lipat dari biasanya.


“Waktu tempuh normal dari Ubung, Denpasar ke Pelabuhan biasanya hanya 3,5-4 jam perjalanan, sedangkan kali ini kami menghabiskan waktu hampir 15 jam,” tuturnya.


Menurutnya, salah satu titik kemacetan paling parah terjadi di kawasan Alas Cekik sebelum pelabuhan. Minimnya jalur alternatif membuat kendaraan terpaksa bergerak sangat lambat.


“Karena sedikitnya opsi jalan alternatif di titik tersebut, menyebabkan para pengendara mau tidak mau menunggu giliran jalan,” jelasnya.


Selama terjebak macet, Alvan menyaksikan berbagai situasi para pemudik di sepanjang jalan. Banyak yang terlihat kelelahan setelah berjam-jam berada di kendaraan.


“Banyak yang memilih menunggu di luar mobil sambil membeli minuman dingin, cuaca yang panas membuat beberapa pemudik rada emosi dengan beberapa insiden yang terjadi,” tuturnya.


Di tengah kondisi tersebut, petugas hanya memastikan agar arus kendaraan tetap tertib. Petugas mengatur kendaraan agar tidak saling mendahului melalui jalur berlawanan yang justru nantinya akan memperburuk kemacetan.


“Saya jadikan setiap mudik menjadi momen yang menyenangkan dengan pengalaman apapun terjadi di dalamnya,” katanya.


Ia menilai petugas telah bekerja cukup baik dalam mengatur ketertiban lalu lintas di tengah kepadatan arus mudik. Namun, ia berharap ke depan informasi kondisi jalan dan imbauan kepada pemudik dapat disampaikan lebih efektif.


“Bagi saya petugas cukup bekerja dengan baik terkait penertiban jalan dan ke depannya bisa memberikan imbauan yang lebih efektif agar pemudik bisa memahami situasi yang akan terjadi dan bagaimana cara penanganannya,” pungkasnya.