Nasional

Dari Pesantren ke PB IPSI, Gus Nabil Bawa Semangat Khidmah untuk Pencak Silat Indonesia

NU Online  ·  Senin, 7 September 2026 | 18:30 WIB

Dari Pesantren ke PB IPSI, Gus Nabil Bawa Semangat Khidmah untuk Pencak Silat Indonesia

Pelantikan PB IPSI di Jakarta. (Foto: istimewa)

Jakarta, NU Online

Blangkon dan sarung batik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penampilan Muchamad Nabil Haroen saat mengikuti pelantikan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) Masa Bakti 2026–2030. Dengan gaya khas tersebut, kader Nahdlatul Ulama yang akrab disapa Gus Nabil itu kembali menerima amanah sebagai Wakil Ketua Umum PB IPSI.


Bagi alumnus Pondok Pesantren Lirboyo tersebut, blangkon dan sarung bukan sekadar pakaian. Keduanya merupakan penanda akar kebudayaan dan tradisi pesantren yang dibawanya dalam menjalankan pengabdian di tingkat nasional.


Amanah kali ini merupakan periode kedua Gus Nabil sebagai Wakil Ketua Umum PB IPSI. Sebelumnya, Ketua Umum PP Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa itu menduduki jabatan yang sama ketika PB IPSI dipimpin Prabowo Subianto. Kini, di bawah kepemimpinan Ketua Umum PB IPSI Sugiono, Gus Nabil menyatakan siap melanjutkan khidmah untuk menyukseskan seluruh program organisasi.


“Bagi saya, jabatan hanyalah alat untuk bekerja. Yang jauh lebih penting adalah apa yang dapat kita berikan dan kita wariskan setelah masa pengabdian ini selesai,” kata Gus Nabil seusai pelantikan di Padepokan Pencak Silat Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (5/9/2026).


Amanah, bukan sekadar jabatan

Dua periode berada di jajaran pimpinan PB IPSI tidak dimaknai Gus Nabil sebagai capaian pribadi. Ia memandang kepercayaan tersebut sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan melalui kerja nyata. Nilai itu, menurutnya, merupakan bagian dari pendidikan pesantren. Jabatan tidak untuk dibanggakan, tetapi digunakan sebagai jalan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.


“Sebagai kader NU, yang kami bawa adalah semangat khidmah. Di mana pun kader NU mendapat amanah, ukurannya bukan seberapa tinggi jabatannya, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa diberikan,” ujarnya.


Karena itu, Gus Nabil memastikan tidak membawa visi pribadi ataupun agenda perguruan ke dalam PB IPSI. Ia akan bekerja bersama seluruh jajaran pengurus dalam satu arah kepemimpinan Ketua Umum PB IPSI Sugiono.


“Seluruh pengurus berada dalam satu barisan untuk menerjemahkan dan menyukseskan visi Ketua Umum PB IPSI. Amanah yang diberikan kepada masing-masing pengurus harus menjadi kekuatan kolektif untuk membawa pencak silat Indonesia semakin maju,” katanya.


Menurutnya, pengalaman bekerja di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto pada periode sebelumnya menjadi bekal untuk melanjutkan pengabdian pada periode kepemimpinan Sugiono.


Tantangan setiap masa kepengurusan dapat berbeda. Namun, tugas utamanya tetap sama, yakni menjaga persatuan perguruan, meningkatkan prestasi, dan membawa pencak silat semakin dihormati di dunia.


Pagar Nusa persembahkan potensinya untuk IPSI

Sebagai Ketua Umum PP PSNU Pagar Nusa, Gus Nabil menyatakan siap menggerakkan potensi sekitar tiga juta kader yang tersebar di seluruh Indonesia.


Potensi tersebut akan dipersembahkan untuk mendukung pembinaan atlet, peningkatan kualitas pelatih, pendidikan karakter generasi muda, penguatan organisasi, dan pengembangan pencak silat sampai ke daerah.


“Pagar Nusa dengan sekitar tiga juta kader siap mengambil bagian dan bergotong royong menyukseskan agenda PB IPSI,” katanya.


Gus Nabil menegaskan bahwa kebesaran sebuah organisasi tidak semestinya hanya diukur dari jumlah kader ataupun banyaknya posisi yang diperoleh.


