Mengapa Rezeki Terasa Sempit Padahal Sudah Bekerja Keras?
NU Online · Senin, 24 Agustus 2026 | 15:00 WIB
M. Ryan Romadhon
Kolumnis
Pernahkah kita merasa sudah bekerja keras setiap hari, tetapi kondisi keuangan seolah tidak banyak berubah? Sementara itu, ada orang lain yang terlihat lebih santai, tetapi rezekinya tampak lebih lapang.
Kondisi semacam ini kadang membuat kita bertanya-tanya, apakah kerja keras saja belum cukup untuk mendatangkan kesejahteraan?
Dalam Islam, rezeki tidak hanya berkaitan dengan banyaknya tenaga yang dikeluarkan. Ada pula persoalan keberkahan, cara memperoleh harta, cara memandang nikmat, serta kemampuan menjaga kesehatan jasmani dan batin.
1. Mengabaikan Keberkahan dalam Mencari Rezeki
Bekerja keras tetap harus disertai dengan cara yang benar. Harta yang diperoleh dengan mengabaikan nilai agama, kejujuran, dan tanggung jawab tidak selalu menghadirkan ketenteraman.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumuddin mengingatkan agar kesibukan mencari penghidupan tidak membuat seseorang melupakan kehidupan akhirat:
ولا يَنْبَغِي لِلتَّاجِرِ أَنْ يَشْغَلَهُ مَعَاشُهُ عَنْ مَعَادِهِ فَيَكُونَ عُمْرُهُ ضَائِعًا وَصَفْقَتُهُ خَاسِرَةً وَمَا يَفُوتُهُ مِنَ الرِّبْحِ فِي الْآخِرَةِ لَا يَفِي بِهِ ما ينال في الدنيا فيكون اشْتَرَى الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ بَلِ الْعَاقِلُ يَنْبَغِي أَنْ يُشْفِقَ عَلَى نَفْسِهِ وَشَفَقَتُهُ عَلَى نَفْسِهِ يحفظ رَأْسِ مَالِهِ وَرَأْسُ مَالِهِ دِينُهُ وَتِجَارَتُهُ فِيهِ
Artinya: “Ketahuilah, dalam usaha manusia mencari rezeki, berniaga, dan mencari penghidupan di alam dunia ini, tidak sepantasnya seseorang melupakan urusan agama dan kepentingan akhiratnya, serta tujuannya yang hakiki dalam hidup.
Janganlah usaha mencari rezeki menjadikan seseorang lupa akan kepentingan akhirat, sehingga terlena dengan keuntungan duniawi semata. Kemudian, menjadikan terpaku pada urusan dunia, sehingga termasuk kelompok orang yang menggadaikan kehidupan akhirat demi menggapai kenikmatan duniawi yang semu.
Baca Juga
Resep Raih Rezeki Banyak
Namun, kebalikan dari itu, orang-orang yang shalih dan bijaksana adalah mereka yang selalu memelihara modal utama yang telah Allah Swt. berikan, yaitu tuntunan agama Islam, juga perkara-perkara yang berkaitan dengan kepentingan akhirat mereka.” (Imam al-Ghazali, Ihya' 'Ulumuddin, [Beirut, Darul Ma’rifah: tt], jilid. II, hlm. 83)
Pesan Al-Ghazali menunjukkan bahwa keberhasilan mencari rezeki tidak cukup diukur dari jumlah harta. Cara mendapatkannya dan kemampuan menjaga nilai agama juga menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
2. Terlalu Sempit Memahami Rezeki
Rezeki sering kali hanya dipahami sebagai uang dan harta. Akibatnya, ketika penghasilan tidak bertambah, seseorang mudah merasa hidupnya serba kurang. Padahal, kesehatan, ilmu, keluarga, ketenangan, dan berbagai nikmat lainnya juga merupakan bagian dari rezeki.
Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi menjelaskan:
المَالُ هُوَ أَدْنَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ. وَالعَافِيَةُ أَعْلَى دَرَجَاتِ الرِّزْقِ. وَصَلَاحُ الأَبْنَاءِ أَفْضَلُ أَنْوَاعِ الرِّزْقِ. وَرِضَا رَبِّ العَالَمِينَ فَهُوَ تَمَامُ الرِّزْقِ
Artinya: “Harta adalah rezeki paling rendah, kesehatan adalah rezeki paling tinggi, anak saleh adalah rezeki paling utama, dan ridha Allah adalah rezeki yang paling sempurna.”
