Nasional

INDEF Sebut Krisis Pangan Mengintai Indonesia, Ini Tiga Faktor Pemicunya

NU Online  ·  Rabu, 8 April 2026 | 09:00 WIB

INDEF Sebut Krisis Pangan Mengintai Indonesia, Ini Tiga Faktor Pemicunya

Ilustrasi krisis pangan. (Foto: NU Online/Freepik)

Jakarta, NU Online

 

Ketahanan pangan Indonesia kini berada di bawah tekanan yang cukup serius. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengidentifikasi tiga faktor utama yang berpotensi mendorong kenaikan harga pangan di tingkat konsumen, sekaligus menekan daya beli masyarakat.

 

Laporan terbaru INDEF, Monitoring Issue of Food, Energy and Sustainable Development Maret 2026 menyoroti kombinasi gejolak geopolitik global, anomali cuaca, dan kondisi moneter domestik sebagai penyebab utama risiko ini.

 

Penutupan Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah menjadi faktor pertama yang menekan ketahanan pangan. Lonjakan harga gas alam dunia memicu kenaikan biaya produksi pupuk urea dan nitrogen.

 

"Gangguan di wilayah ini tidak hanya berpotensi meningkatkan biaya saja, tetapi juga mengganggu ketersediaan fisik pupuk di pasar global," tulis INDEF dalam laporannya dikutip NU Online Selasa (7/4/2026).

 

Di Indonesia, ketergantungan terhadap impor bahan baku pupuk memperberat tekanan ini. Kenaikan biaya produksi diprediksi langsung berdampak pada harga komoditas pertanian.

 

Anomali cuaca juga menjadi perhatian serius. INDEF memperingatkan potensi munculnya fenomena "El Nino Godzilla, atau El Nino kategori kuat, yang diprediksi puncaknya terjadi pada Semester II 2026.

 

Kondisi ini dapat memicu kekeringan panjang, gagal panen, dan menurunkan produktivitas lahan pertanian di sejumlah lumbung pangan nasional. Dampaknya, ketersediaan stok pangan domestik akan semakin tertekan.

 

"Tekanan global dari sisi biaya produksi dan ancaman iklim dari sisi produksi domestik menciptakan situasi yang sangat menantang bagi stabilitas harga pangan," tulis laporan tersebut.

 

Faktor ketiga bersumber dari kondisi moneter dalam negeri. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS membuat biaya impor pangan dan input pertanian meningkat.

 

Meskipun pemerintah menyiapkan subsidi pupuk sebesar Rp46,9 triliun, INDEF menilai angka tersebut berpotensi tidak cukup menahan lonjakan biaya produksi. 

 

"Kenaikan harga internasional berpotensi meningkatkan beban subsidi, sementara alokasi anggaran sebesar Rp46,9 triliun dalam APBN 2026 berisiko tidak sepenuhnya mampu menahan tekanan biaya. Apabila hal ini terus berlanjut, maka dapat meningkatkan biaya produksi pertanian dan juga berpotensi mendorong inflasi pangan," tegas INDEF.

 

INDEF menekankan bahwa gabungan tekanan global dan domestik ini menjadi ujian berat bagi ketahanan pangan nasional. Tanpa strategi antisipatif yang tepat, kenaikan harga bahan pokok dikhawatirkan akan menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan.

 

INDEF mendorong pemerintah untuk memperkuat cadangan pangan nasional dan mengefisiensikan rantai distribusi sebagai langkah perlindungan jangka pendek di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

 

Stok beras aman

 

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan stok cadangan beras pemerintah (CBP) secara nasional sebesar 4,6 juta ton dalam kondisi aman untuk menghadapi tekanan geopolitik global serta ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino.

 

Amran mengatakan cadangan beras per 7 April 2026 mencapai 4,6 juta ton, meningkat dari posisi sebelumnya 4,5 juta ton, sekaligus menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan stok pangan nasional Indonesia.

 

"Cadangan beras hari ini, per tadi pagi tanggal 7 April 2026 mencapai 4,6 juta ton. Jadi kemarin 4,5, sekarang 4,6 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah," kata Amran yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Kabapanas).

 

Pemerintah menilai kondisi cadangan beras nasional sangat kuat dan mampu menjaga stabilitas pasokan serta harga di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

 

Mentan menyebut ketersediaan stok beras saat ini dipastikan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia selama 10 hingga 11 bulan ke depan.

 

Ia juga menegaskan potensi El Nino yang diperkirakan berlangsung selama enam bulan ke depan masih dapat diantisipasi dengan kesiapan stok serta langkah mitigasi yang telah disiapkan pemerintah secara menyeluruh untuk menjaga produktivitas pertanian di dalam negeri.

 

"Kondisi stok beras nasional Indonesia dipastikan aman untuk 10 sampai 11 bulan ke depan. Di sisi lain, El Nino diperkirakan enam bulan, jadi insya Allah pangan kita aman," tegas Amran.