“Pagar Nusa kuat karena memberi manfaat, bukan karena banyaknya kursi. Karena itu, seluruh potensi yang kami miliki harus menjadi manfaat bagi IPSI dan pencak silat Indonesia,” ujarnya.


Ia juga memastikan dukungan Pagar Nusa bukan untuk membangun dominasi satu perguruan.


“Ini bukan agenda Pagar Nusa. Ini adalah ikhtiar bersama seluruh keluarga besar pencak silat untuk membawa Indonesia semakin berprestasi dan disegani dunia,” tegasnya.


Menempatkan adab di atas kekuatan

Gus Nabil memandang pencak silat memiliki kedekatan yang kuat dengan pendidikan pesantren. Keduanya sama-sama mengajarkan penghormatan kepada guru, kedisiplinan, pengendalian diri, dan kemuliaan akhlak.


Menurutnya, kemampuan bela diri tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Karena itu, seorang pesilat tidak cukup hanya kuat secara fisik, tetapi juga harus mampu mengendalikan kekuatannya.


“Kita mewarisi pencak silat dari para leluhur bukan hanya sebagai teknik bela diri, tetapi sebagai jalan pembentukan manusia,” katanya.


“Di dalam pencak silat ada keberanian tanpa kesombongan, kekuatan yang dikendalikan oleh akhlak, serta persaudaraan yang melampaui perbedaan perguruan dan daerah,” lanjutnya.


Nilai tersebut, kata Gus Nabil, harus menjadi jiwa dalam setiap latihan, pertandingan, dan proses pembinaan atlet. PB IPSI tidak hanya bertanggung jawab melahirkan juara. Organisasi juga harus membantu menghadirkan generasi muda yang tangguh, beradab, dan memiliki kecintaan kepada bangsa.


Berbeda perguruan, bersaudara dalam IPSI

Gus Nabil mengatakan keberagaman perguruan merupakan kekayaan pencak silat Indonesia. Setiap perguruan memiliki sejarah, sanad keilmuan, tradisi, dan ciri khas yang harus dihormati. Namun, identitas perguruan tidak boleh menjadi penghalang untuk bersatu dalam rumah besar IPSI.


“Kita boleh berasal dari perguruan yang berbeda, memakai warna yang berbeda, dan tumbuh dari tradisi yang berbeda. Tetapi ketika Merah Putih dikibarkan, kita adalah satu: pencak silat Indonesia,” ujarnya.


Menurutnya, periode 2026–2030 harus menjadi masa konsolidasi sekaligus akselerasi. Persatuan organisasi harus diperkuat, sedangkan pembinaan prestasi harus ditingkatkan.


Pembinaan atlet perlu semakin memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kompetisi harus berkualitas, sedangkan profesionalisme pelatih dan wasit-juri perlu diperkuat melalui standardisasi serta sertifikasi.


Sistem pemeringkatan atlet juga dibutuhkan agar pembinaan dan seleksi dilakukan secara objektif serta terukur. Pada saat yang sama, industri pencak silat perlu dibangun untuk memberikan ruang pengabdian dan masa depan yang lebih baik bagi atlet serta pelatih.


Khidmah panjang menuju olimpiade

Ketua Umum PB IPSI Sugiono menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga identitas dan instrumen diplomasi bangsa.


Salah satu target besar kepengurusan ialah membawa pencak silat menembus Olimpiade dan menjadikannya bagian dari pendidikan karakter generasi muda melalui pendidikan formal.


Gus Nabil menyatakan Pagar Nusa siap berdiri bersama seluruh perguruan untuk menyukseskan cita-cita tersebut.


Namun, ia mengingatkan bahwa perjuangan menuju Olimpiade merupakan perjalanan panjang yang memerlukan kesinambungan lintas kepemimpinan dan generasi.


“Ini bukan pekerjaan satu ketua umum, satu kepengurusan, atau satu periode. Ini adalah kerja panjang seluruh insan pencak silat Indonesia,” katanya.


Pelantikan dan pengukuhan Pengurus Besar IPSI Masa Bakti 2026–2030 dilakukan Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman.


Kegiatan tersebut turut dihadiri Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, perwakilan Komite Olimpiade Indonesia, para pimpinan perguruan historis IPSI, serta pengurus provinsi IPSI dari 38 provinsi.