Komunikasi Keluarga Rapuh: Hanya 20 Persen Anak Nyaman Curhat ke Orang Tua
NU Online ยท Rabu, 22 Juli 2026 | 13:00 WIB
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi dalam konferensi pers Hari Anak Nasional di Jakarta, Selasa (21/7/2026). (NU Online/Jannah)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyoroti masih lemahnya komunikasi antara anak dan orang tua. Kondisi tersebut dinilai menjadi persoalan serius karena sebagian besar anak justru lebih memilih menceritakan masalahnya kepada teman sebaya dibandingkan kepada keluarga.
Ia menegaskan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
โKami melihat di sini bahwa dalam rangka Hari Anak ini kita ingin menumbuhkan, membangun kembali kesadaran dari seluruh elemen masyarakat bahwa kita punya tanggung jawab bersama untuk pemenuhan hak anak dan melakukan perlindungan terhadap anak. Sehingga anak ini butuh untuk didengar,โ ucapnya dalam konferensi pers memperingati Hari Anak Nasional di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Arifah mengungkapkan dalam Forum Anak Jawa Tengah pernah melakukan survei terhadap anak-anak seusia mereka. Dalam kurun waktu 10 hari, survei tersebut diikuti lebih dari 20 ribu anak di Jawa Tengah. Salah satu pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan tempat anak mencurahkan persoalan yang mereka hadapi.
Ia menyampaikan bahwa hasilnya menunjukkan kenyataan yang memprihatinkan. Hanya 20 persen responden mengaku memilih orang tua sebagai tempat bercerita, sedangkan 80 persen lainnya lebih nyaman mencurahkan masalah kepada teman.
โAda satu pertanyaan yang sangat menggelitik ketika mereka ada satu pertanyaan begini, kalau kalian ada masalah, curhatnya ke siapa? 20 persen mereka curhatnya kepada orang tua, 80 persen mereka curhatnya kepada teman,โ ujarnya.
Arifah menyampaikan bahwa temuan tersebut menjadi alarm bagi keluarga Indonesia. Sebab, teman sebaya belum tentu mampu memberikan solusi yang tepat ketika anak menghadapi persoalan. Karena itu, ia mempertanyakan penyebab rumah belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman bagi anak untuk didengar.
"Ketika hanya 20 persen mereka curhat kepada orang tua, ada pertanyaan besar di hati saya, ada apa dengan keluarga mereka, ada apa dengan rumah mereka sehingga mereka tidak bisa curhat atau tidak punya waktu kesempatan untuk curhat kepada orang tuanya? Sehingga dia curhat kepada temannya. Nah, ini yang mungkin menjadi perhatian kita bersama,โ tuturnya.
Ia berharap momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bagi para orang tua untuk menghadirkan komunikasi yang lebih hangat. Dengan begitu, rumah tidak sekadar menjadi tempat tinggal, melainkan ruang yang aman bagi anak untuk memperoleh dukungan, dan menemukan solusi atas persoalan yang mereka hadapi.
Terpopuler
1
Ketum PBNU Terima Kunjungan Menkeu Purbaya, Bahas Sejumlah Investasi Bisnis dan Program Kemasyarakatan
2
Maju sebagai Calon Ketum PBNU, KH Zulfa Mustofa: Pengurus NU Harus Faqih dan Peka terhadap Kebutuhan Umat
3
Khutbah Jumat: Bulan Safar, Momentum Penguatan Iman pada Qada dan Qadar
4
Akui Dapat Banyak Kritik, Presiden Prabowo Heran MBG Disebut Pemborosan
5
Siap Tampung 3 Ribu Lebih Peserta, Berikut 6 Lokasi Penginapan Muktamar Ke-35 NU
6
Pendukung Spanyol Kibarkan Bendera Palestina Sepanjang Turnamen Piala Dunia 2026
Terkini
Lihat Semua