Nasional

Cara Merawat Baterai Motor Listrik agar Tahan Lama

NU Online  ·  Jumat, 7 Agustus 2026 | 15:00 WIB

Cara Merawat Baterai Motor Listrik agar Tahan Lama

Ilustrasi pengguna motor listrik. (Foto: dok Alva)

Jakarta, NU Online

Perkembangan teknologi baterai dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat sepeda motor listrik semakin layak digunakan sebagai sarana transportasi sehari-hari. Selain menawarkan biaya operasional yang lebih hemat, kendaraan listrik juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan sepeda motor berbahan bakar minyak (BBM), meski masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan limbah baterai.


Dosen Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Semarang (UNNES), Febrian Arif Budiman, menjelaskan bahwa perbedaan paling mendasar antara sepeda motor listrik dan motor konvensional terletak pada sumber tenaga penggeraknya.


Menurutnya, kendaraan listrik menggunakan motor listrik sebagai penggerak yang memperoleh suplai energi dari baterai. Sementara itu, sepeda motor konvensional memanfaatkan mesin pembakaran internal yang bekerja melalui proses pembakaran campuran bahan bakar minyak dan udara.


Febrian mengatakan teknologi baterai kendaraan listrik berkembang pesat, salah satunya ditandai dengan semakin luasnya penggunaan baterai Lithium Ferro Phosphate (LiFePO4). Jenis baterai ini memiliki kapasitas penyimpanan energi yang besar, dimensi lebih ringkas, serta mendukung pengisian daya yang lebih cepat.


Meski demikian, umur baterai sangat dipengaruhi oleh pola penggunaan dan perawatan. Menurut Febrian, beberapa kebiasaan yang dapat mempercepat penurunan performa baterai antara lain menggunakan pengisi daya yang tidak dilengkapi fitur cut-off, membiarkan daya baterai berulang kali turun hingga 0–10 persen, tidak mengisi daya hingga penuh, membawa beban kendaraan melebihi kapasitas sehingga baterai sering mengalami overheat, serta menerjang banjir tanpa melakukan pemeriksaan di bengkel resmi.


"Umur baterai dipengaruhi dari jam kerja penggunaan baterai, penggunaan charger yang tidak dilengkapi dengan cut-off jika daya sudah penuh, penggunaan daya baterai kendaraan listrik yang terlalu sering mendekati habis atau 0–10 persen, sering melakukan charging kurang dari 100 persen, sering membebani daya baterai yang membuat baterai lebih cepat dan sering overheat, sering menerjang banjir dan tanpa melakukan pengecekan ke bengkel yang ditunjuk," ungkap Febrian kepada NU Online, Senin (3/8/2026) lalu.


Sebaliknya, baterai akan lebih awet apabila dirawat dengan benar. Ia menyarankan pengguna mengisi ulang baterai sebelum kapasitasnya turun di bawah 20 persen, melakukan pengisian hingga 100 persen secara berkala, menghindari overheat dengan menyesuaikan beban kendaraan sesuai spesifikasi pabrikan, serta segera memeriksakan kendaraan ke bengkel resmi setelah melewati banjir meskipun baterai dinyatakan aman terhadap genangan.


Menurutnya, perawatan yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai risiko, mulai dari baterai mudah panas, distribusi pengisian daya antarsel yang tidak merata, umur baterai yang lebih pendek, hingga potensi ledakan dan kebakaran pada battery pack.


Selain itu, Febrian menilai kendaraan roda dua listrik lebih hemat dibandingkan sepeda motor konvensional. Biaya listrik untuk mengisi daya baterai dinilai jauh lebih rendah dibandingkan biaya pembelian BBM non-subsidi, terutama karena sebagian besar sepeda motor keluaran terbaru membutuhkan BBM dengan nilai oktan minimal RON 92.


Ia juga menilai penggunaan motor listrik berpotensi mengurangi polusi udara apabila jumlah penggunanya terus meningkat.


"Menurut saya, motor listrik lebih ramah lingkungan, terlebih lagi jika jumlah sepeda motor listrik semakin banyak, sebaliknya kendaraan konvensional semakin berkurang," imbuhnya.


Lebih lanjut, Febrian menyarankan masyarakat memperhatikan sejumlah aspek sebelum membeli sepeda motor listrik. Di antaranya kontur wilayah tempat kendaraan akan digunakan, jarak tempuh harian untuk menentukan kapasitas baterai yang sesuai, masa garansi baterai, serta ketersediaan layanan purnajual (after-sales service) dan pusat servis resmi karena harga baterai relatif mahal.


"Selain itu juga minimnya biaya perawatan, kemudian pelayanan dari aftersales yang terjangkau atau di setiap daerah terdapat service center," paparnya.


Sementara itu, alumni Pendidikan Teknik Elektro UNNES, Widya Hapsari, menjelaskan bahwa umur baterai pada dasarnya tidak ditentukan oleh usia kalender, melainkan oleh pola penggunaan dan perawatannya.


Menurutnya, umur baterai sangat dipengaruhi oleh frekuensi siklus pengisian dan pengosongan daya. Kebiasaan menggunakan baterai hingga kondisi low battery juga dapat mempercepat penurunan kualitas baterai.


Widya menambahkan bahwa motor listrik memang tidak menghasilkan emisi knalpot saat digunakan. Namun, hal itu bukan berarti kendaraan listrik sepenuhnya bebas emisi. Apabila listrik yang digunakan berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil, emisi tetap dihasilkan pada proses pembangkitan listrik.


"Namun, perbedaannya adalah emisi tersebut berada di sumber pembangkitan listrik dan bukan langsung di jalan tempat kendaraan digunakan. Jadi, motor listrik dapat dikatakan lebih ramah lingkungan di titik penggunaan, sementara dampak lingkungannya secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh sumber energi listrik dan pengelolaan baterainya," jelasnya.


Ia menegaskan bahwa pengelolaan limbah baterai menjadi salah satu tantangan penting dalam perkembangan kendaraan listrik. Baterai bekas termasuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang tidak boleh dibuang sembarangan karena mengandung logam berat, bahan kimia, dan elektrolit yang berpotensi mencemari lingkungan serta air tanah.


Karena itu, baterai bekas sebaiknya dikembalikan kepada produsen melalui dealer, bengkel resmi, atau fasilitas pengelolaan limbah yang telah memiliki izin.


"Pengelolaan limbah baterai motor listrik dapat dilakukan melalui pemanfaatan kembali, perbaikan sel secara parsial, dan daur ulang materialnya. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah baterai dapat menjadi bagian dari sistem ekonomi sirkular," pungkas Widya.