Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
NU Online · Kamis, 8 Oktober 2026 | 20:32 WIB
M. Syarofuddin Firdaus
Kolumnis
Dalam masyarakat kita, berkembang sebuah istilah yang cukup akrab di telinga: “Jumat berkah.” Istilah ini menggambarkan semangat untuk mengisi hari Jumat dengan berbagai kebaikan dan amalan yang dianjurkan.
Berikut naskah khutbah Jum'at yang berjudul, “Jumat Berkah: Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan”. Untuk mencetaknya, silakan klik ikon berwarna merah pada bagian kanan atas. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تُقْبَلُ الْعَطَايَا وَالْعِبَادَاتُ. الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ، الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ، الْمُرْسَلِ إِلَى كَافَّةِ الْمَخْلُوْقِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَذُرِّيَتِهِ الْأَطْهَارِ، وَصَحَابَتِهِ الْأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِالْاِبْتِعَادِ مِنَ الْأَشْرَارِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْنُ. أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، فَمَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى وَاتَّقَى فَقَدْ أَفْلَحَ وَفَازَ، إِنَّ اللهَ لَايُخْلِفُ الْمِيْعَادَ.
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kita terhadap Allah, dengan tidak hanya mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Lebih dari itu, marilah kita menghidupkan waktu-waktu mustajab (mudah dikabulkannya doa) dengan memperbanyak amal baik.
Di antara waktu-waktu mustajab adalah hari Jumat. Allah memberikan kita sebuah hari setiap pekannya sebagai hari yang istimewa. Ia bukan sekadar pergantian hari dalam kalender, tetapi kesempatan yang Allah berikan agar kita berhenti sejenak dari kesibukan, kembali mengingat-Nya, dan memperbaiki hubungan kita dengan sesama.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. al-Jumu‘ah: 9)
Ayat ini mengajarkan sebuah kesadaran penting: ada saatnya kita berhenti mengejar urusan dunia untuk kembali menyadari siapa diri kita dan kepada siapa seluruh kehidupan kita akan kembali.
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Syekh al-Nawawi dalam kitab Tafsir Marah Labid Juz 2 halaman 528 menjelaskan bahwa hari Jumat juga disebut sebagai hari untuk bersyukur, menampakkan kegembiraan, dan mengagungkan suatu nikmat. Menurutnya, nikmat tersebut memerlukan adanya pertemuan agar dapat diketahui bersama serta tersebar kemasyhurannya di tengah masyarakat.
Nabi Muhammad sendiri juga menegaskan tentang keutamaan hari ini. Di dalam riwayat Muslim disebutkan:
خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا
Artinya: “Hari terbaik yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya.” (HR. Muslim)
Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juz 6, halaman 142, mengutip pendapat Syekh Abu Bakr bin al-‘Izzi. Beliau menjelaskan bahwa dengan dikeluarkannya Nabi Adam dari surga, lahirlah umat manusia beserta keturunannya. Dari keturunan itu kemudian lahir para nabi, rasul, orang-orang saleh, dan para wali.
Maka, bukankah sudah selayaknya kita memandang Jumat dengan cara yang berbeda? Jangan biarkan Jumat berlalu seperti hari-hari biasa. Jadikan ia sebagai momentum untuk memperbanyak selawat, membaca Al-Qur’an, memanjatkan doa, bersedekah, menghadiri salat Jumat, serta memperbanyak berbagai amal kebaikan.
Sebab bisa jadi, Jumat yang kita jalani hari ini menjadi salah satu hari yang paling berarti dalam perjalanan kita menuju Allah.
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Di tengah kehidupan masyarakat kita, ada banyak kebiasaan baik yang tumbuh dari semangat berbagi. Salah satunya adalah tradisi yang sering kita jumpai setiap hari Jumat: nasi Jumat berkah.
Seusai shalat Jumat, kita sering melihat ada jamaah yang membawa nasi, makanan, atau minuman untuk dibagikan kepada jamaah lainnya. Ada yang memasaknya sendiri di rumah. Ada yang membelinya. Ada pula yang patungan bersama-sama.
