KH Ma'ruf Amin Dorong Nahdliyin Ber-NU dengan Pemahaman, Bukan Sekadar Ikut-ikutan
NU Online · Senin, 24 Agustus 2026 | 15:30 WIB
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma'ruf Amin menegaskan pentingnya meningkatkan kualitas nahdliyin, bukan sekadar memperbesar jumlah keanggotaan. Menurutnya, NU ke depan harus dibangun dengan mengutamakan kualitas agar nahdliyin memahami nilai dan prinsip organisasi.
Kiai Ma'ruf menyampaikan hal tersebut dalam tayangan Menjadi Indonesia ke-48 dengan tema "Di Balik Turun Gunungnya Kiai-kiai Sepuh Jelang Muktamar Ke-35 NU" yang tayang perdana pada Ahad (23/8/2026).
"Jadi NU itu memahami, bukan hanya ikut-ikutan. Bukan karena bapak, karena guru, karena teman, tapi paham," katanya.
Ia menjelaskan konsep ber-NU ala basyirah, yakni menjalankan ke-NU-an berdasarkan pengetahuan dan pemahaman yang kuat.
"Itu yang saya sebut ber-NU ala basyirah, bukan ala bisyarah," katanya.
Menurutnya, warga NU perlu memahami fikrah, manhaj, dan harakah Nahdliyah serta menjalankan ke-NU-an berdasarkan keyakinan dan hati nurani.
"Jadi ala basyirah itu atas dasar pengetahuan. Hujjatin wadihah, alasan yang kuat, kenapa saya mau, punya alasan yang kuat. Paham fikrahnya, paham manhajnya, paham harakahnya, dan berdasarkan keyakinan, berdasarkan hati nurani, itu namanya basyirah. Bukan sekadar bisyarah," jelasnya.
Kiai Ma'ruf menilai pola tersebut perlu diterapkan terutama kepada jajaran pengurus NU, mulai dari tingkat PBNU hingga ranting. Ia menekankan pentingnya membangun kualitas pengurus yang memiliki pemahaman kuat terhadap nilai dan gerakan NU.
"Jadi bagaimana kita membangun ber-NU ke depan, NU yang seperti itu, NU yang berkualitas," tegasnya.
Karena itu, Kiai Ma'ruf kembali menekankan pentingnya al-islah wal-islah atau dua fungsi islah, yakni menyatukan sekaligus memperbaiki gerakan NU.
"Kalau tidak, akan membawa pengaruh NU stagnan seperti yang terjadi sekarang. Kan stagnan," katanya.
Kepemimpinan NU Harus Mampu Jalankan Al-Islah wal-Islah
Sebelumnya, Kiai Ma'ruf menilai kepemimpinan NU yang ideal harus mampu menjalankan fungsi al-islah wal-islah. Islah pertama, katanya, berfungsi mendamaikan berbagai pihak yang berselisih dan menyatukan seluruh potensi NU.
"Islah yang pertama itu menyatukan semua potensi. Harus mampu itu, bukan memecah belah, tapi menyatukan, islah," katanya.
Kiai Ma'ruf menjelaskan bahwa fungsi islah kedua adalah melakukan perbaikan terhadap gerakan NU agar tetap sesuai dengan fikrah dan manhaj NU. Ia menilai gerakan NU harus berlandaskan nilai dan pemikiran NU.
"Supaya itu sesuai. Kalau gerakannya itu berdasarkan fikrah si fulan, namanya fikrah fulaniyyah, manhaj fulan, harakahnya harakah fulaniyyah, bukan harakah nahdliyah," terangnya.
Terpopuler
1
PWNU Jateng Deklarasikan Muktamar Ke-35 NU yang Jujur, Bersih, Terbuka, Beradab
2
Data Terbaru Gempa NTT: 78 Meninggal Dunia, 907 Luka-Luka, 92 Ribu Warga Mengungsi, 4.256 Gempa Susulan
3
Karhutla Ancam Kalimantan, Pantauan Satelit BNPB Temukan 1.487 Titik Panas
4
Data Terkini Gempa NTT: 87 Meninggal Dunia, 1.298 Luka-Luka, dan 150 Ribu Warga Mengungsi
5
Khidmah NU di Akar Rumput: Ketangguhan Keluarga menuju Indonesia Emas
6
PBNU Perluas Kolaborasi untuk Transformasi Pesantren
Terkini
Lihat Semua