LAZISNU PBNU dan Mitra Internasional Kolaborasi Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana di Beberapa Titik
NU Online · Selasa, 28 Juli 2026 | 21:30 WIB
Direktur Eksekutif LAZISNU PBNU Riri Khariroh pada Pelatihan Manajemen Bencana di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2026). (Foto: TVNU/Junaedi)
Suci Amaliyah
Kontributor
Jakarta, NU Online
NU Care-LAZISNU PBNU menggelar Pelatihan Manajemen Bencana di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2026). Kegiatan yang diikuti 65 peserta dari berbagai lembaga dan badan otonom (Banom) Nahdlatul Ulama ini bertujuan memperkuat kapasitas relawan dalam penanganan kedaruratan dan kebencanaan.
Pelatihan tersebut merupakan hasil kolaborasi NU Care-LAZISNU PBNU bersama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PBNU, Lakpesdam PBNU, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia).
Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU PBNU Riri Khariroh menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang 2025, tercatat sekitar 3.000 kejadian bencana yang didominasi banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan, tanah longsor, gempa bumi, hingga tsunami.
"Tentu saja, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, kami tidak bisa hanya berdiam diri tanpa melakukan apa pun untuk membantu masyarakat yang terdampak oleh bencana-bencana tersebut," ujarnya.
Riri menjelaskan, di bawah koordinasi NU Peduli, relawan NU selama ini bergerak cepat dalam penanganan bencana, mulai dari respons darurat, rehabilitasi, hingga pemulihan pascabencana.
Selain itu, NU juga memberikan layanan trauma healing bagi anak-anak, perempuan, dan lanjut usia melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga di lingkungan NU.
Ia mencontohkan, NU Peduli hingga kini masih mendampingi masyarakat terdampak banjir besar di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra. Pendampingan tersebut mencakup pembangunan kembali sekolah, madrasah, musala, serta berbagai fasilitas umum yang rusak akibat banjir.
Menurutnya, penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan organisasi keagamaan.
Meski telah aktif melakukan berbagai aksi kemanusiaan, Riri mengakui masih banyak relawan NU yang belum memperoleh pelatihan kebencanaan secara formal. Karena itu, pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi relawan dalam menghadapi situasi darurat secara lebih profesional.
"Anda sekalian, 65 orang terpilih dari berbagai badan otonom NU, sangat beruntung karena akan dilatih langsung oleh para ahli dari Shenzhen Rescue Volunteers Federation, salah satu tim penyelamat terbaik di dunia," katanya.
Ia menambahkan, pelatihan tidak hanya berlangsung di Jakarta, tetapi juga akan berlanjut di Unusia, Karawang, Tangerang, dan Yogyakarta sebagai wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan, bagi Nahdlatul Ulama, penanganan bencana sesungguhnya telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Selama ini, NU terus berupaya meningkatkan kehadiran dalam setiap situasi bencana dan kesulitan yang dihadapi masyarakat Indonesia.
"Kami memiliki relawan yang jumlahnya sangat banyak di kalangan kader NU. Sesungguhnya tidak terlalu sulit bagi kami untuk menggerakkan kader-kader tersebut merespons berbagai kebutuhan di seluruh penjuru negeri," kata Gus Yahya.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi saat ini adalah meningkatkan kapasitas para relawan agar mampu menjalankan tugas mereka dengan lebih baik.
"Karena itu, saya merasa sangat terdorong setelah mendengarkan pemaparan dari mitra kami, Chinese Charity Federation, dan Sany Foundation. Mereka ternyata memiliki prinsip dan nilai yang sama dengan yang kami miliki. Kami berbagi visi yang sama, yakni menggerakkan masyarakat untuk saling membantu," tegasnya.
Gus Yahya menilai kolaborasi antara Nahdlatul Ulama dan para mitra internasional merupakan inisiatif yang sangat strategis.
"Dengan kerja sama ini, berbagai upaya kami dalam merespons bencana, kesulitan, dan kebutuhan masyarakat akan menjadi lebih efektif, lebih bermakna, dan memiliki kualitas yang lebih baik," jelasnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center for Sino Nusantara Studies (CSNS) Ahmad Suaedy menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menginisiasi kolaborasi tersebut. Menurutnya, sinergi antarlembaga perlu terus diperluas agar mampu memperkuat kapasitas penanganan bencana di Indonesia.
"Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih. Saya menyambut gembira atas kerja sama ini. Kami berharap ke depan kita dapat bekerja sama lebih lanjut," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Karena itu, upaya penanggulangan tidak hanya berfokus pada respons saat bencana terjadi, tetapi juga pada peningkatan kesiapsiagaan dan penguatan riset kebencanaan.
"Indonesia adalah salah satu negara yang banyak sekali terjadi bencana. Saya kira bukan hanya soal penanganan bencana, tetapi juga bagaimana mempersiapkan serta melakukan penelitian tentang berbagai bencana yang terjadi," katanya.
Terpopuler
1
Rais 'Aam PBNU KH Miftachul Akhyar Kunjungi Tambakberas, Cek Persiapan Muktamar Ke-35 NU
2
Organisasi Pers Desak Prabowo Minta Maaf atas Pernyataan 'Londo Ireng' yang Dikaitkan dengan Wartawan
3
Hukum Memakan Gaji Buta
4
Presiden Prabowo Subianto Dijadwalkan Buka Muktamar Ke-35 NU di Pesantren Tambakberas
5
MUI Dorong Zakat Jadi Pengurang Pajak Guna Memberikan Insentif Lebih Adil
6
Besok Sunnah Puasa Ayyamul Bidh Safar 1448 H, Pahalanya Setara Puasa Setahun
Terkini
Lihat Semua