Nasional

Banser Tanggap Bencana Ikut Andil Pencarian Korban Longsor Sampah di TPST Bantargebang Bekasi

NU Online  ·  Selasa, 10 Maret 2026 | 10:45 WIB

Banser Tanggap Bencana Ikut Andil Pencarian Korban Longsor Sampah di TPST Bantargebang Bekasi

Tim Bagana Kota Bekasi, DKI Jakarta, hingga Satkornas Banser berada di lokasi longsor sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (9/3/2026). (NU Online/Jannah)

Bekasi, NU Online

Peristiwa longsor sampah terjadi di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat pada Ahad (8/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB. Peristiwa tersebut mengakibatkan sejumlah korban jiwa.


Proses pencarian korban dilakukan oleh tim gabungan, antara lain Basarnas, Pemadam Kebakaran, BPBD, TNI, Polri, dan relawan dari Banser Tanggap Bencana (Bagana) Gerakan Pemuda Ansor. Tim Bagana pun bergerak cepat menuju lokasi pada Ahad (8/3/2026) sore hari yang terdiri dari Bagana Kota Bekasi, Bagana DKI Jakarta, hingga Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Satkornas Banser).


Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi Egi Cahyanto menungkapkan keprihatinan mendalam atas musibah tersebut dan menyampaikan duka cita kepada keluarga para korban.


“Kami turut berduka cita atas musibah ini. Semoga para korban yang meninggal dunia mendapat tempat terbaik dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ujar Egi kepada NU Online, Senin (9/3/2026).


Egi mendesak pemerintah daerah dan pusat agar segera meninjau kembali sistem pengelolaan sampah di TPST Bantargebang yang selama ini terus menumpuk hingga membentuk gunungan sampah yang sangat tinggi.


“Persoalan pengelolaan sampah harus memperhatikan aspek keselamatan manusia,” katanya.


Sementara itu, Divisi Tananggap Darurat Satkornas Banser Ahmad Muslim mengungkapkan bahwa proses pencarian korban longsor sampah tidaklah mudah sebab alat deteksi koban (life detector) tidak dapat berfungsi.


“Tidak bisa digunakan itu (alat deteksi korban) karena longsor sampah dan tanah itu sangat berbeda. Alat itu kan mendeteksi panasnya tubuh, tapi di sampah ini semuanya panas karena dari gas metana yang sangat panas,” ujarnya.


“Bahkan anjing pelacak pun tidak mampu mendeteksi korban, jalan satu-satunya kita cari manual menggunakan eksavator,” lanjutnya.


Ia menceritakan proses evakuasi salah satu korban yang sempat selamat, namun tak lama kemudian meninggal dunia akibat dari gas beracun dari sampah, salah satunya metana.


“Kami membantu evakuasi korban yang tertimpa di pinggir sungai, dekat dengan jalan. Jadi memang di korban ini bisa diselamatkan karena dekat sama jalan. Tapi baru saja, tidak lama dari kondisi longsornya sampah, baru 15 menit karena di dalam sampah ini ada gas metana yang sangat kuat. Jadi korban ini bisa diselamatkan tapi akhisnya dia meninggal dunia,” tuturnya.