Lebih jauh, beliau menjelaskan hakikat rezeki:
والناس قد يقصرون كلمة الرزق على شئ واحد يشغل بالهم دائماً وهو المال لهؤلاء الناس نقول .. لا .. إن الرزق هو ما به يتم الانتفاع .. العلم رزق، والخلق رزق، والجاه رزق ..
Artinya: “Manusia sering kali menyempitkan makna kata 'rezeki' pada satu hal saja yang selalu menyita pikiran mereka, yaitu harta. Kepada orang-orang ini kita katakan: tidak! Sesungguhnya rezeki adalah segala sesuatu yang memberikan kemanfaatan (bermanfaat secara nyata). Oleh karena itu, ilmu adalah rezeki, akhlak mulia adalah rezeki, kedudukan/kehormatan juga adalah rezeki..” (Syekh Sya’rawi, Tilka Hiyal Arzaq, [Iskandariyyah, Darun Nadwa: tt], hal. 41).
Karena itu, rasa sempit kadang bukan semata-mata karena sedikitnya rezeki, melainkan karena kita hanya melihat rezeki dalam bentuk materi. Kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain, terutama melalui media sosial, juga dapat membuat nikmat yang telah dimiliki terasa kecil.
3. Bekerja Keras tetapi Mengabaikan Kesehatan
Bekerja tanpa cukup istirahat, makan tidak teratur, dan membiarkan stres menumpuk bukanlah cara bekerja yang sehat. Jika tubuh akhirnya sakit, hasil kerja yang dikumpulkan bisa habis untuk memulihkan kesehatan.
Imam Al-Ghazali juga mengingatkan agar seseorang tidak terlalu berlebihan dalam mengejar perdagangan dan keuntungan:
الْخَامِسُ أَنْ لَا يَكُونَ شَدِيدَ الْحِرْصِ عَلَى السُّوقِ وَالتِّجَارَةِ وَذَلِكَ بِأَنْ يَكُونَ أَوَّلَ دَاخِلٍ وآخر خارج وبأن يركب البحر في التجارة فهما مكروهان
Artinya: “(Etika Mencari Nafkah dan Perdagangan) yang Kelima: Hendaklah ia tidak sangat ambisius/rakus terhadap pasar dan perdagangan. Hal itu (diterapkan) dengan cara: tidak menjadi orang yang paling pertama masuk pasar dan yang paling terakhir keluar dari pasar, dan tidak mengarungi lautan hanya demi melakukan perdagangan. Hal ini karena kedua hal tersebut hukumnya adalah makruh.” (Ihya' 'Ulumuddin, jilid. II, hlm. 86)
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa mencari nafkah tetap memiliki batas. Kerja keras jangan sampai membuat seseorang kehilangan kesehatan, ketenangan, dan keseimbangan hidup.
Walhasil, rezeki yang terasa sempit tidak selalu berarti seseorang kurang bekerja keras. Kita juga perlu melihat cara memperoleh harta, cara mensyukuri nikmat, serta bagaimana menjaga kesehatan dan ketenangan jiwa.
Rezeki tidak hanya berupa banyaknya uang yang dikumpulkan. Kesehatan, ilmu, keluarga, ketenteraman, dan keberkahan hidup juga merupakan rezeki yang patut disyukuri. Wallahu a’lam.
Ustadz Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.
Terpopuler
1
PWNU Jateng Deklarasikan Muktamar Ke-35 NU yang Jujur, Bersih, Terbuka, Beradab
2
Data Terbaru Gempa NTT: 78 Meninggal Dunia, 907 Luka-Luka, 92 Ribu Warga Mengungsi, 4.256 Gempa Susulan
3
Karhutla Ancam Kalimantan, Pantauan Satelit BNPB Temukan 1.487 Titik Panas
4
Data Terkini Gempa NTT: 87 Meninggal Dunia, 1.298 Luka-Luka, dan 150 Ribu Warga Mengungsi
5
Khidmah NU di Akar Rumput: Ketangguhan Keluarga menuju Indonesia Emas
6
PBNU Perluas Kolaborasi untuk Transformasi Pesantren
Terkini
Lihat Semua