Sekilas, mungkin terlihat sederhana. Hanya sebungkus nasi. Hanya makanan yang dibagikan setelah shalat Jumat. Tetapi kalau kita renungkan lebih dalam, ternyata ada pesan yang sangat indah di baliknya.
Karena sesungguhnya, yang paling penting bukanlah nama “nasi Jumat berkah”-nya. Bukan pula seberapa mahal makanan yang kita berikan. Yang lebih penting adalah semangat untuk berbagi keberkahan kepada sesama.
Sebab kita tidak pernah tahu, siapa yang akan menerima makanan itu. Boleh jadi, bagi kita satu kotak nasi hanyalah makanan biasa. Tetapi bagi seseorang yang sejak pagi belum sempat makan, makanan itu mungkin sangat berarti.
Boleh jadi, ada musafir yang sedang dalam perjalanan dan singgah di masjid. Ada pekerja yang sejak pagi sudah beraktivitas tanpa sempat sarapan. Ada pula saudara kita yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, tetapi tetap berusaha datang ke masjid untuk menunaikan salat Jumat.
Di sinilah kita menyadari ajaran agama hendak selalu menghadirkan kebaikan pada setiap apa kita lakukan. Ketika bersedekah, kita tidak hanya menyerahkan makanan, tetapi menyadari bahwa ada manusia lain yang sedang menerima perhatian dari kita. Ketika mengambil makanan, kita juga menyadari bahwa di balik makanan itu ada tangan yang memasak, ada rezeki yang dikeluarkan, dan ada hati yang ingin berbagi.
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Istilah Jumat Berkah patut kita rawat agar kita senantiasa mengingat sekaligus menyadari bahwa hari Jumat merupakan hari yang mulia. Selain tradisi baru yang bersifat sosial seperti di atas, kita juga patut meniru kebiasaan ulama salaf dalam menghidupkan hari Jumat.
Misalnya, al-Qadhi al-Mufadhal bin Fadhalah (w. 181 H) mempunyai kebiasaan apabila selesai shalat Asar pada hari Jumat beliau menyendiri di pojok masjid dan terus berdoa hingga matahari terbenam, sebagaimana disebutkan di dalam kitab Akhbar al-Qudhah juz 3 hal 238.
Kebiasaan yang bersifat personal ini layak kita ikuti meskipun mungkin tidak sama persis mengingat kebanyakan dari kita pada waktu sore di hari Jumat masih sibuk dengan rutinitas masing-masing. Setidaknya, pada waktu itu kita mengingat-Nya meski sekedar berdzikir atau membaca shalawat.
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Pada akhirnya, keberkahaan hari Jumat bukan hanya ketika makanan kita menjadi banyak, tetapi ketika kehadiran kita membawa manfaat. Bukan hanya ketika masjid menjadi ramai, tetapi ketika hati kita menjadi lebih hidup.
Semoga setiap Jumat yang kita lalui menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak, mengingat Allah, mensyukuri rezeki, dan memuhasabah sekaligus memperbaiki diri. Semoga Jumat kita tidak hanya penuh berkah dalam ucapan, tetapi benar-benar menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَبِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقَ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلَّمُ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً.
اَمَّابَعْدُ۰فَيَاعِبَادَ ﷲ... اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ. إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ...ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ وَسَلِّمْ ﻋَﻠَﻰسَيِّدِنَا ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁلهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأْهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ، اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
--------
M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat
Terpopuler
1
Sembilan Hakim MK Diadukan ke MKMK karena Tunjukkan Ijazah Gibran ke Pemohon
2
Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 usai Kalahkan Thailand Lewat Adu Penalti
3
Kemenag Buka Pelatihan Ekoteologi 2026, Ini Syarat dan Jadwal Pendaftarannya
4
Kemenag Buka Lima Program Non-Degree 2026, Pendaftaran 5-12 Oktober
5
Innalillahi, Ketua PWNU Jawa Tengah 2003-2013 KH Muhammad Adnan Wafat
6
Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid, Pelita Keteladanan Sang Bu Nyai, Ahli Riyadhah, dan Politisi
Terkini
Lihat Semua