Ekonomi Tak Pasti, Masyarakat Pangkas Jatah Konsumsi
NU Online · Kamis, 8 Oktober 2026 | 19:30 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Fenomena downgrading atau perubahan pilihan konsumsi ke barang dan layanan belakangan ini mulai mengubah gaya hidup masyarakat. Kondisi tersebut ditandai dengan menurunnya konsumsi akibat pendapatan yang relatif stagnan, sedangkan kebutuhan terus meningkat. Ketidakpastian ekonomi mendorong sebagian masyarakat mengubah pola konsumsi.
Ekonom Universitas Gadjah Mada Wisnu Setiadi Nugroho menilai bahwa downgrading merupakan respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan semata pilihan gaya hidup.
Menurutnya, rumah tangga berupaya mempertahankan konsumsi inti seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan dengan mengurangi pengeluaran yang lebih fleksibel atau tersier ketika pendapatan mengalami tekanan atau ketidakpastian.
Baca Juga
Mewaspadai Terulangnya Krisis Ekonomi
“Ini sebagai respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan pilihan gaya hidup,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (8/10/2026).
Ia mengatakan masyarakat melakukan penyesuaian bukan karena sedang ingin berhemat, tetapi karena ruang pilihan dalam mengatur pengeluaran kian terbatas.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada praktik downgrading, melainkan pada skala dan kelompok masyarakat yang melakukannya. Apabila hanya terjadi pada sebagian kecil masyarakat, penyesuaian tersebut masih dapat dipandang sebagai hal yang bersifat sementara.
“Kalau fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah,” jelasnya.
Wisnu juga mengatakan adanya dua faktor yang saling memperkuat terjadinya downgrading. Pertama, pendapatan riil yang stagnan di tengah kenaikan harga kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan energi.
“Pola ini menunjukkan bahwa anggaran belanja riil masyarakat memang menyusut, meskipun pendapatan nominal tidak mengalami perubahan,” katanya.
Kedua, adanya ekspektasi ekonomi yang menurun. Masyarakat menahan konsumsi bukan hanya karena kemampuan keuangan berkurang, tetapi juga karena kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang, termasuk keamanan pekerjaan.
“Akibatnya, pola belanja yang sebelumnya bersifat rutin berubah menjadi lebih menahan,” ucapnya.
Wisnu menegaskan tekanan daya beli yang berlangsung lama dapat berdampak pada perekonomian secara lebih luas. Ketika masyarakat menahan konsumsi, aktivitas perdagangan dan jasa ikut melambat sehingga pelaku usaha dapat menunda ekspansi dan perekrutan tenaga kerja.
Ia menambahkan, kondisi semakin mengkhawatirkan ketika masyarakat mulai menggunakan utang jangka pendek atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Ketika rumah tangga sampai menjual aset untuk menutup kebutuhan sehari-hari, ya itu juga tanda bahwa bantalan keuangan mereka sudah habis. Bukan lagi soal mengatur ulang prioritas belanja, tapi soal bertahan hidup,” ucapnya.
Terpopuler
1
Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 usai Kalahkan Thailand Lewat Adu Penalti
2
Sembilan Hakim MK Diadukan ke MKMK karena Tunjukkan Ijazah Gibran ke Pemohon
3
Kemenag Buka Pelatihan Ekoteologi 2026, Ini Syarat dan Jadwal Pendaftarannya
4
Kemenag Buka Lima Program Non-Degree 2026, Pendaftaran 5-12 Oktober
5
Innalillahi, Ketua PWNU Jawa Tengah 2003-2013 KH Muhammad Adnan Wafat
6
Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid, Pelita Keteladanan Sang Bu Nyai, Ahli Riyadhah, dan Politisi
Terkini
Lihat Semua